Tampilkan postingan dengan label Backpacking. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Backpacking. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Agustus 2015

Satu yang terlewat: Welcome to Penang!

Welcome aboard!

Been long I never to write something that it called "journey". Ceileh...bahasa gue?

Mari bercerita!
Berlibur menurut gue sih gak mesti ribet, apalagi punya hari libur yang cukup panjang bagi seorang karyawan kantoran yang belim boleh cuti. Waktu itu gak sengaja gue langsung memutuskan buat pergi ke Penang. Singkatnya, pas jaman kuliah travelling 3 negara Thailand-Malaysia-Singapura destinasi ke Pulau Penang dilewati, jadilah baru kesampaian ke sana. Shallow minded, ya?

Let me bring you out there 

Liburan ke Penang nampaknya menyenangkan, apalagi pas tau ada bus gratisan keliling kota? Siapa yang gak mau coba? Low budget banget menurut gue. Gak perlu banyak ngeluarin ongkos. Malah, saking difasilitasi begitu gue makin 'mboh' mau ke wisata yang mana dan leyeh-leyeh aja gitu di hostel. Biarpun gue udah browsing-browsing di internet.


Welcome to Penang!

Kebiasaan yang gue lakuin, begitu turun dari pesawat/kereta/bus gue langsung cari map di bandara Penang. Jelaslah tujuan gue akan ke mana dan sebagai petunjuk arah selama di sana. Karena emang gue gak berniat beli sim card provider Malaysia untuk buka map app lewat smartphone. 

Sempat gue beberapa lama kebingungan  mencari dan menunggu bus tujuan ke hostel yang berada di George Town. Untung di halte bandara ada petugas yang bisa memberikan info. it made easier, tho. 

Beberapa teman bertanya," ke Malaysia (Penang) sama siapa, Nu?"

Gue jawab, "sendiri"

"Mau jadi TKI, lo? Berani amat!"

"Wes byasaa" jawabnya cuma dalam hati, sih. Sambil senyumin aja.

Iya, gue sendiri ke sana dan gue masih hidup, belum jadi bangkai. 

Dear solo traveler, be tough!
Habisan, suka KZL kalau emang niatnya jalan sendiri tapi merekanya begitu, kan ketahuan kurang pikniknya mereka. 

Ternyata, dari bandara ke Komtar for Short, actually. But it is Komplek Tun Abdul Razak. Terminal gitu, deh. Hampir 2 jam menempuh perjalanannya. Untung kebagian tempat duduk di bus, kalau gak, kaki gue pasti bakal tegang terangsang. :))

Ternyata hostel gue gak begitu jauh dari Komtar, sayangnya usaha keras nyarinya.  Ini kali pertamanya gue booking penginepan lewat fasilitas mobile application agoda.com, it was simply to book and I choose "Kimberley House" to stay. Gue milih itu karena rating dan reputasinya. 

Let take a rest instead of hanging around in a rush! 

Selasa, 21 April 2015

The Journey to The East of Java: Help my Elf!

How to tell your mother if I am Alive? I am survivor!

Sebenarnya gue bilang gitu, iseng. Tetapi dalam setiap perjalanan, ada dong yang namanya 'pertahanan' tentang bertahan hidup? Sama halnya menjaga agar alam Indonesia itu tetap begitu adanya.

Gue sebagai anak kantoran, ngerasa jalan-jalan adalah dopping biar gak mampus. Banyak mereka yang jenuh dengan pekerjaannya, trus monotony lag hidupnya. Banyak dari mereka juga how to enjoy their own life. Keluarga, Teman atau Pasangan yang bisa hidup mereka stabil. Kestabilan gue, adalah jalan-jalan. Meski cuma disekitaran 'kampung' doang, maklum karyawan. 

Dimulai lagi, yuk....
Paling suka liat daerah-daerah di Jawa Timur. Selain daerahnya gak terlalu padat, potensi wisatanya juga cakep. Eh, apa gue doang yang bilang gini karena kurang piknik?

Karena jaman kuliah pernah sekali lewat Banyuwangi tepatnya TMP Baluran, apalagi di media-media mainstream banyak yang mengulasnya. Gue jadi tertarik. Kebetulan juga paket wisata yang gue ambil, udah termasuk Baluran. Makin bergairah aja dong gue?

Menariknya TMP Baluran ini karena ada satwa liarnya, banteng, kera, bahkan rusa. Sayangnya, kalau ingin mengambil fotonya, kita harus sedikit usaha lebih untuk mengambilnya dari jarak dekar atau punya kamera dengan lensa jarak jauh. 

Bayangkan jika berada di sana? Luasnya berkali-kali lipat dari lapang bola. Bahkan lebih luas dari bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. Sebagai traveler pemula, apa salahnya mencoba berfoto ria di antara luasnya padang rumput di ujung timur Jawa ini. 

Nggak cuma rombongan open trip rombongan gue aja, ternyata di sana juga ada beberapa rombongan lain yang sama-sama asik berfoto. Padahal, kalau ada rencana ke sana lagi, feel adventure yang keren itu pakai jeep. Sayangnya, rombongan gue pakai elf pariwisata. Kesan adventure bareng rombongannya emang nggak ada, tertinggal hanya fun-nya saja. 

Ngomong-ngomong tentang elf pariwisata ini, ada lagi hal yang tidak terduga. Namanya juga manusia hanya punya rencana, Tuhan yang menentukan. Iya nggak, sik?

Selepas pergi dari padang savana nan luas, sekitar pukul 17.00. Memasuki kawasan perdu tanpa adanya cahaya lampu penerangan, jelaslah! Namanya juga di alas. Dengan kecepatan mobil  yang lambat, semakin meninggi juga  bulan purnama dan gelap. Hanya sesekali kendaraan yang lewat juga melintas untuk pergi pulang. Tiba-tiba elf yang kami tumpangi membentur batu di bagian bawahnya. Dalam hati "semoga nggak seperti yang sebelumnya ini elf jadi mogok". Lagi-lagi bermasalah dengan kendaraan kami. Di antara kegelapan malam, nggak ada lampu, bahkan sinyal provider pun nggak ada. Pasrah! Jam menunjukkan pukul 7an malam itu. Gila kan elf gue? Jalannya sampai 2 jam, itupun belum sampe depan pos TMP Baluran. Beruntungnya, elf saat itu kembali normal, meski berjalan semakin pelan karena harus berhati-hati. Ketimbang bermalam di hutan? Bakal ada acara sinetron ala-ala MASALEMBO. 

Sebenarnya estimasi pada waktu itu, kami sudah sampai pukul 21.00 di guest house wilayah Taman Nasional Meru Betiri. Kenyataannya, pukul 9an malam, kami baru sampai pos TMP Baluran dan...ganti elf pariwisata.

Jadi, pertanyaannya.
1. Pukul berapa gue sampai Guest House?
2. Apa yang gue renungkan?
3. Berapa orang yang sudah makan malam?
4. Sudah lelah dengan pertanyaan di atas? Apalagi gue yang jalaninnya? 


Kita lanjutkan besok.... 😂😂😎
Pasti lebih seru!

Minggu, 12 April 2015

The journey begin to East of Java


Gue duduk di shift ke tiga atau lebih tepatnya barusan kedua dari belakang di dekat jendela. Di samping gue berkenalan dengan Ririn dan Rizkha, dua cewek dari Bandung berdarah jawa. Berbagi cerita. Awalnya, dalam perjalanan tersebut semua nggak banyak bicara. Sempat tertidur selepas dari Bandara Juanda sebelum ke berhentian di rumah makan.

Hampir 30 menit kami makan sambil bercakap-cakap. Kalau gue malah lebih sering main ke toiletnya, maklum belum mandi. Hehe... Di kamar mandi pun cuma membasahi muka saja, jorok banget, ya?

Sekitar pukul 10.00 kami melanjutkan perjalanan, saat itu memang hari Jumat, tapi karena kita musafir, nggak jumatan, deh.

Time flies thru our trip, selain itu juga  pantat mulai pegal karena kelamaan duduk. Ada serunya duduk samping jendela, bisa lihat-lihat kota yang kami lalui di Jawa Timur. Ternyata, masih sepi-sepi, lho. 

Jam 12.00 siang, kami ber-empatbelas istirahat lagi di daerah Rest Area yang cukup besar, tidak hanya resto dan cafe, tempat ini pun terdapat SPBU, masjid dan toilet yang cukup bersih. Oh, iya, ada minimart juga. Daerah ini masih di Kabupaten Situbondo, dan a lot of people just taking a rest here. 

TAK ADA GADING YANG TAK RETAK
Mungkin ini bisa dibilang hambatan bagi kami dan penyelenggara. Mobil yang kami tumpangi terkendala dengan kampas kopling di jalan raya Banyuwangi-Situbondo. Dengan menunggu berjam-jam di Masjid terdekat, akhirnya Fafa menyesuaikan jadwal kembali. Fyi, TMP Baluran tutup pada pukul 16.00, dan seharusnya kami dijadwalkan ke sana pada hari pertama.
Sempat gue mengabadikan momen ini, keliatan, kan, bete-betenya kami? Hampir 4 jam kami menunggu sebelum elf lainnya menjemput kami. 

Karena hal tersebut, kami langsung dibawa ke penginapan, yang nggak kebayang pusingnya itu, Fafa. Harus 2x atau mungkin 3x putar otaknya. Bagi gue, salut sama dia. Sebelumnya sempat dia bilang bahwa nggak pernah kejadian seperti ini.

Sing penting nanti malam, bangun Jam 00.00 untuk ke destinasi Kawah Ijen. Apalagi udah ketemu kasur! Woho....

BANYUWANGI, 4 APRIL 2015, 00.00 MALAM.
Apa yang elo lakuin setelah melihat air minum, di saat elo kehausan? Jawab simpelnya, minum. Begitu juga kami, yang capek kelelahan, unpacked, take a shower and got some sleep, but it was...wrong! Saking excited atau capek, gue kaga bisa tidur. Ya, tidur ayam aja, deh.

Justru saat gue bener-bener terlelap, eh, malah dibangunin si Fafa, kan, kampret! Yang ada pala barbie pusing, dong. Halah...nggak juga, sih, gue masih banyak enerji untuk menuju Ijen. 

Pukul 00.30 kami semua sudah berkunpul di Parkiran hotel, sesaat mobil jemputan pun tiba untuk membawa kami ke Ijeeeeeen. 

Pikir gue, gue bisa tidur dulu di mobil, kata si Fafa, menuju Ijen dari penginapan sekitar 2 jam perjalanan, see?

Kenyataannya: mata gue melek sepanjang perjalanan!

Eh, even mata gue melek, gue kadang nikmatin dari dalam kaca mobil suasana kota Banyuwangi dan sekitarnya. Memang sepi dan gelap, sih, tapi di saat itulah, masih ada manusia-manusia yang ingin menjajal adrenalinnya mendaki Gunung Ijen, banyak pengendara roda dua dan empat yang berbarengan menuju ke sana dengan kami. Tidak lama dari pusat kota, gue udah mencium bau belerang yang kuat dari dalam mobil. Ijen, gue dateng!

Karena kaca mobil supir dibuka, selain bau belerang yang kuat, udara dingin mulai menerpa. Kami semakin excited dan niat gue buat tidur di perjalanan, gagal. Tepat pukul 2.30 kami sampai di pos Paltuding 
Segera kami turun dari mobil dengan mempersiapkan peralatan yang akan dibawa beserta baji hangat. Ternyata, memang banyak para wisatawan yang telah menunggu di sana untuk mendaki dan melihat kawah Ijen. Layaknya pasar, pos Paltuding pun ramai. Fafa, bergegas untuk mendaftarkan kami semua dan kami menunggu sebelum Fafa kembali dan menginstruksikan untuk mulai mendaki.

Saat itu jam menunjukan pukul 2.50, gue mencari toilet, karena kebelet pipis, maklum, gara-gara udara dingin, jadi si dedek 'keringetan' hehe... Sayangnya, toilet penuh, jadi gue mengurungkan niat.  Semua berkumpul dan berdoa, buat keselamatan kami semua. 

IJEN VS BROMO
Di tahun 2009, pertama gue cinta jalan-jalan dengan tujuan ke Bromo. Emang gunung Bromo namanya, saking pendeknya, si Bromo pun ada anak tangganya sampai puncak sana. Kalau kata temen gue, itu "gunung-gunungan", nggak berasa mendakinya, yang ada wisata aja, tapi ternyata maksud dari dibuatnya anak tangga menuju puncaknya itu, karena di sana memang sebagai acara upacara adat warga desa Tengger, yang notabene udah sepuh.

Terus, kalau ijen gimana?

Usaha dulu, dong. Enak aja maen bikin anak tangga, maen aja ular tangga, gih. Hehe... Meskipun jalur pendakiannya masih terbilang manusiawi, sih. Semanusiawinya jalur pendakian menuju puncak, seenggaknya ada yang saling menjaga. Gue sering banget denger cerita dari temen-temen yang memang pecinta alam, bahwa di gunung itu harus bisa mengendalikan ego. Banyak orang keluar sifat aslinya kalau diajak mendaki, lho. Gue cuma bisa meng-iya-kan saja, tapi faktanya emang begitu. Mau diapain lagi, coba?

Manusiawinya begini, jalannya lebar, kira-kira 2-3 rentangan tangan orang dewasa, dengan medan yang lembab-kering, dan kemiringan hingga 10-20 drajad.

Namanya juga gunung, semakin tinggi, semakin menipis pula cadangan oksigennya. Alias bikin engap. Apalagi bau belerangnya yang pekat. Saat itu, gue, Ayu dan Ifa menjadi yang paling belakang di antara temen-temen yang lain. Karena melihat banyak juga turis-turis domestik dan mancanegara yang sesekali beristirahat di tengah perjalanan, kadang gue nyeletuk dan berseru "pucuk...pucuk...pucuk..." Kali aja membakar semangat yang lain biar tetap semangat menuju puncak. Sayang, kan, udah mendaki capek-capek dan bangun tengah malam, nggak bisa liat blue fire-nya. 

Semakin atas, jalan semakin menyempit, mungkin cukup dilalui 2 orang saja. Dengan penerangan seadanya, gue dan yang lainnya mencoba mengejar waktu, karen pada saat itu medan yang kami lalui sudah landai. Tepat pukul 4.30, gue udah ada di puncak gunung ijen dan melihat si api birunya. 
 

Karena kurang puas melihatnya dari kauh, gue menuju kawah. Cukup berat medannya, karena didominasi oleh batuan yang terjal dan besar. Padahal di sana ada papan peringatan untuk dilarang memasuki kawasan kawah. Dengan penutup masker debu yang seadanya, gue makin nekad. Di saat bersamaan matahari telat terbit dan api biru sudah tidak nampak lagi, di sana pun para penambang belerang kembali menuju atas. Hanya beberapa turis bandel yang salah satunya adalah gue. 

Karena nggak mau kehilangan momen, sempetin gue foto-foto di dekat kepulan asap belerang 

Klik...klik...saking asiknya berfoto. Boom...tiba-tiba kepulan asap belerang tebal menuju arah gue. Dalam posisi tertutup masker, gue sesak nafasnya, sakit, ditambah mata gue perih dan arah jalan menuju ke atas, nggak kelihatan, dalam hati, gue nggak mau mati di sini, gue nggak mau mati di sini. Pas gue menemukan pijakan untuk menuju keluar dari kepulan asap belerang, gue terpeleset dari pijakan itu. Beruntungnya, ada seseorang yang membantu gue menjulurkan tangannya. Dalam hati, gue selalu menyebut nama Tuhan dan bilang gue gak mau mati dan nggak mau repotin orang-orang. Akhirnya, gue selamat meski harus terus-terusan batuk. 

Hal bagi gue pelajaran saat itu, jangan mengabaikan papan peringatan. 

Sesampainya di atas, gue langsung minun air putih yang banyak. Sambil menenangkan diri, ada kalanya gue juga berfoto berlatar kawah ijen.

Pukul sekitar pukul 7.20, gue dan rombongan menuju ke pos pendakian Paltuding kembali dan bergegas untuk menuju ke destinasi berikutnya.

To be continued...

Minggu, 12 Oktober 2014

Dalam 5 Jam Perjalan: Piknik Nyelfie dan Seadanya

Mumpung masih seger, seru kayaknya kalau langsung nulis jalan-jalan singkat tadi siang. 

***
Niat jalan jauh ke daerah pegunungan adalah rencana yang selalu wacana dari kemarin-kemarin, bahkan untuk jalan ke Waduk Darma di Kuningan. Kapan, kapan, dan kapan bisa terwujud. Gak ada yang spesial dari lokasi waduk sebenarnya, sih. Kok bisa malah ngebet mau dikunjungi? Alasannya, Cirebon panas. hehe...

Rencana awal emang ada janji sama temen kominutas berkebun mengunjungi sanggar lingkungan hidup, dasarnya gue, malah suka merubah rencana. Waduk Darma, yuk?

Siapa lain dan bukan teman yang gue ajak itu emang doyan juga diajak jalan, sebut saja, cungil. Awalnya emang dia nanya, "kok dadakan, lagi panas nih Cirebon?". Ah, pertanyaannya mudah dijawab dan diiming-imingi kalau diajak jalan. "itu kan Cirebon, kan Kuningan apalagi Waduk Darma pasti adem". Gara-gara itu, dia mau akhirnya. 

Gak jauh memang perjalanan Cirebon-Kuningan-Waduk Darma, berangkat mulai pukul 11.30 dengan kondisi yang amat panas, entahlah Cirebon ini, panasnya sudah gak normal lagi, menuju Kuningan. Emang awal niatnya ke Waduk Darma buat ngadem. Begitu di jalan, tiba-tiba pingin menambah destinasi aja, gitu.

Belum masuk ke kota Kuningan, motor mio gue berubah haluan, lho. kok bisa? emang gue yang bawa, kali. Berbelok ke arah kanan dari jalan utama Cirebon-Kuningan, menuju Linggarjati. Pasti mau ke museum? salah! Karena pernah beberapa kali mengunjungi museum-nya, kami cuma lewat aja. Pingin rasain getting lost. Masuklah ke perkampungan penduduk arah pos penanjakan gunung Ciremai. Lagi, dan lagi kami putar haluan. Gue sebenarnya labil gitu. Karena nggak menemukan apa yang gue cari, kebun kopi. hehe...

Lanjut menuju destinasi utama, masuk kota Kuningan. Hampir satu jam-an dengan lalu lintas jalan utamanya padat-lancar. Take a ride dengan kecepatan yang rata-rata 60-80 km/jam cukuplah untuk mengejar waktu hari ini, karena mengingat besok adalah Senin.

13.30
Memasuki kawasan wisata Waduk Darma, gue sempat kaget dengan jalan yang berubah. Dulu tahun 2008s, jalan besar yang dilewati untuk ke arah Cikijing adalah melewati bibir tanggulnya, jadi sempat menyasar, deh. Tarif masuknya pun 17.000 untuk satu motor dan dua orang. Canggih, mahal kalau menurut gue. Untuk kondisi yang menurut gue 'seadanya', bahkan kalau dibandingkan dengan wisata pantai di Parangtritis gak semahal itu. Show must go on, mending nyesel beli daripada nyesel gak beli, begitu kata orang.

What we did in Waduk Darma?
Lucunya, gue dan Cungil nggak ngapa-ngapain. Ada sih fasilitas wisata berupa jet ski, tapi pas gue lihat, malah motor jet-ski-nya pun ditutupin semacam terpal. Yang masih ada, perahu wisata yang bisa dinikmati para pengunjung. Murah, cuma 10.000 itupun nunggu kuota dulu baru bisa jalan.

Karena kami pengunjung yang 'seadanya' juga, jadi nikmati juga yang sudah sewajarnya. Apa itu? Selfie! hehe...
#selfie hore 1

#selfie hore 2

#selfie hore 3

#selfie hore 3

15.00
Sebelum menuju ke lokasi Waduk Darma, gue liat di jalan papan yang bilang ada curug, padahal kalau sebelumnya itu gak terlewat meliatnya, bisa jadi gue mengunjungi itu dulu. Tapi, akhirnya mengunjunginya juga setelah dari Waduk. Namanya Curug Bangkong. Bahasa Indonesianya Air Terjun Kodok. Unik, kan...?

Masuk dari papan tersebut berkisar 700 m yang sebelumnya melewati perkampungan warga. Tak jauh sesaat, ada papan penunjuk arah berikutnya. Sempet kaget. Lokasinya memasuki persawahan, untunglah si mio ini bisa melaluinya dengan kondisi jalan yang kering, pastinya. Lebih kaget lagi, kami 'ditagih' uang 10.000 dari petugas 'pos'. Gue mengutip pos, karena pos itu bukan pos, cuma gubuk yang beralaskan tanah dengan penjaga teteh-teteh yang cengengesan, nggak resmi. Jadi, seharusnya gue dan cungil bisa protes kalau tau lokasi wisatanya yang...tak terawat!

Menuju lokasi, dengan jalan setapak dan bergelombang dengan hamparan terasering sawah yang hijau, tidak sampai 5 menit, kami menemukan curugnya dan itu bagus!

Arus air terjunnya memang kencang, lagi lagi gue sebel dengan kondisinya yang amburegul alias gak terawat banget nget....

Tapi...lupakan! Mari selfie!!!
#curfie curug selfie 1

#curfie curug selfie 2

#curfie curug selfie 3

#curfie curug selfie 4

Seperti menemukan hidden paradise, seharusnya gue bisa makin seneng dengan lokasi wisatanya, tapi gue penikmat 'seadanya' mungkin diberipun 'seada-adanya' saja.

Tidak lama, kami kembali ke Cirebon dari lokasi-lokasi tersebut pukul 16.30an. Cukup senang dengan piknik yang singkat dengan fasilitas 'seadanya' sehingga gue senyum-senyum sekena-kenanya untuk dimasukan dalam daftar seakan-akan jalan-jalan. 


Jumat, 30 Mei 2014

Malangku di Malang: Belum Berakhir!

Masih Malang di Bulan Oktober 2013

"Lapar!" 
Bukan cuma perut yang protes untuk diisi nasi, tapi juga 'lapar' kepingin jalan-jalan lagi, seharusnya kali ini bisa memilih angkutan yang wajar dalam urusan uang. Ingat! Saya juga di Malang berniat ikut proses seleksi perusahaan bukan sepenuhnya jalan-jalan. Kalau gagal tesnya, baru jalan-jalan, deh! Hail Malang!

Sebagai jobseeking-traveler, sudah seharusnya saya menceritakan kesan jalan-jalannya di manapun saya mengikuti tes daripada  memberikan info tips dan trik tes di perusahaan X atau Z. Kalau mau cari, coba buka di Kaskus lebih komplit ketimbang di sini. Tepatnya masuk ke [Forum] buka [Bisnis] lalu [Dunia kerja & Profesi]. Penuh dengan tanya-jawab beberapa kaskuser tentang beberapa perusahaan di sana. Kalau malas buka, gimana mau dapet rezeki. Rajin-rajinlah kau, kisanak!

Balik ke topik pembicaraan yang harus segera diselesaikan. Tujuannya di sini adalah tes dan tidak banyak waktu untuk berleha-leha, maka dari itu selepas mandi, saya pergi menuju keluar penginapan mencari sarapan. Sayangnya, di sekitar sana nggak ada penjual makanan, namun yang saya temukan adalah semacam toko roti dan makanan kudapan tepat di samping penginapan. Tidak ingin ambil pusing karena takut mati kelaparan, saya membeli satu buah roti bantal, snack Taro, air mineral dan air teh dalam kemasan, dan satu bungkus rokok. 

Waktu terus menghantui saya dan berlari begitu cepat,  saya kembali menuju kamar dan memakan makanan yang saya sudah beli tadi. Beberapa menit kemudian saya sudah siap menjelajah lokasi tes. Karena tes diadakan keesokan harinya, jelaslah saya harus paham lokasinya tersebut. 

"Sep, kalau mau ke Un-Braw dari stasiun naik apa?" Pesan lewat BBM yang saya tanyakan, sambil jalan menyusuri jalan Kahuripan untuk sekedar sightseeing saja. Di sana saya melihat beberapa kafe dan resto yang masih tutup. Mungkin, karena masih pagi juga nampaknya. 

"Kamu udah di Malang, Nu"
"Naik ADL aja, itu nanti turun di belakang UB, kok" 
"Kamu sama siapa ke sana? Ikut tes apa?" Tiga pesan masuk secara berurutan masuk dari teman saya.

"Berapa emangnya tarif angkotnya, Sep?"
"Iya, kita (saya. red) mau tes di deket UB lokasinya"
"Iya, sendiri" Mencirikan bahwa pengguna BBM atau aplikasi obrolan lainnya, selalu membalas dalam tiga atau mungkin lebih pesan yang sangat pendek. Begitu pula saya menjawab Asep ini. Bayangkan jika latah menjawabnya melalui SMS yang selalu dikenakan tarif reguler. Enggak berbeda sih untuk tarif, tapi jaman sekarang sudah sering menggunakan paket data internet untuk berhubungan dengan yang lain, meskipun pulsa kosong. Nah, deh ketahuan saya kalau sering gak punya pulsa. Hehe....

"Paling 3-4ribu"
"Yawes, sukses" 

"Sip, thank, Sep" tutup saya.

Karena mepet, bukan berarti saya puas menjelajah di sekitaran Tugu Malang. Suatu saat, saya kembali lagi ke sini, pasti!

Berjalan sambil mencari angkutan umum berlogo 'ADL' seperti apa kata Asep tersebut nampaknya agak sulit atau memang belum beruntung dapat yang kosong. Saya berhenti di depan korem tentara AD di sana untuk mengawasi angkot yang lewat situ. Satu-dua-hingga-5-menit kok gak nongol-nongol, ya? Terpaksa berjalan lebih jauh, deh. Sial ini angkot.

Itu angkot ADL, kayaknya. Dalam hati berbicara. Benar, ternyata! Mendakati angkot itu dan melihat, wow, kosong! Akhirnya pucuk dicinta angkotpun 'ngetem'. Benar, angkot ini karena baru saya saja yang masuk dan ada di dalamnya, saya menunggu lagi. Kali ini lebih lama dari sebelumnya saya menunggu. Lebih lama daripada menemani cewek berbelanja pakaian, pokoknya. Udah gitu, dandannya lama, pula. Aku harap karena di angkot sendirian, sesekali supirnya curhat gitu kan bisa lebih hangat. Sayangnya, enggak! Hih!

Beberapa menit menunggu jalannya angkot, tapi kok nggak ada orang yang masuk, ya? Hati saya bertanya-tanya. Kayaknya kota di Jawa Timur bikin sial terus setiap kali dikunjungi atau saya yang punya masalah, ya? Tapi, dugaannya benar adanya. Karena belum dapat penumpang lainnya di dalam mobil, tiba-tiba angkot berjalan pelan, pastinya saya berucap syukur, eits...belum bergerak jauh, ada wanita paruh baya dengan perawakan agak gemuk dan berwajah Indonesia bagian timur memberhentikan angkot dengan motornya. Saat itu saya nggak tau percakapan yang berlangsung, tapi rupanya ada tawar-menawar harga. Jreng jreng! Masalah saya apa, ya Tuhan! 

"Mas, mau ke UB, kan?" tanya sopir angkot yang pada saat awal saya masuk dia menganggukan kalau angkot ini akan menuju ke UB

"Iya, mas" Jawab saya dengan kebingungan karena tiba-tiba bertanya kembali dan akhirnya sopir angkot ini memulai pembicaraan dengan saya. Terima kasih, ya Tuhan! Bentar, k-o-k?

"Pindah angkot yang lain aja ya, mas. Soalnya mau disewa" Kata dia

Jawab:
"...oh, oke.." sambil senyum lalu turun dari angkot itu

Kenyataan:
SIALAN! ANJIS. RUGI WAKTU. *^(^(&% ARRRRGH!!!!TUHAN ADA APA DENGAN SAYA?!

Namun pada akhirnya, saya mencari angkot yang sama menuju tempat lokasi tes dengan tanpa disuruh keluar atau dioper.


Malamnya di Malang: Kamar No 9

Kembali pada sore hari setelah kesialan yang menimpa saya dan di kamar inilah saya memulai malam. Masih ingat dalam tulisan sebelumnya, kalau kamar sebelah dari kamar ini adalah kamar yang sangat tidak layak dihuni. Kosong dan nampak banyak jaring laba-laba menggantung di atap-atap kamar. Spooky, though?

Ritual, kali ini ritualnya. Iya. Ritual. Berupa...Makan malam! hehe...

Tenang. Mari kita menghela nafas sebentar apa yang akan terjadi di-samping-kamar-bernomor-9. 


to be continued...

Cetak-Miring-garis-bawah:
Bahasa Cerbon: kita = saya.

Rabu, 28 Mei 2014

Malangku di Malang: Penginapan atau Kandang (?)

"Pak, kita cari lagi penginapan yang lebih murah, deh" Pinta saya ke bapak tukang becak ini sambil keluar dari pelataran halamannya, saya masih mencari penginapan yang kira-kira cocok dengan kantong. Masih ingat saat itu kawasan penginapannya berdekatan dengan kantor walikota Malang. 

Masih berada di atas becak, saya melihat kekaguman dengan kota Malang, bangunan-bangunan kuno yang dipakai untuk Hotel dan melihat bundaran yang di tengahnya ada tugu. Masih hijau, bersih, dan asri. Tunggu. Ini. Benar. Saya. di Malang? tanya saya dalam hati. Strukturnya hampir mirip dengan Tugu Muda di Semarang. Ya sudahlah, saya nikmati saja tata kotanya sambil menunggu si bapak tukang becak ini membawa ke mana lagi untuk mendapatkan penginepan yang saya inginkan.

"Coba yang ini ditanya, mas" si bapak ini menunjukkan salah satu penginepan dan berhenti di deapannya.

"hmm...oke, pak"

Agak ragu melihat kondisi bangunannya, tidak terlihat seperti penginepan, ruko, malah. Turun dari becak, saya masuk ke dalam 'lobi' ala ala. Namanya juga penginepan apa adanya, resepsionispun saat saya ingin beertanya, tidak ada. Tiba-tiba muncul seorang pria dengan perawakan tinggi kurus bercelana pendek, dengan janggut seperti Bams Samson. Yakin, nih penginepannya? Was-wasnya demikian. 

"Gimana, mas?" Tanya si janggut ala Bams Samson ini.

"Di sini per malamnya berapa, ya, mas?" Sambil duduk di depan kursi yang kosong tepat di depan resepsionis.

"Per malamnya 90000, mas" Jawabnya singkat

Karena sudah tidak mau muter-muter lagi mencari penginepan dengan becak dan saat itupun lapar serta lemas. Saya mengiyakan saja. Toh, saya di sini yang penting bisa tidur, gak usah muluk. Jika dibandingkan dengan penginepan di Jogja,  harga segitu sudah termasuk tinggi dengan kondisi yang lebih baik. Lebih baik? Iya. Di Sini saya melihat pemandangan 'lobi' dengan tatanan yang berantakan. Satu aquarium besar dengan air yang sudah menghijau di salah satu sisi pintu dengan satu ikan Arwananya, beberapa sepeda gunung dan satu sepeda low-rider terlihat tidak semestinya berada pada posisi yang baik. 

Setelah deal dengan penawarannya, saya menuju bapak tukang becak itu untuk membayar jasanya. Sambil mengeluarkan uang dari dompet dan memberikan uang 15000 rupiah.

"ini, pak.." dengan menyodorkan uang

"20000, mas" sela si bapak ini

"loh, tadi perjanjiannya katanya 15000, masa nambah?" protes saya dengan heran

"ya, kan tadi sekalian keliling nyari penginepan, tha?"

Kesal dengan si bapak ini, saya tidak mau banyak berdebat, karena memang lelah. Saya berikan tambahan uang 5000 lagi kepadanya. Dengan muka kesal, saya memberikannya dan melipir masuk penginapan tanpa memberikan ucapan terima kasih. Tau gitu, saya ajak keliling-keliling lagi, deh. Lagian, kayaknya deket juga jaraknya dari stasiun sampai penginapan ini. Gumam saya dalam hati.

Karena belum memasukan dompet ke saku celana, saya kembali menuju meja resepsionis untuk melunasi pembayaran langsung untuk satu hari menginap dan memberikan KTP saya sebagai jaminan. Si mas janggut-kurus-berjenggot-ala-Bams Samson ini lalu menyerahkan kunci kamar kepada saya, sebelum menuju ke kamar, si mas tersebut memberikan tips tambahan kepada si bapak tukang becak ini sebesar 10000 rupiah. Anjislah, gak bener itu tukang becak. Kata saya dalam hati.

KAMAR NO 9
Kamar saya berada di lantai 2 di penginapan itu, saya terkejut saat melihat kamar sudah terbuka lebar. Di sana saya menemui ada seorang mas-mas lagi yang berkisar umur 28-an yang sedang membereskan kamar mandi, tepatnya membersihkan dan mengisi bak mandi dalam kamar tersebut.

"Nginep berapa lama, mas?" Pertanyaan sapaan pengenalan dari si mas itu.

"Oh, cuma sehari aja, kok, mas" jawab saya singkat

Karena percakapan ini saya anggap tidak penting, saya tidak melanjutkan dialognya, deh.

Setelah selesai semua dibereskan oleh si mas tersebut, saya masih menerawang kamar ini.
Kamar yang berisi satu tempat tidur ber-type family bed yang tersudut dengan kasurnya berupa...kapuk.
Dua bantal yang sudah...lepek.
Spreinya dengan motif...kembang-kembang.
Satu meja dan satu kursi yang...berkarat
Kipas angin yang...berdebu
Letak tv yang menempel pada dinding dengan bersangga pada besi ternyata nampak benda tersebut terkurung pada...sel
masuklah ke kamar mandi dan masih beralas...tegel
dengan bak yang, saya nggak tega. oke tapi airnya bersih, sih. Cuma baknya nampak terlihat...kotor

Mau bagaimanapun, kalau harganya terbilang murah banget, ya mungkin kondisinya seperti ini. Sudah tidak peduli lagi dengan kondisi kamar, yang penting bisa tidur, mandi, dan mengikuti tes. Saya lalu mengeluarkan isi tas, satu hal yang saya utamakan, ialah mengecas hape. hehe... Sembari merebahkan badan dengan kaki saya sambil merentang-menutup seperti Sinchan yang sedang ngambek, tiba-tiba kaki saya menyenggol tembok yang ternyata...TRIPLEK!

Karena merasa aneh, jangan-jangan hanya saya sendiri yang menginap di sini, saya melihat-lihat ke lorong deretan yang hanya ada 4 kamar, sambil menengok kamar sebelah yang merupakan kamar paling pojok setelah kamar saya, ternyata kamarnya lebih parah dari yang saya tempati dengan gorden yang terbuka atau memang tidak menempel pada penyangganya, dengan kasur single, tanpa adanya tv di dalamnya. Mungkin kamar tersebut memang dalam kondisi yang sangat amat tidak layak dan terawat. Pikir saya, kenapa saya dikasih kamar yang bersebelahan dengan kamar yang kayak gitu, ya?

Sebelahnya, untungnya. Ada beberapa pemuda yang baru check-in juga setelah saya lihat.

Sayangnya, saya tidak mengabadikan penginapan selama saya di Malang, mungkin saya akan memasukkan beberapa foto yang berkaitan dengan cerita ini.

To be continued...

Senin, 26 Mei 2014

Malangku di Malang

Sebenernya, gak berat kok jadi jobseeker, sumpah, yang berat itu kalau nunggu kepastian dipanggil lagi atau kelar sampai di situ. Tapi, selama bisa dinikmati, gak masalah. Ini lagi seneng aja posting perjalan-perjalan yang menarik. Sebenernya banyak yang belum diceritain di sini, tapi nanti kalau masih mampu dan dikasih umur (halah) bakal ditulis, pastinya kalau masih inget juga.

'Ya masa, kalau lupa ditulis, hal apa yang mau diceritakan?'

'Bisa, Nu. Bisa, kamu inget-inget lagi, dong!'

'hmmm.....'

Biar sering jalan-jalan sendiri, tapi ada cerita yang bisa dibagi, gak melulu boring, kok. Sejak berani pergi-pergi sendiri dan dipaksa mandiri, jadilah seperti ini. Ada orang bilang kalau jalan-jalan sendiri itu membosankan. Gak juga. Contohnya saya, hasil jalan-jalannya menarik. Beneran loh....

Semenjak berstatus jobseeker sambil travel, saya mendeklarisikan diri sendiri sebagai jobseeking-traveler, yang intinya gagal jadi karyawan karena nggak lolos tes sana-sini, masih mujur dapet cerita konyol dan pasti teman. Lucunya, lama kelamaan males dan capek juga gak settle. Anggap belum rejekinya.

Malang,  Oktober 2013

di depan stasiun Malang
Entah tanggalnya saya lupa, namun ini adalah kali pertama saya datang mengunjungi kota Malang sendiri tanpa ada teman dan kerabat. Emang dari dulu punya keinginan buat jalan-jalan ke sini atau gak kalau beruntung bisa kerja di Malang, kesampaian juga deh meskipun cuma buat tes kerja dari PT Unilever.

Pagi-pagi sekali saya tiba di stasiun Malang, tanpa pakai itinerary tanpa banyak persiapan dan segala macamnya. Luntang-lantung nggak jelas mengamati stasiun ini, jelek. Dibanding dengan stasiun Cirebon, jauh perbedaannya. Meskipun kondisi stasiun yang begitu-deh, banyak turis domestik dengan tas gunungnya banyak ditemui di sini, semacam di film '5 cm' gitu. Mereka sedang menunggu angkutan yang akan membawanya hingga menuju Taman Nasional Semeru-Tengger.
Pendaki di depan stasiun Malang
Saya masih kebingungan juga pada saat itu, sambil mencari-cari penginepan bermodal gadget dan yang penting murah dan bisa tidur nyenyak. Tanpa panjang lebar saya memilih untuk berkeliling mencarinya dengan becak. Sebelumnya saya ditawari oleh bapak tukang becaknya " Mau pergi ke mana, mas?"

"hm..mau cari penginepan murah, pak. Kira-kira bapak bisa antar saya nggak?"

"oh, bisa, mas. Mau di daerah mana?" Sambil menyiapkan becaknya seraya bertanya kembali.

"Di deket-deket sini aja, pak. Gak usah jauh-jauh dari stasiun" karena memang saya tidak tahu daerahnya, saya mempercayakan kepada bapak tukang becaknya.

"Yaudah, mas. Mari .."

Pergi menggunakan becak ini karena menurut saya bisa sambil berkeliling dan santai. Sebenarnya si bapak tukang becak saat mengayuh berbicara tentang penginapan murah. Sambil tetap mencari juga lewat gadget, saya selalu meng-iya-kan apa yang bapak itu bicarakan. Jahat, ya? hehe...

Jahatnya saya, masih belum tega banget, kalau tahu saya dicurangi sama tukang becaknya, saya bisa lebih jahat. Tetapi karena saya mulai lelah, nanti saya lanjutkan bagian selanjutnya tentang Gairah Hotel Malang.

To be continued....




Minggu, 08 Desember 2013

Serba Serbi Angkutan Umum di Cirebon

Suka bingung kalau saya ada panggilan kerja di Jogja. Selain bingung mau nginep di mana, bingung juga kalau udah gak punya kendaraan di sana, maklum, jaman kuliah dulu andalannya sepeda motor. Tapi si motor terbaik yang telah menemani selama beberapa dekade (halah, lebay) udah dijual. Meski motor ijo (supra x 110cc) pernah berkali-kali saya bawa jauh dengan jarang dirawat mesinnya, tetep yahud. 
Tapi, saya gak akan ngomongin spek motor yang kemarin, tapi sebagai jobseeker yang manja, emang sih. Mau gak mau, kalau ke Jogja minta anter-jemput. Ngerepotin sih memang, tapi, gimana lagi? Di Jogja emang susah angkutan umumnya. Adapun cuma ada beberapa kopata (semacam kopaja) yang kayaknya udah gak layak pakai dan transJogja yang jam operasinya sampai jam 10 malam. Gak heran, kalau akhir-akhir ini juga di Jogja sudah mulai rame dengan kendaraan pribadi apalagi mobil mewah. Semakin lama, Jogja ya kena impact juga.

Berbeda dengan kota kelahiran saya Cirebon, angkot itu bejubel, dari antar kota (namanya juga angkutan kota) sampai antar kabupaten. Ketika jaman sekolah dulu, saya terbiasa memang dengan naik angkutan umum. Bukan karena gak ada motor dan gak bisa bawa motor, tapi emang belum boleh bawa sama orang tua dulu sih....hehe

Gak cuma Jogja, Cirebon yang memiliki angkutan umum pun kini semakin larut dalam beban lalu lintas yang kian padat. Yang jadi pertanyaan, orang Indonesia makin kaya atau kredit kendaraan bermotor makin murah? Entahlah.

Balik lagi, the jobseeker harus punya inisiatif di sela waktu-waktu kosong yang memang membosankan saat gak ada panggilan kerja. Iya kan? Ada informasi yang akan saya beri, sedikit tentang angkutan umum. karena saya di Cirebon domisilinya, jadi saya kasih informasi sedikit, soalnya udah banyak bejibun informasi. Coba aja googling dengan keyword "angkot cirebon" pasti udah lengkap. Nah, di sini mau kasih info juga, kalau ada yang mengunjungi kota ini, tapi bingung ke mana dan naik apa. 

Gak banyak angkutan sebenernya di kota ini, mari saya jabarkan.

Angkot/Angkutan Umum berupa minibus
Angkutan umum di Cirebon rata-rata sama warnanya, biru muda. Namanya juga gak aneh-aneh kayak angkot di Malang. Cukup mudah, dari D1-10 untuk rute kota Cirebon dan berawalan G untuk antar kota-kabupaten dan pastinya rute inipun beda. Yaiyalah....Kalau harga umumnya itupun kalau belum berubah cuma 3000. Murah bukaaaann.....?

Eits, meski ini angkot banyak, tapi gak semua angkot sering kita temui. Umumnya, kalau yang wilayah kota  aja angkot yang suka berseliweran D4, D5, D6, D7 dan D8. Menariknya ada rute yang dilalui sama oleh angkot ini. Saya akan berikan screenshot-nya berikut ini:
titik ungu, coklat, kuning, merah dan  hijau merupakan titik pertemuan angkot D4, D5, D6, D7 dan D8. Tidak hanya angkot yang saya sebutkan, tetapi angkot jalur kota pertemuannya di titik tersebut

Jadi ingat saat di Jakarta, jalaur transit busway berada di Harmoni untuk beberapa rute. Sama halnya dengan itu, maka tidak usah repot dan takut kesasar. Oh iya, untuk angkot D5 dan D6 memiliki rute hampir sama, jadi kalau ingin menuju jalan dr.cipto oke, lebih gampangnya menuju CSB/Grage Mall, ambil saja rute di antara kedua itu. Sedangkan untuk rute ke terminal ambil juga D5, D6, D7, atau D8. Saran saya, untuk yang lebih baiknya turun depan terminal, mending ambil D7 atau D8. Karena kota Cirebon kecil dan tempat wisata dalam kotapun tak banyak, gampang sekali untuk naik kendaraannya. Tapi, kalau masih takut ambil alternatif kedua, yaitu...

Becak
Kendaraan merakyat yang hampir dapat ditemui di mana-mana, terlebih lagi di daerah wisata dengan ciri beroda tiga dengan mesinnya si abangnya sendiri. hehe...Nah, uniknya becak di Cirebon bukan merupakan becak wisata dan ukurannya lebih kecil juga. Berwisata atau pergi ke mana aja dengan becak adalah bawaannya nyantai, iya nyantai alias lama sampai ke tujuannya. hehe....

Kalau ada kalian yang turun di Cirebon pada malam hari dan sudah tidak ada angkot, maka carilah mamang becak, gak usah takut, kalau kalian turun dari stasiun dan menuju kawasan yang masih di kota, atau dari terminal tarif penawaran pertama mintalah 10.000. Syaratnya sudah tau mau ke kawasan kota dan jangan ambil mamang becak yang tua. Yang ada nanti disuruh narik. Oh iya, tawar-menawarnya pakailah bahasa jawa pantura dan tidak disarankan juga sih pakai bahasa Indonesia, yang ada nanti makin mahal. Eh, ini saran aja dari saya, tapi kalau di luar dugaan tarifnya, mungkin kamu gak bisa nawar kayak...saya :D

Ojek
Untuk ojek, jarang saya temui di beberapa tempat. Kecuali, aksesnya sudah tidak dilalui kendaraan angkot. Ojek di sini pun masih masuk akal harganya, kok. Gak mahal-mahal banget, kayak di Jakarta. hehe...Jelaslaaaah.

Meski ada beberapa alternatif kendaraan umum yang ada di Cirebon, lonjakan kendaraan pribadi gak bisa ditahan, jadilah orang Cirebon semakin melonjak-lonjak (krik-krik). Semakin mandiri juga kayaknya masyarakat Indonesia, gak cuma di Cirebon. Makanya, satu mobil satu orang. Lebih mending mana kalau tiap hari ganti-ganti kendaraan? hehe...maksudnya sih, ganti-ganti kendaraan umum. Gak semua dibebankan ke pemerintah juga, cara berpikirnya juga memang harus dirubah. Halah....

Jadi, tunggu apalagi, mampir mene ning Cerbon......

Selasa, 03 Desember 2013

Surabaya Oh Surabaya!

Gila, udah berapa lama ini blog gak diurus sama si empunya? Si empunya lagi mengejar cita-cita menjadi....Superman! Superman dalam arti yang tak sebenarnya tentunya. hehe...Jauh juga sih dari tampang mirip Clark Kent. Kalau buka-buka lagi content yang ada di blog ini, jadi pingin banyak cerita lagi tentang traveling amburadulnya saya.

Begini, meskipun awalnya ini blog saya ingin isi dengan content yang agak serius, tapi pernah baca juga kan perjuangan saya dari tentang kelulusan saya? Nah, kini saya punya cerita tentang ex-mahasiswa, iya, an ex. Tentang perjalan hanya untuk diterima di satu perusahaan impian, makanya saya bilang superman. Kalau mau tahu siapa si ex-nya itu, sebut saja rangga, bukan...bukan rangga sm*sh apalagi rangga AADC. Anggap saja rangga alias rasa yang galau. Yups, siapa sih yang gak galau kalau udah lulus terus belum dapet kerja atau usaha? pahitnya sih dibilang pengangguran. Eh, kalau saya sih kadang menikamatinya, merenungi, meratapi,menangisi, halah...malah banyak negatifnya, hehe...gak, gak, saya punya banyak hal diceritakan selama menjadi jobseeker, dari pergi ke kota A, B, C mungkin hingga kota Z.

Balik lagi ke masalah jalan-jalannya, sebenernya saya bukan ingin sekedar bercerita menjadi jobseeker travel atau mungkin nanti saya akan menceritakannya, tapi di sini bagaimana saya tough dan bodohnya saat pergi jalan-jalan dan akhirnya mendapatkan nasib sial di kota A iya sebut saja kota itu adalah Surabaya. Eng, ing, eng....kenapa?

Sebelum saya bercerita, ijinkan saya memantik korek api dan menghisap sebatang rokok dulu, ya...hehe...

Lanjut!

Begini, saya memang belum banyak mengunjungi kota-kota atau wilayah di Indonesia dan saya biasanya juga melakukan perjalanan lewat jalur darat karena memang jalur mana lagi bagi seorang budget travel amburadul schedule seperti saya? Karena emang judulnya amburadul, ya maklum kalau memang agak sedikit konyol dan tolol alias kalau disingkat jadi...konlol. :p

what a life
Bermula dari kota nan damai tempat saya belajar di Jogja, saya mencintai traveling, mbuh carane iso nang ndi ae, dab! Pergilah ke sana ke mari dengan senangnya. Maklum tahun 2009 saya memulai perjalanan dan mendapat gelar backpacker itu pun awal mulanya ke Bromo. Oke gak masalah! Tapi inilah masalah pertama saya muncul saat akan balik lagi ke Jogja lewat jalur darat yang diharuskan transit bus ke Surabaya. Awalnya hanya biasa aja dari hal sepele ini, hal sepelenya adalah ketika kernet bus meminta uang tiket, karena saya belum paham, saya berikan uang pecahan 20.000 dimana tarif pada waktu itu hanya 13.000 Malang-Surabaya, si kernet memberikan tiket di mana di tiketnya tersebut ada coretan berapa kembaliannya, karena saya tidak mengindahkannya, tertidurlah di bus dan tanpa sadar tiket itu hilang di genggaman saya. Damn! Bagi pelancong yang tidak mau uang sepeser raib, ketika akan sampai di terminal Surabaya, saya gontot-gontotan dengan kernetnya, memang sih saya yang salah, alhasil dia cuma memberikan kembalian 5000 rupah!

Anggap, kejadian itu hanya angin lalu di Surabaya, tidak menghiraukan nasib sial saya ada di kota ini. Tapi, mulai lagi terjadi pada saat saya ingin jalan-jalan ke luar negeri dari bandara juanda, syit! Ceritanya saya berangkat dari jogja naik kereta Sancaka pagi, setibanya di stasiun Wonokromo pukul 12.00 siang, karena flight-nya pukul 15.00, saya menunggu agak lama di stasiun dan makan siang di sana, sekitar pukul 13.00 saya menuju Juanda dengan taksi, karena uang rupiah hanya tersisa beberapa lembar saja dan selebihnya saya sudah tukarkan dengan dolar, maka saat akan masuk gate dan check-in, uang rupiah tersisa 147.000, dan hanya kurang 3.000 dari apa yang saya harus bayarkan sebagai airport tax yang sebesar 150.000. Ketar-ketirlah saya di bandara, masa uang dolar harus ditukarkan lagi ke rupiah hanya untuk menggenapkan? Gak, gak akan saya lakukan, mulailah saya mencari cara yaitu meminta uang 3000 ke...petugas trolley. Sial! Malu banget saya! Si bapak yang baik hati itu, langsung memberiku uang sebesar 5000. Ya, dengan basa basi di awal dulu, sih. heheh...

Rentetan kejadian di Surabaya membuat saya semakin dirasa, kenapa saya sial sekali di kota ini? Beberapa waktu kemudian, saya tidak melakukan hobi saya, karena ada kesibukan di kampus. Agak sedikit tidak terbebani dengan sugesti diri saya yang menganggap kota Surabaya yang sial ini.

Pada akhirnya, saya dipertemukan kembali dengan si Surabaya, saat itu saya pergi ke Lombok lewat jalur darat menggunakan bus, rencana awalnya ingin menggunakan kereta Sri Tanjung ke Bali lalu lanjut ke Lombok, karena ada lain sebab, jadilah menggunakan bus Jogja-Surabaya-Banyuwangi sistem estafet, beberapa hari sebelumnya saya survey bus yang langsung tujuan Banyuwangi, tapi saat hari H, saya dan teman-teman ketinggalan bus yang tujuan tersebut. Alhasil, mau gak mau dua kali naik bus, deh. Kepanjangan, ya? Sabar, saya cerita kronologisnya dulu, biar sama-sama tahu. hih! :D

Naiklah bus ekonomi malam Mira, sekitar pukul 19.00 dari Jogja sesampainya di terminal Bungurasih sekitar tengah malam, saat itu kondisi saya memang sesaat setelah baru bangun tidur di bus, maklum belum kumpul nyawanya dan harus turun juga untuk pindah armada tujuan Surabaya-Banyuwangi. Saya dan bersama teman-teman saat itu juga bermuka sembab semua, tengah malam, bangun tidur, jalanpun lemes banget dan harus masih mencari di mana bus tujuan kami berikutnya, di manaa......?!

Dengan bawaan tas kerir yang segede bagong, kami didatangi sebut-saja-calo terminal yang menanyakan tujuan kami, karena gak mau bingung dalam kondisi seperti ini, akhirnya manut saja dihantarkannya ke armadanya tanpa banyak cing-cong, saya mengikuti si calo itu berjalan, tapi pas mau masukin tas saya ke bagasi, tiba-tiba....GUBRAK! Saya masuk ke got yang untung gak ada airnya, saking pada kecapeannya, teman-teman cuma bisa lihat saya aja tanpa menolong. Hih, teman macam apa coba? Mereka melihat saya jatuh pun dengan wajah yang datar kayak Kristen Steward kalau maen film. 

Berdirilah saya dan memasukkan tas ke bagasi dengan sedikit lecet di paha. Apakah sudah sampai di sini kesialannya? Oh tidak! Selanjutnya nego harga dengan si calo. Saat saya survey bus tujuan Jogja-Banyuwangi harga tiket 78.000, tapi si calo keparat itu memberi harga 80.000 untuk Surabaya-Banyuwangi dengan bus yang jelas jelas supeer ekonomi. Nah, di situ saya dan teman-teman berdebat, sebelum masuk bus,  minta dikurangi harganya, karena saya udah males juga, saya memisahkan diri dari kumpulan si calo dan jongkok sambil mengeluh dalam hati kesakitan gara-gara jatuh, tapi saat saya melihat teman saya masih nego, ada preman yang terlihat mendekati, mungkin karena ada keramaian juga di situ. Namun, ada salah satu teman saya yang cewek yang cukup kenal dengan si premannya itu dan minta tolong buat harganya diturunin lagi, sayangnya sih hasilnya nihil. Daripada buang-buang waktu, akhirnya deal dengan harga 68.000 dan itu deadlock! Ketika sudah masuk bus, karena kepo dan harus kepo juga sih, berapa harga aslinya tanpa melalui calo ke penumpang lain, mereka bilang cuma 30.000. hahahahabegohahahaha...... Tau gak, nasib sialnya belum berakhir saat itu juga sih, entah di daerah mana saya dan teman-teman dialihkan pakai kendaraan lain, bro! 

Setelah interview, mejeng dulu lah ya di simbol suro-boyo ini ;)
Belum, belum berakhir saya harus datang dan datang lagi ke Surabaya, meski tidak separah dengan cerita-cerita sebelumnya, kali ini saya ke sana saat ada panggilan kerja di salah satu perusahaan rokok yang terkemuka. Ini jelas lebih nyaman daripada cerita sebelumnya, karena menggunakan pesawat terbang garuda dan itu dibayari oleh perusahaan Pulang-Pergi. Siapa yang gak seneng coba? Saat itu memang enjoy aja, karena sampai di kantornya pun 9.30, semua berjalan mulus sampai tahap interview di kantor itu berakhir dan berjalan keluar dari kantor, niatnya saat itu karena lapar, ya cari makan dong. Karena itu kantor daerah kawasan industri, saya tidak menemukan warung sampai harus berjalan dulu beberapa meter dengan pakaian kemeja dan bersepatu pantofel agak sedikit berhak, karena tidak terbiasa menggunakan sepatu seperti itu, jalan saya lebih lambat dan beban lebih berat juga. Maklum, biasa pakai kets. Setelah menemukan warung makan dan harus kembali ke bandara, cukup lega sih dan pasti berjalan lancar sesuai dengan jadwal pulang. Dan apa yang terjadi? Pesawatnya delayed! Oh, damn!

Nah, yang terbaru yaitu beberapa hari kemarin, saya ingin melanjutkan perjalanan ke Bandung via Surabaya dengan menggunakan kereta Turangga yang sebelumnya saya ada acara di Malang, karena jadwal jadi jobseeker yang mepet harus ikut tes di sana dan di sini tanpa jeda hari. Saya berangkat dari Malang pukul 16.00 dengan kondisi hujan deras dan perkiraan sampe Surabaya dua jam, karena barang-barang saya masih berada di rumah teman maka saya harus balik mengambil barang saya. Lalu diantarkanlah saya menggunakan motor tanpa pakai jas hujan dan kondisi jalan macet tur licin. Beruntung sampai ke terminal Arjosari Malang pukul 16.30 tepat. Akhirnya beberapa menit kemudian, datang bus tujuan Surabaya. Dengan sangat-sangat cemas dan menyilangkan jari semoga tepat waktu di dalam bus. Dua jam lebih sampai Surabaya saya masih punya harapan saat bus datang di Bungurasih pukul 18.45 dan langsung mencari ojek menuju Stasiun Gubeng dengan meminta tukang ojek sampai sana jam 7 kurang. Dengan kebutnya si tukang ojek ini membawa saya sampai di gubeng dengan telat 13 menit dari jadwal keberangkatan kereta. Lemas sudah hati hamba ini pada saat itu. Di Surabaya di mana lagi saya akan bermalam. halah!

Jadilah setelah beberapa kejadian itu, saya merasa bernasib sial di kota ini. Kota terbesar kedua di Indonesia ini juga yang dapat saya membuat senyum-senyum karena ketololan saya sendiri. Seneng tapi nyebelin, makan ati tapi nikmatin juga. Tapi, gak semua nasib sial di Surabaya ini tidak mendapat apa-apa, di sini saya dapat teman baru, sih. Ya pada intinya diibaratkan saat di perbukitan ada tanjakan dan turunan, semua seimbang sama padan, saat berada pada tanjakan dan terasa sulit, berpikirlah pasti ada turunan yang terasalebih ringan, begitu sebaliknya. Etapi, turunan itu kalau di gunung lebih capek daripada tanjakan, sik. Halah, gak habis-habis ini. Ya begitulah, pokoknya nikmatin aja selama bisa dinikmatin. Sama halnya kayak saya, nikmati masa lapang sebelum sempit. hehehe.....

Pada akhirnya, dibalik perjalanan ini ada cerita yang bisa saya sampaikan saat saya menjadi jobseeker dan pastinya di Surabaya ini.

Kamis, 07 Maret 2013

Dari Sejarah Majapahit Hingga Bertemu Buddha tidur di Trowulan

Jika memaknai Pancasila sila pertama yang berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa" mungkin banyak sekali penafsirannya. Bisa saja, bahwa Tuhan adalah sebagai simbol bahwa masyarakat Indonesia memiliki dan berdasarkan hidup menurut kepercayaan yang dianutnya sesuai yang sudah diakui oleh pemerintah, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Konfusius. 

Kita juga bisa menjumpai berbagai macam rumah-rumah ibadah yang ada di Indonesia. Bahkan, peninggalan bangunan bersejarah seperti candi yang notabene merupakan tempat ibadah atau simbol dari suatu agama tertentu yaitu Buddha dan Hindu, tersebar luas di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. 

saya (tengah) beserta kawan menuju situs candi
Di Bali misalanya, dengan mayoritas masyarakat beragama Hindu, banyak sekali pura atau tempat ibadah, tidak sulit untuk menemuinya. Namun, sulit untuk kita temui di Pulau Jawa karena sebagian besar tempat ibadah dari masyarakatnya adalah muslim.

Memang ada tempat ibadahnya di Pulau Jawa, tapi bisa dikatakan hanya beberapa dan tidak banyak. Namun, bisa dijadikan tempat tujuan wisata dan itupun yang berupa candi yang merupakan bangunan dari jaman dahulu.

Tidak lepas dari bangunan ibadah, kemarin sempat menjelajah Trowulan yang tepat berada di Mojokerto, Jawa Timur. Trowulan sejatinya merupakan kota Kecamatan, bukan wilayah yang luas, namun di sini, sejarah telah berlangsung cukup lama. Peradaban Majapahit.

candi Bajangratu
Situs-situs Majapahit yang tersisa sekarang merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi, sayangnya, saya bukan orang yang ahli sejarah, bukan pula orang yang terlalu menyukainya. Ada dampaknya, sik, setelah mengunjungi tempat ini yaitu laiknya anak sekolah yang sedang belajar studi, meskipun sedikit info yang saya dapat, itupun dari teman saya yang paham dengan seluk beluk penyebaran agama hindu-buddha, ya karena teman saya orang Bali yang cukup mengenal sejarahnya.

Dari bahasa sanskrit itu sendiri, katanya Majapahit berdiri pada tahun 1400 menurut penanggalan Jawa yang diartikan bahwa Sirna Ilang Kersaning Bhumi. Entah kenapa orang jawa kuno dulu menamai dengan kata-kata yang sedikit belibet. Namun, itu merupakan sengkalan yang sudah menjadi pakem dari jaman dahulu.

Saat kita berjalan menuju beberapa candi di sana, ada yang berbeda dari candi-candi yang ada di Jawa Tengah. Terlihat dari bangunannya yang sudah modern ditandai dengan bangunan yang dari bata merah. Tidak seperti kebanyakan candi di Jawa Tengah, yaitu dibangun dengan batu granit. Dapat disimpulkan pula bahwa kerajaan Majapahit memiliki peradaban yang sudah maju. Selain itu, ditemui pula di Museum Majapahit, ada beberapa benda peninggalan sejarah, dari patung Buddha, simbol kerajaan Majapahit yang mirip dengan logo dari Universitas Gadjah Mada, periuk dan perkakas, uang jaman dahulu, dan celengan berbentuk kepala orang dan hewan.

Ada suatu hal yang bisa jadi kita terkejut, kenapa? Karena ternyata muka dari patih yang bernama Gadjah Mada pada saat Raja Hayam Wuruk bertahta yang sudah kita kenal dengan wajah yang bulat dan berpipi gemuk adalah suatu bentuk muka celengan yang ditemukan di situs Majapahit dan merupakan tafsiran menurut Moh. Yamin. Saya juga baru mengetahui bahwa setiap melakukan misinya, sang patih selalu mengenakan topeng dan sampai saat ini, belum ada yang mengetahui dengan jelas, bagaimana sosok dari sang patih hingga dia pergi mengasingkan diri ke suatu tempat.

reclining Buddha
Tidak hanya bangunan peninggalan Majapahit saja yang unik. Masih satu kawasan di Trowulan, saya juga menemui sebuah patung yang bukan lain adalah sosok Buddha tidur. Kita bisa melihatnya di suatu tempat ibadah bernama Maha Vihara Majapahit. Meskipun bangunan ini adalah bangunan baru, tapi tidak kalah loh dengan yang ada di Thailand. Berbentuk kuning emas dan di bawahnya terdapat ukiran relief bagaimana Sidharta Gautama menolong hingga dia wafat menjadi Buddha. Meskipun letaknya berada di luar ruangan dan dikelilingi oleh kolam ikan dan cukup indah.

Saya berfikir, jika kita memang mayoritas beragama muslim, mengapa masjid-masjid tidak dijadikan tempat wisata, apa karena masjid yang benar-benar 'sakral' dan istimewa hanya di Saudi Arabia? Memang, ada juga masjid-masjid peninggalan sejarah saat penyebaran agama islam datang ke Indonesia, tapi...ya begitulah kondisinya. 

Meskipun saya pernah melihat reclining Buddha di Thailand dengan bentuk yang lebih panjang, Indonesia juga ternyata memilikinya. Mungkin, tempat itu hanya satu yang dimiliki oleh bangsa kita, jadi, kita harus hargai dan hormati antar umat beragama, bukankah kita dididik untuk saling mencintai juga, kan? Bangga bukan yang dimiliki bangsa ini? Maka dari itu, junjunglah tinggi pancasila, tidak hanya sila pertama, tapi semua atau bahkan kita harus lebih memahami dari kalimat "Bhineka Tunggal Ika" yang merupakan diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Prapanca. I love Indonesia!