Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Oktober 2014

Dalam 5 Jam Perjalan: Piknik Nyelfie dan Seadanya

Mumpung masih seger, seru kayaknya kalau langsung nulis jalan-jalan singkat tadi siang. 

***
Niat jalan jauh ke daerah pegunungan adalah rencana yang selalu wacana dari kemarin-kemarin, bahkan untuk jalan ke Waduk Darma di Kuningan. Kapan, kapan, dan kapan bisa terwujud. Gak ada yang spesial dari lokasi waduk sebenarnya, sih. Kok bisa malah ngebet mau dikunjungi? Alasannya, Cirebon panas. hehe...

Rencana awal emang ada janji sama temen kominutas berkebun mengunjungi sanggar lingkungan hidup, dasarnya gue, malah suka merubah rencana. Waduk Darma, yuk?

Siapa lain dan bukan teman yang gue ajak itu emang doyan juga diajak jalan, sebut saja, cungil. Awalnya emang dia nanya, "kok dadakan, lagi panas nih Cirebon?". Ah, pertanyaannya mudah dijawab dan diiming-imingi kalau diajak jalan. "itu kan Cirebon, kan Kuningan apalagi Waduk Darma pasti adem". Gara-gara itu, dia mau akhirnya. 

Gak jauh memang perjalanan Cirebon-Kuningan-Waduk Darma, berangkat mulai pukul 11.30 dengan kondisi yang amat panas, entahlah Cirebon ini, panasnya sudah gak normal lagi, menuju Kuningan. Emang awal niatnya ke Waduk Darma buat ngadem. Begitu di jalan, tiba-tiba pingin menambah destinasi aja, gitu.

Belum masuk ke kota Kuningan, motor mio gue berubah haluan, lho. kok bisa? emang gue yang bawa, kali. Berbelok ke arah kanan dari jalan utama Cirebon-Kuningan, menuju Linggarjati. Pasti mau ke museum? salah! Karena pernah beberapa kali mengunjungi museum-nya, kami cuma lewat aja. Pingin rasain getting lost. Masuklah ke perkampungan penduduk arah pos penanjakan gunung Ciremai. Lagi, dan lagi kami putar haluan. Gue sebenarnya labil gitu. Karena nggak menemukan apa yang gue cari, kebun kopi. hehe...

Lanjut menuju destinasi utama, masuk kota Kuningan. Hampir satu jam-an dengan lalu lintas jalan utamanya padat-lancar. Take a ride dengan kecepatan yang rata-rata 60-80 km/jam cukuplah untuk mengejar waktu hari ini, karena mengingat besok adalah Senin.

13.30
Memasuki kawasan wisata Waduk Darma, gue sempat kaget dengan jalan yang berubah. Dulu tahun 2008s, jalan besar yang dilewati untuk ke arah Cikijing adalah melewati bibir tanggulnya, jadi sempat menyasar, deh. Tarif masuknya pun 17.000 untuk satu motor dan dua orang. Canggih, mahal kalau menurut gue. Untuk kondisi yang menurut gue 'seadanya', bahkan kalau dibandingkan dengan wisata pantai di Parangtritis gak semahal itu. Show must go on, mending nyesel beli daripada nyesel gak beli, begitu kata orang.

What we did in Waduk Darma?
Lucunya, gue dan Cungil nggak ngapa-ngapain. Ada sih fasilitas wisata berupa jet ski, tapi pas gue lihat, malah motor jet-ski-nya pun ditutupin semacam terpal. Yang masih ada, perahu wisata yang bisa dinikmati para pengunjung. Murah, cuma 10.000 itupun nunggu kuota dulu baru bisa jalan.

Karena kami pengunjung yang 'seadanya' juga, jadi nikmati juga yang sudah sewajarnya. Apa itu? Selfie! hehe...
#selfie hore 1

#selfie hore 2

#selfie hore 3

#selfie hore 3

15.00
Sebelum menuju ke lokasi Waduk Darma, gue liat di jalan papan yang bilang ada curug, padahal kalau sebelumnya itu gak terlewat meliatnya, bisa jadi gue mengunjungi itu dulu. Tapi, akhirnya mengunjunginya juga setelah dari Waduk. Namanya Curug Bangkong. Bahasa Indonesianya Air Terjun Kodok. Unik, kan...?

Masuk dari papan tersebut berkisar 700 m yang sebelumnya melewati perkampungan warga. Tak jauh sesaat, ada papan penunjuk arah berikutnya. Sempet kaget. Lokasinya memasuki persawahan, untunglah si mio ini bisa melaluinya dengan kondisi jalan yang kering, pastinya. Lebih kaget lagi, kami 'ditagih' uang 10.000 dari petugas 'pos'. Gue mengutip pos, karena pos itu bukan pos, cuma gubuk yang beralaskan tanah dengan penjaga teteh-teteh yang cengengesan, nggak resmi. Jadi, seharusnya gue dan cungil bisa protes kalau tau lokasi wisatanya yang...tak terawat!

Menuju lokasi, dengan jalan setapak dan bergelombang dengan hamparan terasering sawah yang hijau, tidak sampai 5 menit, kami menemukan curugnya dan itu bagus!

Arus air terjunnya memang kencang, lagi lagi gue sebel dengan kondisinya yang amburegul alias gak terawat banget nget....

Tapi...lupakan! Mari selfie!!!
#curfie curug selfie 1

#curfie curug selfie 2

#curfie curug selfie 3

#curfie curug selfie 4

Seperti menemukan hidden paradise, seharusnya gue bisa makin seneng dengan lokasi wisatanya, tapi gue penikmat 'seadanya' mungkin diberipun 'seada-adanya' saja.

Tidak lama, kami kembali ke Cirebon dari lokasi-lokasi tersebut pukul 16.30an. Cukup senang dengan piknik yang singkat dengan fasilitas 'seadanya' sehingga gue senyum-senyum sekena-kenanya untuk dimasukan dalam daftar seakan-akan jalan-jalan. 


Jumat, 30 Mei 2014

Malangku di Malang: Belum Berakhir!

Masih Malang di Bulan Oktober 2013

"Lapar!" 
Bukan cuma perut yang protes untuk diisi nasi, tapi juga 'lapar' kepingin jalan-jalan lagi, seharusnya kali ini bisa memilih angkutan yang wajar dalam urusan uang. Ingat! Saya juga di Malang berniat ikut proses seleksi perusahaan bukan sepenuhnya jalan-jalan. Kalau gagal tesnya, baru jalan-jalan, deh! Hail Malang!

Sebagai jobseeking-traveler, sudah seharusnya saya menceritakan kesan jalan-jalannya di manapun saya mengikuti tes daripada  memberikan info tips dan trik tes di perusahaan X atau Z. Kalau mau cari, coba buka di Kaskus lebih komplit ketimbang di sini. Tepatnya masuk ke [Forum] buka [Bisnis] lalu [Dunia kerja & Profesi]. Penuh dengan tanya-jawab beberapa kaskuser tentang beberapa perusahaan di sana. Kalau malas buka, gimana mau dapet rezeki. Rajin-rajinlah kau, kisanak!

Balik ke topik pembicaraan yang harus segera diselesaikan. Tujuannya di sini adalah tes dan tidak banyak waktu untuk berleha-leha, maka dari itu selepas mandi, saya pergi menuju keluar penginapan mencari sarapan. Sayangnya, di sekitar sana nggak ada penjual makanan, namun yang saya temukan adalah semacam toko roti dan makanan kudapan tepat di samping penginapan. Tidak ingin ambil pusing karena takut mati kelaparan, saya membeli satu buah roti bantal, snack Taro, air mineral dan air teh dalam kemasan, dan satu bungkus rokok. 

Waktu terus menghantui saya dan berlari begitu cepat,  saya kembali menuju kamar dan memakan makanan yang saya sudah beli tadi. Beberapa menit kemudian saya sudah siap menjelajah lokasi tes. Karena tes diadakan keesokan harinya, jelaslah saya harus paham lokasinya tersebut. 

"Sep, kalau mau ke Un-Braw dari stasiun naik apa?" Pesan lewat BBM yang saya tanyakan, sambil jalan menyusuri jalan Kahuripan untuk sekedar sightseeing saja. Di sana saya melihat beberapa kafe dan resto yang masih tutup. Mungkin, karena masih pagi juga nampaknya. 

"Kamu udah di Malang, Nu"
"Naik ADL aja, itu nanti turun di belakang UB, kok" 
"Kamu sama siapa ke sana? Ikut tes apa?" Tiga pesan masuk secara berurutan masuk dari teman saya.

"Berapa emangnya tarif angkotnya, Sep?"
"Iya, kita (saya. red) mau tes di deket UB lokasinya"
"Iya, sendiri" Mencirikan bahwa pengguna BBM atau aplikasi obrolan lainnya, selalu membalas dalam tiga atau mungkin lebih pesan yang sangat pendek. Begitu pula saya menjawab Asep ini. Bayangkan jika latah menjawabnya melalui SMS yang selalu dikenakan tarif reguler. Enggak berbeda sih untuk tarif, tapi jaman sekarang sudah sering menggunakan paket data internet untuk berhubungan dengan yang lain, meskipun pulsa kosong. Nah, deh ketahuan saya kalau sering gak punya pulsa. Hehe....

"Paling 3-4ribu"
"Yawes, sukses" 

"Sip, thank, Sep" tutup saya.

Karena mepet, bukan berarti saya puas menjelajah di sekitaran Tugu Malang. Suatu saat, saya kembali lagi ke sini, pasti!

Berjalan sambil mencari angkutan umum berlogo 'ADL' seperti apa kata Asep tersebut nampaknya agak sulit atau memang belum beruntung dapat yang kosong. Saya berhenti di depan korem tentara AD di sana untuk mengawasi angkot yang lewat situ. Satu-dua-hingga-5-menit kok gak nongol-nongol, ya? Terpaksa berjalan lebih jauh, deh. Sial ini angkot.

Itu angkot ADL, kayaknya. Dalam hati berbicara. Benar, ternyata! Mendakati angkot itu dan melihat, wow, kosong! Akhirnya pucuk dicinta angkotpun 'ngetem'. Benar, angkot ini karena baru saya saja yang masuk dan ada di dalamnya, saya menunggu lagi. Kali ini lebih lama dari sebelumnya saya menunggu. Lebih lama daripada menemani cewek berbelanja pakaian, pokoknya. Udah gitu, dandannya lama, pula. Aku harap karena di angkot sendirian, sesekali supirnya curhat gitu kan bisa lebih hangat. Sayangnya, enggak! Hih!

Beberapa menit menunggu jalannya angkot, tapi kok nggak ada orang yang masuk, ya? Hati saya bertanya-tanya. Kayaknya kota di Jawa Timur bikin sial terus setiap kali dikunjungi atau saya yang punya masalah, ya? Tapi, dugaannya benar adanya. Karena belum dapat penumpang lainnya di dalam mobil, tiba-tiba angkot berjalan pelan, pastinya saya berucap syukur, eits...belum bergerak jauh, ada wanita paruh baya dengan perawakan agak gemuk dan berwajah Indonesia bagian timur memberhentikan angkot dengan motornya. Saat itu saya nggak tau percakapan yang berlangsung, tapi rupanya ada tawar-menawar harga. Jreng jreng! Masalah saya apa, ya Tuhan! 

"Mas, mau ke UB, kan?" tanya sopir angkot yang pada saat awal saya masuk dia menganggukan kalau angkot ini akan menuju ke UB

"Iya, mas" Jawab saya dengan kebingungan karena tiba-tiba bertanya kembali dan akhirnya sopir angkot ini memulai pembicaraan dengan saya. Terima kasih, ya Tuhan! Bentar, k-o-k?

"Pindah angkot yang lain aja ya, mas. Soalnya mau disewa" Kata dia

Jawab:
"...oh, oke.." sambil senyum lalu turun dari angkot itu

Kenyataan:
SIALAN! ANJIS. RUGI WAKTU. *^(^(&% ARRRRGH!!!!TUHAN ADA APA DENGAN SAYA?!

Namun pada akhirnya, saya mencari angkot yang sama menuju tempat lokasi tes dengan tanpa disuruh keluar atau dioper.


Malamnya di Malang: Kamar No 9

Kembali pada sore hari setelah kesialan yang menimpa saya dan di kamar inilah saya memulai malam. Masih ingat dalam tulisan sebelumnya, kalau kamar sebelah dari kamar ini adalah kamar yang sangat tidak layak dihuni. Kosong dan nampak banyak jaring laba-laba menggantung di atap-atap kamar. Spooky, though?

Ritual, kali ini ritualnya. Iya. Ritual. Berupa...Makan malam! hehe...

Tenang. Mari kita menghela nafas sebentar apa yang akan terjadi di-samping-kamar-bernomor-9. 


to be continued...

Cetak-Miring-garis-bawah:
Bahasa Cerbon: kita = saya.

Senin, 26 Mei 2014

Malangku di Malang

Sebenernya, gak berat kok jadi jobseeker, sumpah, yang berat itu kalau nunggu kepastian dipanggil lagi atau kelar sampai di situ. Tapi, selama bisa dinikmati, gak masalah. Ini lagi seneng aja posting perjalan-perjalan yang menarik. Sebenernya banyak yang belum diceritain di sini, tapi nanti kalau masih mampu dan dikasih umur (halah) bakal ditulis, pastinya kalau masih inget juga.

'Ya masa, kalau lupa ditulis, hal apa yang mau diceritakan?'

'Bisa, Nu. Bisa, kamu inget-inget lagi, dong!'

'hmmm.....'

Biar sering jalan-jalan sendiri, tapi ada cerita yang bisa dibagi, gak melulu boring, kok. Sejak berani pergi-pergi sendiri dan dipaksa mandiri, jadilah seperti ini. Ada orang bilang kalau jalan-jalan sendiri itu membosankan. Gak juga. Contohnya saya, hasil jalan-jalannya menarik. Beneran loh....

Semenjak berstatus jobseeker sambil travel, saya mendeklarisikan diri sendiri sebagai jobseeking-traveler, yang intinya gagal jadi karyawan karena nggak lolos tes sana-sini, masih mujur dapet cerita konyol dan pasti teman. Lucunya, lama kelamaan males dan capek juga gak settle. Anggap belum rejekinya.

Malang,  Oktober 2013

di depan stasiun Malang
Entah tanggalnya saya lupa, namun ini adalah kali pertama saya datang mengunjungi kota Malang sendiri tanpa ada teman dan kerabat. Emang dari dulu punya keinginan buat jalan-jalan ke sini atau gak kalau beruntung bisa kerja di Malang, kesampaian juga deh meskipun cuma buat tes kerja dari PT Unilever.

Pagi-pagi sekali saya tiba di stasiun Malang, tanpa pakai itinerary tanpa banyak persiapan dan segala macamnya. Luntang-lantung nggak jelas mengamati stasiun ini, jelek. Dibanding dengan stasiun Cirebon, jauh perbedaannya. Meskipun kondisi stasiun yang begitu-deh, banyak turis domestik dengan tas gunungnya banyak ditemui di sini, semacam di film '5 cm' gitu. Mereka sedang menunggu angkutan yang akan membawanya hingga menuju Taman Nasional Semeru-Tengger.
Pendaki di depan stasiun Malang
Saya masih kebingungan juga pada saat itu, sambil mencari-cari penginepan bermodal gadget dan yang penting murah dan bisa tidur nyenyak. Tanpa panjang lebar saya memilih untuk berkeliling mencarinya dengan becak. Sebelumnya saya ditawari oleh bapak tukang becaknya " Mau pergi ke mana, mas?"

"hm..mau cari penginepan murah, pak. Kira-kira bapak bisa antar saya nggak?"

"oh, bisa, mas. Mau di daerah mana?" Sambil menyiapkan becaknya seraya bertanya kembali.

"Di deket-deket sini aja, pak. Gak usah jauh-jauh dari stasiun" karena memang saya tidak tahu daerahnya, saya mempercayakan kepada bapak tukang becaknya.

"Yaudah, mas. Mari .."

Pergi menggunakan becak ini karena menurut saya bisa sambil berkeliling dan santai. Sebenarnya si bapak tukang becak saat mengayuh berbicara tentang penginapan murah. Sambil tetap mencari juga lewat gadget, saya selalu meng-iya-kan apa yang bapak itu bicarakan. Jahat, ya? hehe...

Jahatnya saya, masih belum tega banget, kalau tahu saya dicurangi sama tukang becaknya, saya bisa lebih jahat. Tetapi karena saya mulai lelah, nanti saya lanjutkan bagian selanjutnya tentang Gairah Hotel Malang.

To be continued....




Senin, 04 Maret 2013

The Story Behind of Majapahit Civilization

"Have you traveled just for spiritual journey?" I think rarely people do that. But, this my experienced recently where I was going to Mojokerto, East Java. Some story to make me feel like "I am nothing" and "I don't have any further to explain what my religion is".

What do you know about Mojokerto Residence? Some of you thought, there is nothing to explore more than just people who live there, but few people know this place had have historical story. It's all about history. The story behind Javanese apocalypse was stand and its huge impact to others. It was named Majapahit.

Majapahit was built when it called "Sirna Ilang Kertaning Bhumi" and I have no any idea to explain it, but friend of mine told the meaning that was 1400 Masehi ( Sirna = 0, Ilang = 0, Kertaning = 4, Bhumi = 1; reverse). The big kingdom was we had at the time. 

What will you get?

1. The history journey
candi Brahu (Brahu temple)
Go back from ancient story, when I was in elementary school, my teacher taught we had two kingdoms which colonized another country and had big power. They were Srivijaya (Buddha) well-known in Sumatra island and Majapahit (Hindu)  in Java island. Each kingdom was greatness in difference age.

Honestly, I am not good at history lesson unless I am looking by myself to visit history places. This is it, Majapahit told me anything. I was envy when arrived at candi Brahu which is one of the Majapahit building was steady and there was students of elementary school visited and learnt the history. I never know what candi Brahu is, and evidently it was cremation place. There is some temples around and such brought us in century ago. 

candi Bajangratu
Later, we came in to museum Majapahit and showed of historical object which is like stupa, ancient money, Buddha statue, the God of Shiva and many things. The interesting thing symbol was Shiva. My friend told me that Indonesian was Shiva-ism at the time and Balinese, too. He brings that look-a-like 'pengusir' flies at left hand and another characteristic is his neck coloring with blue which mean he 'eat' the sins all the evil.

2. Story 
Everybody does have story wherever they go. Even though your story is not mine. We went to Mojokerto with 3 others. My friends was worshiping when I took some photo of his. I respected what they did. We live in diversity. Actually, I was minority among my travel buddy, they are Hindu and I am Muslim. 

A questioned to me from my friend about aqiqah and that was awkward moment because I couldn't answer. Oh, shame on me. But I learn from this situation and respectful journey, I must learn how to be a good Muslim properly. 

3. Friends
Point no 2 and 3 are my own thought. It simply to find but difficult to appropriate a friendship. We just friend in common, tho.

I am impressing to Indonesia, its culture, its respect, its different and its power. Even if the history tell us we had super power at the time, but we can conquer toward Indonesia nowadays. I love my country.

p.s
English version, sorry for all grammar mistakes because it's first time. Another story I would to tell in Bahasa. 

Selasa, 26 Februari 2013

Gunung atau Pantai

Coba sebutkan, berapa banyak pantai yang kamu sudah kunjungi? hmmm...di Pulau Jawa saja. Tidak usah jauh-jauh. Apa? Anyer, Paragtritis, Pangandaran, apa? Pantai di bagian selatan Gunung Kidul? Oke. Sudah dikunjungi semua? Coba, kalau gunung bagaimana? Gunung yang sudah dikunjungi di Pulau Jawa? Apa? Tangkuban Perahu? Bromo? Baiklah. Merapi, Semeru dan yang lainnya? Sudah atau belum?Oh, Belum.

Sebenarnya saya bukan untuk menjudge di sini. Saya hanya bertanya. Tidak salah, kan? Memang tujuan wisata orang berbeda-beda. Tidak hanya pantai nan elok dengan warna lautnya, namun gunung yang maha daya agungnya tidak kalah indah, kok. Bangga bukan menjadi orang Indonesia yang banyak tujuan wisatanya?

wsncyd lagi di Lawu (pos 4)
Di Jawa saja. Tidak usah menyeberang ke pulau tetangga, deh. Kita dapat paket komplit, bukan? Pergilah ke Ciamis atau Jogjakarta, kita bisa disuguhkan dengan pantai-pantai dengan panorama yang sangat indah. Tidak hanya pantai saja, di Jogjakarta juga terdapat wisata petualangan yang berupa gunung. Benar. Gunung Merapi. Bahkan disekitarnya ada gunung-gunung lain, seperti Merbabu dan Lawu. 

wsncyd dan kawannya lagi aksi di Pantai :)
Sedikit bercerita pengalaman dari teman-teman. Banyak sekali yang ingin mendaki (istilah naik gunung) karena melihat foto-foto pendakian, cerita dari teman, atau bahkan dari nonton film (?). Apapun itu, tidak masalah jika minat melakukan pendakian, meskipun dikatakan pemula. Saya juga, kok. Sekian banyak dari teman-teman, ada yang menyerah saat pendakian atau ada yang 'ketagihan' mendaki. Well, itu hanya kalian yang bisa menentukan. Menyerah kenapa? Pertama, karena gunung merupakan tujuan wisata petualangan yang memakan banyak stamina dan kedua adalah mendoktrin dirinya sendiri menjadi anak pantai. 

Saya juga cinta pantai, kok. Pantai memiliki kesan sendiri untuk 'ritme' hidup yang santai. Ingatkah dengan pernyataan yang entah dari mana sumbernya yaitu "nyantai kayak di pantai". Ya, demikianlah pantai. Biru langit dan laut memiliki energi positif bagi penikmatnya. Untuk persiapannya pun tidak ribet seperti melakukan pendakian.

Nah, maka dari itu. Saya memberi gambaran bagi siapa saja yang ingin merencanakan kegiatan liburannya untuk memilih pantai atau gunung.
Bagi anak gunung biasanya:
- Ada persiapapan fisik dan mental baik pemula ataupun yang sudah pengalaman.
- Peralatan pribadi dan supply makanan harus dapat diperkirakan hingga akhir pendakian.
- Membentuk tim dan berkelompok.
- Mematuhi aturan atau prinsip pecinta alam.
- Sopan dalam pendakian

Bagi anak pantai
- Tidak ada persiapan fisik atau mental kecuali yang fobia
- Makanan? Banyak warung
- Sendiri, berdua, atau berkelompok ke pantai tidak masalah.
- Prinsip pecinta alam tetap dong dijaga.
- Pantai semua santai, pakailah pakaian yang tepat, masa iya ke pantai pake jaket tebal dan mengenakan menutup badan.

Jadi, tergantung pula  seorang itu menggeluti hobby-nya. Biasanya paling dominan ya memang pantai. Tetapi, sayang dong kalau di Indonesia belum pernah naik gunung? Masa cuma Bromo dan T. Perahu, doang? Mungkin, ada satu hal lagi yang membuat kagum naik gunung, betapa kecilnya kita dan Maha Besarnya ciptaanNya. Oia, adalagi! Kalau Cewek-cewek pasti akan terkagum-kagum dengan para cowok-cowok yang membuatkan makanan, karena biasanya naluri cowok di gunung terlihat seperti pria. Meski makanannya aslinya tidak enak. Ya bagaimana lagi, namanya juga laper. Ingat juga, sampahnya juga diberesin lagi ya?

Pastinya, akan ada cerita yang dapat disampaikan ke manapun kita pergi, baik gunung ataupun pantai. Place to go before you die is mountain, I notice you who haven't to go there. Percuma, dong? Masa gunungnya dianggurin. Oke, tadi ambigu. Mari menjelajah dan berwisata ke manapun dan di manapun! Intinya begitu. 

Salam Lesatari :)

Minggu, 16 Desember 2012

MENAKLUKAN ANJANI DALAM DERU BADAI DI BUMI PERTIWI


Kalau bicara soal Indonesia, seraya otak yang bekerja dalam pikiran adalah sebuah bangsa yang besar, mereka dan tak kalah penting juga bahwa Indonesia itu indah. Keindahannya bisa kita lihat dari gugusan kepulauan yang nampak elok, dari Sabang hingga Merauke. Tak hanya itu Indonesia terkenal juga akan budaya dan keanekaragaman sukunya. Bagiku, tanah air ini cantik sekali, termasuk keindahan alamnya seperti laut, pantai dan gunung. Eits, Mendengar kata gunung ingatanku membawa ke beberapa bulan belakangan ini.
“Akhirnya, para penikmat pemandangan alam tapi bukan pecinta alam siap mendaki gunung tertinggi kedua di Indonesia” Seru Wayan setibanya di pulau Lombok “lihat, itu Rinjani, kan? Soalnya gunung ini hampir 2/3-nya dari pulau Lombok” lanjutnya sembari menunjuk arah gunungnya saat dalam mobil.
apalah ini/ :))
Gunung Rinjani? Tertinggi kedua di Indonesia? Pemula? Itulah kami, karena keantusiasannya dengan alam ini, kami relakan jatah beberapa hari liburan untuk berpetualang. Dengan bangganya keenam anak manusia yang jauh-jauh menyebrang lautan dari Jogjakarta untuk menemui si cantik Rinjani dengan tegap menjulang dengan ketinggian 3726 mdpl di pulau tersebut. Bersama 3 orang sahabat lain dari Lombok maka petualangan pun dimulai.
“Nu, nanti jalannya santai aja, ya?aku takut gak kuat” pinta Cungil padaku.
“Oke, santai” jawabku singkat.
“Dengar-dengar dari temanku, jalur Sembalun ini adalah jalur yang paling ‘manusiawi’ loh” lanjutnya.
“Ya syukur, deh” kataku sambil menunggu waktu di RTC Sembalun dan mendaftar ke pos tersebut sebagai pendaki resmi.
Lima belas menit perjalanan kamipun dimulai dan masih semangat sampai beberapa jam kemudian, kami melihat keindahan alam khas pegunungan. Benar. Padang savanna yang mulai menguning, bak permadani yang sangat luas, keindahan Tuhan yang telah  diberikan bagi Indonesia. Mengingat pada bulan pendakian tersebut adalah musim kemarau. Bayanganku tertuju saat beberapa literatur yang menjelaskan pada ilmu geografi tentang vegetasi endemik daerah pegunungan. Oh iya, karena Indonesia adalah suatu wilayah ring of fire tak heran jika banyak dijumpai berbagai gunung-gunung berapi di wialayah ini.
Gunung-gunung berapi ini menarit banyak minat bagi para kalangan tertentu tak terkecuali para ilmuwan yang mendalami ilmu vulkanologi dan para pelancong baik domestik dan mancanegara. Sejarah duniapun mencatat pada kejadian alam saat gunung Krakatau meletus yang membuat seluruh penjuru dunia tertutup kabut gelap selama beberapa hari dan memunculkan anak gunung Krakatau. Sama halnya dengan Krakatau, gunung Rinjanipun pernah erupsi dan sisa-sisanya memunculkan keistimewaan yang lain, yaitu gunung Si Jari dan danau Sagara Anakan yang mengelilinginya dan berwarna hijau toska. Cantik!
“Ayo, kita siap mendaki lagi, sudah diisi, kan, perutnya?”  Semangat bang Udin pada kami berenam dan dia adalah pendaki yang berpengalaman di Rinjani setelah bermalam di pos pertama karena kami telah membunuh waktu.
Meskipun aku bukan seorang mahasiswa pecinta alam, namun prinsip-prinsip pendakian tetap dijaga, yang berisi:
“ Jangan mengambil apapun, kecuali gambar. Jangan meninggalkan apapun, kecuali jejak. Jangan membunuh apapun, kecuali waktu”
 “Semangka! Semangat Kakak!” Seru Mbak Ika yang menyemangati kami terus menerus saat beberapa di antara kami mulai kecapekan.
“Semangka!!” Dengan lantang Eriana, Ari dan Aku menjawab.
Pukul 6 sore kamipun memasuki area perkemahan di Plawangan yang letaknya sudah tidak jauh dari puncak Rinjani. Udara dingin pun mulai menusuk seluruh badan, semua dari kami sudah membalut badannya dengan jaket yang tebal, menutupi seluruhnya agar tetap terjaga kehangatan.
“Waw!” Takjub mbak Ika.
“Eh, Poto-poto dulu sini?!” Pintaku
Beberarapa di antara kami ada yang mengabadikannya lewat kameranya dan Ari menelpon keluarganya dan memberi kabar pada mereka bahwa keberadaannya. Setelahnya, kami menuju tempat kamp.
Sembari memasang tenda dan mencari sumber air, aku melihat-lihat sekitar kamp ternyata bukan hanya dari Indonesia saja yang datang ke sini, namun banyak di antara mereka adalah turis asing. Merekapun tidak sabar untuk mendaki ke puncak Anjani dengan semangat.
“Nanti, kita muncak jam 2 pagi, jadi, setelah kalian makan, tidurlah” saran bang Fuad.
“Oia, nanti jangan lupa bawa air minum juga” tambah bang Udin “Cungil, nanti mau ikut muncak, enggak?”
“hm..enggak, deh, bang!” sahutnya.
Kebetulan, saat awal perjalanan, Cungil-lah yang sedikit berubah fikiran.
Sembari menikmati malam di dekat tenda, aku, Wayan, dan Cungil melihat ke angkasa. Semesta yang sulit didapat ketika kita berada di tengah kota. Menebak rasi bintang-bintang angkasa, hamparan luas bagai perhiasan yang mengkilap. Selain itu, kelap-kelip lampu dari pemukiman penduduk daerah kaki pegunungan Rinjani yang tak kalah cantik, membuat suasana yang nyaman. Setelahnya kami pun pergi tidur ke tenda.
“Bangun, bangun! Sudah jam 2, jadi mau pada muncak, gak?” Suara tenda sebelah membangunkan aku.
“Sudah siap?” Tanya bang Udin pada kami yang akan muncak.
“Sudah!” kami menjawab dengan menggigil kedinginan.
“Semangka!” Seru bang Udin.
“…” tak ada satupun dari kami menjawabnya.
Perjalanan menuju puncak Anjani pada pukul 2 adalah perjalanan yang sangat gelap dan hanya lampu senter yang menerangi kami. Beberapa pendaki yang lain pun siap menuju medan pertempuran.
Saat mendaki, pikiranpun melayang, mengingat kasur, guling dan kamarku di Jogja. Ada sedikit penyesalan pada waktu itu. Namun, karena tekad yang kuat, zona nyaman aku tinggalkan.
Dalam menuju Anjani bersama-sama pendaki yang lain, perjalanan lebih berat dari medan sebelumnya. Jalannya berpasir, licin, dan butuh tenaga yang lebih untuk terus mempertahankan posisi. Karena, semakin besar melangkah, kaki kita akan merosot kembali karena kerikil-kerikil dari sisa erupsi. Beberapa menit kami sempat beristirahat untuk sekedar minum air atau menguyah coklat choky-choky  untuk menambah stamina.
w/ mbak Ika 

Pernah aku mendengar, “Belum ke Lombok, kalau belum pernah mendaki gunung Rinjani”. Tentunya karena selain Lombok memiliki pantai-pantai yang cantik seperti Kuta, Tanjung Aan, Gili Trawangan dll. namun, lihatlah, Rinjani menyapa saat memasuki Lombok dengan tinggi menjulang. Kini, kurasakan butuh peluh dan keringat untuk mencapainya.
Waktu pun tak terasa sudah mulai memasuki pukul 4 pagi, aku dan teman-teman yang lain masih berjuang demi sang Anjani dalam menyapa terbitnya sang Surya. Meski perjalanan kami ke sana belum ada setengahnya. Aku terus berusaha. Aku capek. Aku Istirahat. Begitulah kira-kira adanya.
Setelah beristirahat beberapa menit karena tenaga yang terkuras. Temanku Ari ternyata lebih dulu di depan beserta bang Fuad yang membawa persediaan air. Disaat beberapa temanku mulai kehausan, sudah tidak berbuat apa-apa lagi terkecuali cepat menyusul yang ada di depan kami.
Entah mengapa setelah beberapa meter menuju puncak, medan terus miring dengan beberapa pemandangan batu-batu besar. Aku tak peduli, yang terpenting terus berjalan. Terus melangkahkan kaki, meski tenggorokan sudah kering dan tenaga mulai menunjukkan indikator ‘siaga’.
Jemari tanganku mulai terasa membeku, tak bisa bergerak sama sekali karena dinginnya suhu puncak. Aku berinisiatif saling menggemgam tangan mbak Ika, untuk menurunkan suhu dingin. Angin mulai berhembus kencang. Aku, Eriana, dan mbak Ika melindungi diri di batu sangat besar, menghalau datangnya angin.
Kami bertiga sudah tidak bisa bergerak, terus berlindung di batu besar dengan tenaga yang menurun. Seakan-akan angin terus menusuk dinding pertahananku. Dingin. Sangat dingin. Namun, saat angin berhembus kencang, aku mulai merasakan datangnya kehangatan. Ya. Kehangatan dari munculnya sang Surya. Masih terselimut awan, sinarnya seakan membawa kerinduan yang tersalurkan. Akhirnya, terbitlah sang Surya. Namun, pada saat kami bertiga akan terus menuju puncak, beberapa orang turun seraya berteriak, “ada badai, turun!”. Akupun terkejut dan ternganga. Beberapa orang pun yang telah dan akan menuju puncak turun.
Bergaya ala-ala jalur pulang Plawangan-Senaru
Ternyata, untuk menaklukan sang Anjani memang sulit, entah manusia super seperti apa yang bisa menaklukan dia. Mungkin, memiliki tenaga yang kuat saja belum tentu dapat ditaklukan. Apakah sang Anjani marah pada saat itu? Sehingga mendatangkan badai? Entahlah, menurutku ini adalah sebuah pengalaman berharga dan berkesan dalam pendakian menaklukan Anjani. Bukanlah kesombongan atau kebanggaan apabila telah menaklukan puncak, namun, pelajaran berharga yang didapat, agar apabila kelak telah meraih puncak tertinggi, kita jangan pernah merasa puas meraihnya. Sesungguhnya pula puncak sejati bukan berada pada tingginya suatu titik, tetapi bagaimana kita terus berupaya mencapainya agar mengetahui bagaimana jalan menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, setelah pendakian menuju puncak yang belum beruntung, kami melanjutkan perjalanan menuju danau Sagara anak yang tepat berada di bawah kamp Plawangan, untuk sekedar menikmati alam dan berbagi dengannya.
Indonesia, kamu masih menyimpan misteri keindahan yang terus menjadi pusat perhatian bagi banyak orang. Terima kasih atas keindahan yang telah diciptakan bagi bumi Indonesia, Tuhan. Perjalanan masih akan terus kami lanjutkan. Terus. Dan terus.
they are adventurous :)

SALAM LESTARI

Sabtu, 18 Februari 2012

[Harmful] Maaf, minggir dulu, mas....

"Udah berangkat belum ira?Hati-hari di jalan ya.." sebuah sms masuk ke ponsel saya dari seorang teman bernama Cungil yang bertanya sekali pun memberikan doanya.

"Belum, qt berangkatnya jam 9an" saya pun membalasnya. SENT

Rasanya kalau sudah pewe di Jogja itu, males balik lagi ke Blora. Namun, karena untuk berjuang dalam menyelesaikan tugas akhir alias penelitian S1 saya, well saya harus come back. Toh, udah selesai juga kepentingannya di Jogja?

ilustrasi razia oleh Polisi
Hari itu, tepatnya Selasa tanggal 7 Februari 2012 pukul 5 pagi saya sudah siap-siap, mulai dari mengemas barang yang harus dibawa sampai memperhatikan urusan perut saya juga, maklum kalau perjalanan yang gak butuh persiapan banyak dan berjarak dekat jarang-jarang packing sehari sebelumnya.

Sembari mengecek isi dompet yang ternyata kosong, maka saya meniatkan untuk mengambil uang ke mesin ATM. Perkiraan untuk seminggu kedepan tinggal disana ya... sebesar 100.000 sih cukup lah. Itupun menjadi uang bekal selama seminggu kedepan dan uang bensin juga, karena kesana bakal menghabiskan 2 kali isi bensin.

Tepat sebelum pukul 09.00 saya memutuskan untuk langsung berangkat saja dari kos dan menghindari cuaca yang mulai memanas.
"Sat, nitip kamar ya? Kita berangkat dulu " Pesan saya kepada Satra seorang teman kos yang masih melek sambil main game .
"Oh, iya!!!"  Jawab singkat dia.

Berjalanlah menuju garasi menyalakan si Paijo yang kebetulan 'bekal'-nya masih penuh terisi. Tanpa firasat apapun saya meninggalkan Jogja.

Namun, ditengah perjalanan menuju ke Blora yang memasuki Prambanan, ternyata ada razia Polisi, tetap saja saya santai tanpa ada halangan dan beban. Toh, saya bawa surat-surat kendaran bermotor kok!Sempat pula ditanya Pak polisi ketika di razia namun terdengar samar, karena saya memakai penutup muka untuk melindungi dari debu dan macam segalanya. Sambil mengeluarkan surat-surat dari dompet dan mengantri diantara motor-motor yang lain Pak Polisi mendekati saya dan terjadi percakapan singkat.

Kamis, 02 Februari 2012

Be a good driver


Setelah menonton tayangan berita di televisi yang mengabarkan sebuah mobil yang menabrak pejalan kaki di Jakarta yang kabar terbarunya telah menewaskan 9 orang, eh bukan ding 10 orang termasuk 1 orang wanita yang sedang mengandung jabang bayi, hal ini disebabkan oleh seorang pengendara dalam kondisi yang terpengaruh obat-obatan jenis sabu dan ekstasi. Peristiwa ini membuat keprihatinan yang mendalam bagi keluarga korban, tentunya pula si pelaku ini seharusnya mendapat ganjaran yang setimpal dengan perbuatan yang telah ia lakukan.
Well, berkaitan itu berdasarkan pengalaman dan kenyataan bahwa kita harus bijak dalam mengendarai kendaraan bermotor yang dapat merugikan baik diri sendiri maupun orang lain. Jadi saya akan memberikan cerita bagaimana menjadi good driver pengendara sepeda motor, ya karena saat ini saya sibuk bolak-balik Jogjakarta-Blora menggunakan si Ijo (supra X 100 cc) yang membuat saya cukup kelelahan dan mungkin saya katakana lagi si Ijo pun begitu jika bisa punya rasa.

Rabu, 11 Januari 2012

Outstanding Cepu

Well..well..welcome back hi fellas! Udah lama aja ya rasanya nih gak absen di dunia blogger, setelah sekian lama saya padet jadwal #halah. Tapi iya deh seriusan saya padet dengan jadwal penelitian sebagai mahasiswa penunggu hujan, ini bukan kata-kata kiasan ;)
“Hah?! Penantian juga, Nu setelah 10 bulan lamanya dari Maret-Desember” sahut seorang kakak tingkat ke saya, memang saya menunggu proyekan penelitian ini mengabarkan kabar beritanya.
Desember ini, seharusnya saya bisa pulang kampung atau berlibur bersama keluarga, ah sayangnya itu Cuma harapan sih, but so far buat masa depan juga, saya me-skip waktu-waktu itu, ya lagi-lagi penantian 10 bulan itu yang buat geregetan telah kunjung tiba dan menjadi alasan utamanya sih.

Minggu, 18 Desember 2011

BeritaSatu.Com - Blog - Sabda Polan-Naya Gonggong 1: Mesuji

BeritaSatu.Com - Blog - Sabda Polan-Naya Gonggong 1: Mesuji

Dulu Prabu Brawijaya V punya dua penasihat spiritual. Namanya Sabdo Palon dan Noyo Genggong. Keduanya sangat setia. Bahkan menjelang Majapahit runtuh sehingga Prabu Brawijaya V bertapa moksa di Gunung Lawu, dua-duanya turut mendaki. Mereka tweemani si bos ke gunung angker dekat kotanya si akun walikota @jokowi_do2 itu.
Sabda Polan dan Naya Gonggong kali ini mungkin masih punya hubungan dengan abdi kinasih Prabu Brawijaya V alias Prabu Kertabumi. Berarti pemuda seumuran mahasiswa S-1 itu keturunan juru ramal yang sakti. Tapi mungkin masing-masing juga tak punya hubungan apa-apa. Apa salahnya punya nama yang mirip-mirip. Toh di twitland juga banyak nama akun nyaris serupa.

Kamis, 27 Oktober 2011

You think, then you blog, Selamat hari Blogger Indonesia ke 5

Hari ini, mungkin beberapa dari tulisan saya hanya dipandang sebelah mata hanya beberapa tahun saya bergabung di dunia blogging, tetapi yang saya lihat, pikir, dan alami disalurkan melalui tulisan-tulisan yang membentuk cerita narasi deskriptif. Tidak seberapa tulisannya, namun peristiwa dan kejadian yang diangkat mungkin yang akan dibahas seputar dunia seni dan budaya, travel, maupun kisah yang saya pikir hanya "helaian daun".
Tak banyak kata-kata yang dibesar-besarkan dan tak ada khayalan namun kenyataan atau fakta yang ditulis dalam suatu laporan atau berita dari suatu kejadian. Satu hal yang bisa dilangkahi dari suatu blog adalah tak ada aturan main laiknya seorang jurnalistik yang harus memahami etika jurnalis. Memang bebas, namun harus tetap terarah dan bisa ditanggung jawabkan tulisan yang kita buat di blog.
Budaya, menulislah kelak tulisanmu akan dikenang, atau bisa pula untuk menyalurkan hobi, sekadar berkelakar atau apapun itu. Suatu temanya pun bisa diangkat berdasarkan minat dari author. Sehingga kita secara sadar membangun budaya menulis itu sendiri, memang tak harus yang terlalu berat, namun menarik untuk dibaca, tak harus dari tampilan tetapi juga dari bobot penulisan juga.
Oke, Blogger....Keep Blogging!!!
Selamat hari Blog se-Indonesia yang ke 5!

Senin, 17 Oktober 2011

Sajian mengukuhkan persatuan part II

Indonesia itu satu, dan Pancasila itu dasarnya
well...well..well....
Daripada udah kebablasan dengan aktivitas yang lain, mending saya lanjutin kelanjutan dari artikel sebelumnya.

Siapa sih yang gak percaya kalau acara kebudayaan itu bisa membuat orang-orang (re.Indonesia) itu kokoh untuk menjalin persatuan dan kesatuan, dalam artian adalah jika persatuan adalah sebuah proses untuk "menyatukan" perbedaan dan kesatuan adalah bentuk dari kokohnya perbedaan yang dijadikan satu, oke itu hanya dari arti menurut saya. Nah, kenapa saya menuliskan seperti ini? Karena, rasa persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia seakan-akan mulai luntur oleh isu yang beredar diluaran sana, apalagi kalau bukan 'Perbedaan'.

Oke, lanjut cerita pada rangkaian acara IECF 2011 pada hari ketiga, seperti biasa kami (lagi-lagi saya perkenalkan lagi personil yang hadir) berempat yaitu saya sendiri (si Jekk), Rahmanu, Dewi, dan Iwayan. Walau dihari ketiga ini merupakan gelaran terakhir, namun antusias kami dan para penikmat seni tentunya juga masih berkobar, karena tidak ingin menyia-nyiakan momen yang bisa dibilang jarang-jarang diadakan. 

Untuk rangkaian acara di hari yang ketiga ini cukup dibilang spektakular, kenapa? karena dihari ketiga ini juga kami bisa melihat secara langsung kolaborasi dari beberapa tarian daerah asal Indonesia yang dijadikan satu yang berseting di bumi Kalimantan dan menggambarkan bahwa masih ada rasa toleransi diantara mereka (si seniman) meskipun mereka itu berbeda dan perbedaan itulah yang menguatkan mereka bahwa inilah Indonesia. Tak lepas dari itu, tarian-tarian dari daerah lainpun masih menonjolkan sisi seni dan keperkasaan seperti yang saat itu juga yang disajikan adalah dari daerah Lampung, KepRi (Kep. Riau), Riau, Sumatera Barat, DIY, bahkan seniman asal Spanyol pun menyajikan tariannya dengan enerjik.

Acara pun berakhir pada pukul 10.00 wib dengan diumumkannya pula pemenang dari acara IECF 2011 dan penobatan juara dimenangkan oleh Lampung. Di sini lah ada beberapa kalimat yang masih tertanam di kepala yang saat itu disampaikan oleh dewan pengamat (juri) bahwa " Seni tari dari berbagai daerah itu tidak bisa di lombakan, bahwa seni yang dipertunjukkan di sini (re. IECF 2011) adalah gerak, tata tari, dan kematangan tarian yang dibawakan sehingga menimbulkan rasa kecintaan kepada tarian itu sendiri dan membuat perbedaan itu menjadi satu yang tertampung di acara ini".

Inti dari kegiatan itu memang bukan untuk ajang unjuk kebolehan semata namun ajang untuk mempererat tali kesatuan yang mulai pudar di Indonesia ini. Entah bagaimana persepsi orang menilai dari rangkaian acara tersebut, namun sekarang mulai timbulan rasa dalam diri ada rasa yang memang kuat untuk cinta kepada kebudayaan kita sendiri, buka'mata' dengan paradigma yang luas jika kita ini heterogen, bukan satu suku, bukan satu agama, bukan satu kelompok, bukan satu golongan, dan bukan hanya kita, tapi kita itu satu yang memiliki banyak perbedaan. Oh, jika Tuhan saja menciptakan perbedaan di bumi seharusnya kita juga harus dapat menghargai perbedaan yang ada pada dalam khasanah budaya dan adat negeri tercinta Indonesia ini dong!!!!!!!