Tampilkan postingan dengan label cultural. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cultural. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Maret 2013

The Story Behind of Majapahit Civilization

"Have you traveled just for spiritual journey?" I think rarely people do that. But, this my experienced recently where I was going to Mojokerto, East Java. Some story to make me feel like "I am nothing" and "I don't have any further to explain what my religion is".

What do you know about Mojokerto Residence? Some of you thought, there is nothing to explore more than just people who live there, but few people know this place had have historical story. It's all about history. The story behind Javanese apocalypse was stand and its huge impact to others. It was named Majapahit.

Majapahit was built when it called "Sirna Ilang Kertaning Bhumi" and I have no any idea to explain it, but friend of mine told the meaning that was 1400 Masehi ( Sirna = 0, Ilang = 0, Kertaning = 4, Bhumi = 1; reverse). The big kingdom was we had at the time. 

What will you get?

1. The history journey
candi Brahu (Brahu temple)
Go back from ancient story, when I was in elementary school, my teacher taught we had two kingdoms which colonized another country and had big power. They were Srivijaya (Buddha) well-known in Sumatra island and Majapahit (Hindu)  in Java island. Each kingdom was greatness in difference age.

Honestly, I am not good at history lesson unless I am looking by myself to visit history places. This is it, Majapahit told me anything. I was envy when arrived at candi Brahu which is one of the Majapahit building was steady and there was students of elementary school visited and learnt the history. I never know what candi Brahu is, and evidently it was cremation place. There is some temples around and such brought us in century ago. 

candi Bajangratu
Later, we came in to museum Majapahit and showed of historical object which is like stupa, ancient money, Buddha statue, the God of Shiva and many things. The interesting thing symbol was Shiva. My friend told me that Indonesian was Shiva-ism at the time and Balinese, too. He brings that look-a-like 'pengusir' flies at left hand and another characteristic is his neck coloring with blue which mean he 'eat' the sins all the evil.

2. Story 
Everybody does have story wherever they go. Even though your story is not mine. We went to Mojokerto with 3 others. My friends was worshiping when I took some photo of his. I respected what they did. We live in diversity. Actually, I was minority among my travel buddy, they are Hindu and I am Muslim. 

A questioned to me from my friend about aqiqah and that was awkward moment because I couldn't answer. Oh, shame on me. But I learn from this situation and respectful journey, I must learn how to be a good Muslim properly. 

3. Friends
Point no 2 and 3 are my own thought. It simply to find but difficult to appropriate a friendship. We just friend in common, tho.

I am impressing to Indonesia, its culture, its respect, its different and its power. Even if the history tell us we had super power at the time, but we can conquer toward Indonesia nowadays. I love my country.

p.s
English version, sorry for all grammar mistakes because it's first time. Another story I would to tell in Bahasa. 

Minggu, 24 Juni 2012

First Impression of Thailand

Grand Palace, Thailand
Apa sih yang lo judge kalau ada temen lo yang pergi ke Thailand? Mau operasi kelamin? Cetek ya pikirannya. Emang gue gak bisa pungkiri kalau memang Thailand kenyataannya begitu sebagai negara yang paling besar dalam sex-changed. Coba kita lihat dong dari sisi baiknya dari negara itu. Sama seperti kalimat di awal, gue juga disindir begitu. Mau ketemu lady boy, operasi kelamin, dsb. Enggak masalah sih sebenarnya, itu hanya sindirian saja, karena memang gue belum pernah ke sana saat itu.

Namun, setelah pergi ke sana apa yang gue liat? Overall, incredible. Sebagai negara Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh bangsa Eropa, Thailand memiliki magnet yang tersendiri bagi dunia pariwisata. Enggak cuma karena ada Temple/Wat saja yang menarik, walaupun itu merupakan daya tarik utama bagi negara itu.

Thailand merupakan destinasi pariwisata di Asia Tenggara yang paling ramai dikunjungi oleh wisatawan asing, bahkan Indonesia yang katanya 'tanah surga' pun, kalah pamor dengan negara gajah putih ini. Sebagai bukti klik sini. Baik, gue enggak mau panjang lebar ngebahas pemeringkatan dan kembali ke topik.
Walaupun gue anak kemarin sore yang datang ke Thailand dan pergi melancong untuk pertama kalinya ke luar negeri, harapan dan antusiasme dengan negara tetangga ini amat besar. Kenapa? Secara gue udah hidup hampir lama di Indonesia, mau tau dong namanya luar negeri dan apa yang gue dapet dari negara itu? Totally AWESOME.

Sabtu, 18 Februari 2012

[Harmful] Maaf, minggir dulu, mas....

"Udah berangkat belum ira?Hati-hari di jalan ya.." sebuah sms masuk ke ponsel saya dari seorang teman bernama Cungil yang bertanya sekali pun memberikan doanya.

"Belum, qt berangkatnya jam 9an" saya pun membalasnya. SENT

Rasanya kalau sudah pewe di Jogja itu, males balik lagi ke Blora. Namun, karena untuk berjuang dalam menyelesaikan tugas akhir alias penelitian S1 saya, well saya harus come back. Toh, udah selesai juga kepentingannya di Jogja?

ilustrasi razia oleh Polisi
Hari itu, tepatnya Selasa tanggal 7 Februari 2012 pukul 5 pagi saya sudah siap-siap, mulai dari mengemas barang yang harus dibawa sampai memperhatikan urusan perut saya juga, maklum kalau perjalanan yang gak butuh persiapan banyak dan berjarak dekat jarang-jarang packing sehari sebelumnya.

Sembari mengecek isi dompet yang ternyata kosong, maka saya meniatkan untuk mengambil uang ke mesin ATM. Perkiraan untuk seminggu kedepan tinggal disana ya... sebesar 100.000 sih cukup lah. Itupun menjadi uang bekal selama seminggu kedepan dan uang bensin juga, karena kesana bakal menghabiskan 2 kali isi bensin.

Tepat sebelum pukul 09.00 saya memutuskan untuk langsung berangkat saja dari kos dan menghindari cuaca yang mulai memanas.
"Sat, nitip kamar ya? Kita berangkat dulu " Pesan saya kepada Satra seorang teman kos yang masih melek sambil main game .
"Oh, iya!!!"  Jawab singkat dia.

Berjalanlah menuju garasi menyalakan si Paijo yang kebetulan 'bekal'-nya masih penuh terisi. Tanpa firasat apapun saya meninggalkan Jogja.

Namun, ditengah perjalanan menuju ke Blora yang memasuki Prambanan, ternyata ada razia Polisi, tetap saja saya santai tanpa ada halangan dan beban. Toh, saya bawa surat-surat kendaran bermotor kok!Sempat pula ditanya Pak polisi ketika di razia namun terdengar samar, karena saya memakai penutup muka untuk melindungi dari debu dan macam segalanya. Sambil mengeluarkan surat-surat dari dompet dan mengantri diantara motor-motor yang lain Pak Polisi mendekati saya dan terjadi percakapan singkat.

Kamis, 02 Februari 2012

Be a good driver


Setelah menonton tayangan berita di televisi yang mengabarkan sebuah mobil yang menabrak pejalan kaki di Jakarta yang kabar terbarunya telah menewaskan 9 orang, eh bukan ding 10 orang termasuk 1 orang wanita yang sedang mengandung jabang bayi, hal ini disebabkan oleh seorang pengendara dalam kondisi yang terpengaruh obat-obatan jenis sabu dan ekstasi. Peristiwa ini membuat keprihatinan yang mendalam bagi keluarga korban, tentunya pula si pelaku ini seharusnya mendapat ganjaran yang setimpal dengan perbuatan yang telah ia lakukan.
Well, berkaitan itu berdasarkan pengalaman dan kenyataan bahwa kita harus bijak dalam mengendarai kendaraan bermotor yang dapat merugikan baik diri sendiri maupun orang lain. Jadi saya akan memberikan cerita bagaimana menjadi good driver pengendara sepeda motor, ya karena saat ini saya sibuk bolak-balik Jogjakarta-Blora menggunakan si Ijo (supra X 100 cc) yang membuat saya cukup kelelahan dan mungkin saya katakana lagi si Ijo pun begitu jika bisa punya rasa.

Kamis, 27 Oktober 2011

You think, then you blog, Selamat hari Blogger Indonesia ke 5

Hari ini, mungkin beberapa dari tulisan saya hanya dipandang sebelah mata hanya beberapa tahun saya bergabung di dunia blogging, tetapi yang saya lihat, pikir, dan alami disalurkan melalui tulisan-tulisan yang membentuk cerita narasi deskriptif. Tidak seberapa tulisannya, namun peristiwa dan kejadian yang diangkat mungkin yang akan dibahas seputar dunia seni dan budaya, travel, maupun kisah yang saya pikir hanya "helaian daun".
Tak banyak kata-kata yang dibesar-besarkan dan tak ada khayalan namun kenyataan atau fakta yang ditulis dalam suatu laporan atau berita dari suatu kejadian. Satu hal yang bisa dilangkahi dari suatu blog adalah tak ada aturan main laiknya seorang jurnalistik yang harus memahami etika jurnalis. Memang bebas, namun harus tetap terarah dan bisa ditanggung jawabkan tulisan yang kita buat di blog.
Budaya, menulislah kelak tulisanmu akan dikenang, atau bisa pula untuk menyalurkan hobi, sekadar berkelakar atau apapun itu. Suatu temanya pun bisa diangkat berdasarkan minat dari author. Sehingga kita secara sadar membangun budaya menulis itu sendiri, memang tak harus yang terlalu berat, namun menarik untuk dibaca, tak harus dari tampilan tetapi juga dari bobot penulisan juga.
Oke, Blogger....Keep Blogging!!!
Selamat hari Blog se-Indonesia yang ke 5!

Minggu, 23 Oktober 2011

berakhir antiklimak

Sore, tanggal 22 Oktober kemarin, saya sedang menunggu di kos, menanti pukul 18.00 untuk datang menepati janji, kok begitu penting ya di hari itu. Karena siapa sih yang gak mau ketinggalan acara yang konon sudah menjadi agenda tahunan di kota Jogjakarta, benar...Jogja Java Carnival atau JJC. Pukul 17.00 di kos saya biasa bermain dengan anak kos, yang jelas sih nonton MV-nya SNSD (habis gak bosen-bosen, hihi...) mengisi  kekosongan bersama si Erwin dan Eka yang kalau kita ngobrol sudah ngarol ngidul kaya gak ada arah.
"nu, ira mau nonton JJC tah?itu kuh deleng ning metro tv (maksudnya di teks berjalannya) malioboro arepan ditutup dalane jam 18.00" sahut si Eka.
"ah, bagen bae, ntar kita parkirnya kalo bli ning jalan mataram ya di stasiun tugu" balas saya.
"wis, ira kuh gageh siap-siap" sela Erwin, dan saya pun berkata "ya wis lah".

Tak terasa hasil akibat waste multitasking kami berakhir pukul 17.25 yang diakhiri saya bersiap-siap ke kamar kos dan beres-beres, karena memang janjian pukul 18.00 di Kopma UGM dengan para cultural junkie , siapa lagi kalau bukan Rahmanu, Iwayan, Dewi dan Dwika. Sembari bersiap-siap saya sempatkan magrib dahulu di kos, ya maklum memasuki waktu magrib juga ini. Selesainya saya pun berangkat ke kopma UGM, dan sudah ada Dewi yang sedang mengobrol dengan Danang.

"Hai, mas Wisnu...jadi kan ke JJC nya" sapa Dewi.

"Hallo, Dewi. Danang, pie kabare?"Jawab saya.  "Baik, mas!" (sambil berjabat tangan dengan Danang). Saya lalu melemparkan pertanyaan kepada Dewi lagi "Lah, Rahmanu mana?". "Tuh, di Ruang Bisnis" jawabnya. Sambil melongok ke arah ruang bisnis saya melihat Rahmanu dengan gaya ala traveler-nya tampak mantap.

"Mas, titip tas dulu ya aku mau sholat dulu" pinta si Dewi. "OK" kata saya.

Sambil menunggu yang lain dan duduk-duduk disitu saya dan Rahmanu bercakap-cakap, tak lama Dwika pun datang dengan motor Jupiter-nya, kami sudah berkumpul, namun Wayan belum datang juga, karena kata Rahmanu kalau Wayan tadi sekitar pukul 16.00 baru sampai di Wates, selepasnya dia libur co-ass di Cilacap, namun beberapa menit ada sms masuk dari hape saya dari Wayan "Kalian Dimana?" saya balas "kita udah di Kopma nih, dah pada kumpul..." lalu sms balasan pun tiba lagi "di bag. mana?" belum sempat saya balas saya bilang ke Rahmanu "eh, Wayan sms nih katanya di bagian mana?" sambil membuka smsnya Rahmanu pun bilang "oh, aku juga disms eh..." namun karena sms itu Rahmanu penasaran ke bagian depan dan melihat wayan sudah menunggu disitu.

Karena formasi sudah lengkap, kami pun mulai meluncur setelah selesainya dewi sholat, namun ada hal yang mengganjal untuk tempat parkirnya........


to be continued....

Senin, 17 Oktober 2011

Sajian mengukuhkan persatuan part II

Indonesia itu satu, dan Pancasila itu dasarnya
well...well..well....
Daripada udah kebablasan dengan aktivitas yang lain, mending saya lanjutin kelanjutan dari artikel sebelumnya.

Siapa sih yang gak percaya kalau acara kebudayaan itu bisa membuat orang-orang (re.Indonesia) itu kokoh untuk menjalin persatuan dan kesatuan, dalam artian adalah jika persatuan adalah sebuah proses untuk "menyatukan" perbedaan dan kesatuan adalah bentuk dari kokohnya perbedaan yang dijadikan satu, oke itu hanya dari arti menurut saya. Nah, kenapa saya menuliskan seperti ini? Karena, rasa persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia seakan-akan mulai luntur oleh isu yang beredar diluaran sana, apalagi kalau bukan 'Perbedaan'.

Oke, lanjut cerita pada rangkaian acara IECF 2011 pada hari ketiga, seperti biasa kami (lagi-lagi saya perkenalkan lagi personil yang hadir) berempat yaitu saya sendiri (si Jekk), Rahmanu, Dewi, dan Iwayan. Walau dihari ketiga ini merupakan gelaran terakhir, namun antusias kami dan para penikmat seni tentunya juga masih berkobar, karena tidak ingin menyia-nyiakan momen yang bisa dibilang jarang-jarang diadakan. 

Untuk rangkaian acara di hari yang ketiga ini cukup dibilang spektakular, kenapa? karena dihari ketiga ini juga kami bisa melihat secara langsung kolaborasi dari beberapa tarian daerah asal Indonesia yang dijadikan satu yang berseting di bumi Kalimantan dan menggambarkan bahwa masih ada rasa toleransi diantara mereka (si seniman) meskipun mereka itu berbeda dan perbedaan itulah yang menguatkan mereka bahwa inilah Indonesia. Tak lepas dari itu, tarian-tarian dari daerah lainpun masih menonjolkan sisi seni dan keperkasaan seperti yang saat itu juga yang disajikan adalah dari daerah Lampung, KepRi (Kep. Riau), Riau, Sumatera Barat, DIY, bahkan seniman asal Spanyol pun menyajikan tariannya dengan enerjik.

Acara pun berakhir pada pukul 10.00 wib dengan diumumkannya pula pemenang dari acara IECF 2011 dan penobatan juara dimenangkan oleh Lampung. Di sini lah ada beberapa kalimat yang masih tertanam di kepala yang saat itu disampaikan oleh dewan pengamat (juri) bahwa " Seni tari dari berbagai daerah itu tidak bisa di lombakan, bahwa seni yang dipertunjukkan di sini (re. IECF 2011) adalah gerak, tata tari, dan kematangan tarian yang dibawakan sehingga menimbulkan rasa kecintaan kepada tarian itu sendiri dan membuat perbedaan itu menjadi satu yang tertampung di acara ini".

Inti dari kegiatan itu memang bukan untuk ajang unjuk kebolehan semata namun ajang untuk mempererat tali kesatuan yang mulai pudar di Indonesia ini. Entah bagaimana persepsi orang menilai dari rangkaian acara tersebut, namun sekarang mulai timbulan rasa dalam diri ada rasa yang memang kuat untuk cinta kepada kebudayaan kita sendiri, buka'mata' dengan paradigma yang luas jika kita ini heterogen, bukan satu suku, bukan satu agama, bukan satu kelompok, bukan satu golongan, dan bukan hanya kita, tapi kita itu satu yang memiliki banyak perbedaan. Oh, jika Tuhan saja menciptakan perbedaan di bumi seharusnya kita juga harus dapat menghargai perbedaan yang ada pada dalam khasanah budaya dan adat negeri tercinta Indonesia ini dong!!!!!!!

Sabtu, 15 Oktober 2011

Sajian mengukuhkan persatuan

Oktober, buat siapapun yang ingin mengunjungi Jogja atau Djogjakarta atau Yogya adalah bulan yang tepat untuk merefleksikan semua pikiran dan kesatuan dalam perbedaan. Kenapa? karena tepat di bulan itu pula kota Jogja berulang tahun, kebetulan kemarin itu ulang tahun yang ke-255, wow..that's wonderful age!

Begini, saya mau menyajikan event yang telah saya tunggu-tunggu dalam tiga hari berturut-turut yaitu "International Ethnic Culture Festival" pada tanggal 7-9 Oktober 2011 di pelataran Serangan Oemoem 1 Maret 1945. Well, awalnya saya gak tahu ini event apaan karena memang diundang lewat twitter oleh teman saya yang bernama Rahmanu yang kebetulan juga dia suka dengan acara cultural beginian, kita satu penikmat seni kali ya? Saya meng-iyakan saja untuk ikut hadir dalam acara itu, ya...memang sih statusnya sebagai penonton, tak apalah.

Saya appreciate sekali dengan kota Jogja yang sering mengadakan acara-acara semacam ini, terlebih lagi budaya mungkin di sini dititikberatkan pada tarian tradisional. Tapi, gak cuma tari tradisional aja sih yang ditampilkan di acara ini, tapi tarian dari negeri nun jauh disana semacam ada peserta dari Spanyol dan Chili ikut terlibat dalam pentas ini.

Hari pertama, kami datang untuk menunjukkan antusias kami dalam acara ini, ya walaupun kami datang berempat sih, saya, rahmanu, dewi, dan dwika yang semuanya adalah teman dari Kopma UGM, tapi kami sangat 'wah' untuk tetap menonton acara ini dari awal pembukaan hingga acara selesai pada malam itu. Sajian yang kami dapat dari acara ini mulai dari tarian Aceh yang sampai kami tertawa karena gerak-gerik dari seorang penarinya yang 'tidak biasa', Jambi, NTB, Sulawesi Selatan, hingga Chili yang menyajikan tarian berupa parodi yang penyajinya melakukan interasksi dengan seorang penonton, yang terlihat dari tarian dan parodi ini adalah kegombalan dan kejayusannya, namun kami juga alhasil bisa tertawa melihat tingkahnya.

Had a wonderful nite at this time, kenapa?karena emang saya gagap dengan budaya Indonesia sendiri, jangankan budaya dari bagian Indonesia mana...tapi budaya dari lokal sendiri aja gak tahu cui... *tabok diri sendiri*

Hari berikutnya, tepatnya pada tanggal 8 Oktober 2011 unfortunetly, saya ketinggalan beberapa tarian daerah karena memang saya dan teman (hario) sengaja datang tidak pada jam-jam awal dimulainya sajian kesenian tersebut,