Tampilkan postingan dengan label Jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jogja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

Gunung atau Pantai

Coba sebutkan, berapa banyak pantai yang kamu sudah kunjungi? hmmm...di Pulau Jawa saja. Tidak usah jauh-jauh. Apa? Anyer, Paragtritis, Pangandaran, apa? Pantai di bagian selatan Gunung Kidul? Oke. Sudah dikunjungi semua? Coba, kalau gunung bagaimana? Gunung yang sudah dikunjungi di Pulau Jawa? Apa? Tangkuban Perahu? Bromo? Baiklah. Merapi, Semeru dan yang lainnya? Sudah atau belum?Oh, Belum.

Sebenarnya saya bukan untuk menjudge di sini. Saya hanya bertanya. Tidak salah, kan? Memang tujuan wisata orang berbeda-beda. Tidak hanya pantai nan elok dengan warna lautnya, namun gunung yang maha daya agungnya tidak kalah indah, kok. Bangga bukan menjadi orang Indonesia yang banyak tujuan wisatanya?

wsncyd lagi di Lawu (pos 4)
Di Jawa saja. Tidak usah menyeberang ke pulau tetangga, deh. Kita dapat paket komplit, bukan? Pergilah ke Ciamis atau Jogjakarta, kita bisa disuguhkan dengan pantai-pantai dengan panorama yang sangat indah. Tidak hanya pantai saja, di Jogjakarta juga terdapat wisata petualangan yang berupa gunung. Benar. Gunung Merapi. Bahkan disekitarnya ada gunung-gunung lain, seperti Merbabu dan Lawu. 

wsncyd dan kawannya lagi aksi di Pantai :)
Sedikit bercerita pengalaman dari teman-teman. Banyak sekali yang ingin mendaki (istilah naik gunung) karena melihat foto-foto pendakian, cerita dari teman, atau bahkan dari nonton film (?). Apapun itu, tidak masalah jika minat melakukan pendakian, meskipun dikatakan pemula. Saya juga, kok. Sekian banyak dari teman-teman, ada yang menyerah saat pendakian atau ada yang 'ketagihan' mendaki. Well, itu hanya kalian yang bisa menentukan. Menyerah kenapa? Pertama, karena gunung merupakan tujuan wisata petualangan yang memakan banyak stamina dan kedua adalah mendoktrin dirinya sendiri menjadi anak pantai. 

Saya juga cinta pantai, kok. Pantai memiliki kesan sendiri untuk 'ritme' hidup yang santai. Ingatkah dengan pernyataan yang entah dari mana sumbernya yaitu "nyantai kayak di pantai". Ya, demikianlah pantai. Biru langit dan laut memiliki energi positif bagi penikmatnya. Untuk persiapannya pun tidak ribet seperti melakukan pendakian.

Nah, maka dari itu. Saya memberi gambaran bagi siapa saja yang ingin merencanakan kegiatan liburannya untuk memilih pantai atau gunung.
Bagi anak gunung biasanya:
- Ada persiapapan fisik dan mental baik pemula ataupun yang sudah pengalaman.
- Peralatan pribadi dan supply makanan harus dapat diperkirakan hingga akhir pendakian.
- Membentuk tim dan berkelompok.
- Mematuhi aturan atau prinsip pecinta alam.
- Sopan dalam pendakian

Bagi anak pantai
- Tidak ada persiapan fisik atau mental kecuali yang fobia
- Makanan? Banyak warung
- Sendiri, berdua, atau berkelompok ke pantai tidak masalah.
- Prinsip pecinta alam tetap dong dijaga.
- Pantai semua santai, pakailah pakaian yang tepat, masa iya ke pantai pake jaket tebal dan mengenakan menutup badan.

Jadi, tergantung pula  seorang itu menggeluti hobby-nya. Biasanya paling dominan ya memang pantai. Tetapi, sayang dong kalau di Indonesia belum pernah naik gunung? Masa cuma Bromo dan T. Perahu, doang? Mungkin, ada satu hal lagi yang membuat kagum naik gunung, betapa kecilnya kita dan Maha Besarnya ciptaanNya. Oia, adalagi! Kalau Cewek-cewek pasti akan terkagum-kagum dengan para cowok-cowok yang membuatkan makanan, karena biasanya naluri cowok di gunung terlihat seperti pria. Meski makanannya aslinya tidak enak. Ya bagaimana lagi, namanya juga laper. Ingat juga, sampahnya juga diberesin lagi ya?

Pastinya, akan ada cerita yang dapat disampaikan ke manapun kita pergi, baik gunung ataupun pantai. Place to go before you die is mountain, I notice you who haven't to go there. Percuma, dong? Masa gunungnya dianggurin. Oke, tadi ambigu. Mari menjelajah dan berwisata ke manapun dan di manapun! Intinya begitu. 

Salam Lesatari :)

Kamis, 06 September 2012

Rindu akan galak tawa sahabatku kelak

Malam, Kotak Bintang dan secangkir kopi untuk menemaniku malam ini. Perlahan saya akan memasuki masa-masa hening dan evaluasi diri kepada sang pencipta, seperti biasa menjalani hari-hari untuk ingat kepadaNya. 

Kotak Bintangku sekarang sedang dalam keadaan yang boleh dibilang keheningan-rasa-asa, seperti biasa saya keluar sekedar untuk makan malam dan bercengkrama dengan sahabat-sahabat yang bukan lain adalah Iis, Cungil, Eriana, Riza dan adiknya, serta Dian. kali ini bisa dibilang keberuntungan saya dan yang lainnya, dalam rangka traktiran kesuksesan atau bahasa gaulnya slametan Iis yang sudah dinobatkan menjadi wisudawan dari UGM dan memperoleh gelar sarjana. Apa sih yang gak enak kalau dari kata traktiran?hehe...Seneng saya melihat sahabat sendiri sukses dalam sebuah perjalanan sukses di akademik, mereka adalah orang yang siap untuk menuju 'perjalanan' sesungguhnya, termasuk saya yang sedang berusaha mewujudkannya.

Seperti biasanya, ketika pertemanan yang sudah erat terjalin, obrolan-obrolan yang ngalor-ngidul gak jelas yang dilontarkan oleh sahabat-sahabatku ini, terkadang timbul rasa senang, nyebelin, dan mungkin yang paling jelas itu kalau udah ngobrolin pacar alias jodoh, maklum, beberapa dari kami termasuk saya berstatus jomblo gak pake ngenes.hehe...

Celotehan dan gelak tawa para sahabat ini yang membuat hidup di Jogja makin hangat, bahkan kami pun menjalin ini karena senasib dan sepenanggungan di kota bernama Jogja dan dari satu sekolah, eh tapi eriana dan Riza gak satu sekolah ding, ya pokoknya kami menemukan arti bisa-dibilang-sahabat di sini. Berbagi dan saling menginspirasi.

Namun, ada yang membuat saya semakin dirundung kesedihan, bukan...bukan karena saya sedih atas kesuksesan Iis, tapi, selama saya bersama mereka, rasa kebersamaan bersama mereka pasti akan menuai kerinduan, ya...kerinduan akan sosok mereka di kemudian hari. Entah celetukan dan tawa Iis yang membuat keceriaan atau rasa ingin mengejek dan cara dia melipat mulut kala cemberutnya, atau si Eriana yang bersosok ala ala ustadz dengan syiar agama, satu-dua sama Iis sih kalau cemberut, tapi karena perawakan Eriana yang sedikit gemuk jadi seperti bantal dan kadang berceloteh yang tidak lucu alias jayus. Senyum kecut Desti eh Cungil pun nampak ketika dia dipojokkan dan kadang sering sibuk dengan dua buah Smartphone-nya yang entah-dia-berhubungan-dengan-siapa atau bahkan ketika kesalnya kalau sudah dipojokan menggebrak meja kalau sudah terus-menerus di ceng-cengin. Ah, kenangan hangat ini pasti tak akan terlupa.

Inilah yang saya takuti ketika saya harus berpisah, saya tahu pepatah "Ada pertemuan pasti ada perpisahan" yang benar-benar akan terjadi, disaat mengetahui siapa diri kita sebenarnya dan sosok merekalah yang mungkin paham akan keadaan kita seperti apa. Memperhatikan sosok seorang sahabat ketika di penghujung pencapaian suksesnya merupakan senyum bahagia yang bisa dirasa dan dibagi tanpa terkecuali dan perpisahan yang akan selalu dikenang disaat-saat seperti inilah terkadang sulit untuk ditemui kembali pada seseorang. Semoga kesuksesan tercapai pada diri saya dan sahabat-sahabatku. 

Eh, maukah kamu membaca atau mendengar penggalan lagu ini :


Kawan dengarlah

Yang akan aku katakan
Tentang dirimu
Setelah selama ini
Ternyata badanmu (untuk Eriana)
Akan selalu gemuk
Eh, Kamu kaya gorila

Cobalah kamu ngaca
Itu muka kemerahan (untuk Agung)
Dari pada gigi lu
Kayak kelinci
Yang ini udah galau (untuk cungil)
Suka ngambekan
Kau idung kutilan (Untuk Iis)
Tapi ku tak perduli
Kau selalu di hati

Kamu sangat berarti
Istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti
Kita t'lah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini

Ketika kesepian menyerang diriku
Gak enak badan resah tak menentu
Ku tahu satu cara sembuhkan diriku
Ingat teman-temanku

Don't you worry just be happy
Temanmu di sini


(Project Pop)
atau

"Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali

Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi

Bersenang-senanglah
Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah

Kar'na waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua"


(SO7)

PS
Maaf karakter lagu Project Pop saya ubah berdasar perhatian yang saya liat pada kalian. hehe...


Selasa, 04 September 2012

Go SEPTEMBER

Skripsiku tak semudah menggoreskan isi hati ini di dalam blog #tsah. Skripsi sudah masuk 1,5 semester ini atau ini merupakan skripsi ketiga saya yang ditulis pada KRS ku. Harapannya sih, November ini bisa diwisuda, iya, diwisuda di gedung megah GSP UGM dan ritualitas seperti wisudawan-wisudawan lainnya.

Saya merupakan mahasiswa dari angkatanku yang belum lulus, memang sih ada beberapa temanku yang lain, ya, cuma teman satu penelitianku saja sudah diwisuda sebelum saya, gimana gak malu?malu-maluin umat aja deh.

Beklah, Go September!!!!Gerak...


P.S.
Ternyata saya pun bisa curhat di blog, ah, gapapa, saya prefer curhat akademik ketimbang cinta :((

Minggu, 18 Desember 2011

ceritadua mari dinikmati (JAFFJogja)

saya meriviu beberapa perhelatan festival film di Jogja, yang sebelumnya saya tidak tahu keberadaannya *wink* maaf, anak rumahan eh kosan :))
Seperti cerita sebelumnya dibagian ceritasatu, saya akan membahas beberapa film yang sudah saya tonton di JAFF ini.

1. Merupakan sebuah karya dari Teddy Soeriaatmadja berduarasi 76 menit berupa film fiksi. Berikut adalah sinopsisnya : " Cahaya (Raihaanun Soeriaatmadja) adalah seorang gadis 19 tahun yang mencari ayahnya di Jakarta. Ia merupakan lulusan pesantren yang sedang menghadapi masalah pribadi. Cahaya ditinggal oleh ayahnya Saiful (Donny Damara) sejak umur empat tahun. Namun Cahaya mendapati kenyataan bahwa ayahnya adalah seorang transgender. Kekecewaan pun melanda Cahaya yang awalnya membayangkan ayahnya adalah seorang ayah yang ideal. Pertemuan antara Cahaya dan Saiful di jalan tempat Saiful bekerja kemudian membuka dialog di antara mereka yang terputus selama 15 tahun"

Sabtu, 17 Desember 2011

Murah itu...?

Sekitar pukul 17.00 seperti biasa hal-hal yang mendasar manusia itu dan seperti kewajibannya, bahwa merasakan lapar dan harus makan. Saya, cungil dan Agung janjian di depan kosan cungil untuk melancarkan aksi  bak manusia kelaparan, namun sayang banget waktu itu juga hujan cukup deras dan akhirnya kami menunggu hujan untuk beberapa saat. 

Gak tahu kenapa, sudah hampir 5 tahun hidup dan tinggal di jogja itu kalau makan, pasti saling tanya. "Mau makan dimana?" hal dasar yang memang harus dipertanyakan kembali. *seriusan ini*. Ya, tapi tetap saja perginya ke warung itu-itu juga. Belum pernah mencoba makanan ekstrim gitu. (maksud lho?B2 atau B1 gitu) bukan...bukan itu, ya emang jarang ada aja gitu, nah setelah mengetik ini kepikiran juga "emang apa lagi yang jarang di jogja?". Ah sudahlah...yang penting istilah melawan lapar ya KENYANG :D

Kamis, 15 Desember 2011

ceritasatu telatnya jalan cerita pertama (JAFF - Jogja Asian Film Festival)

Rabu seperti biasa merupakan hari kosong kuliah yang saya terima walaupun sudah semester *sensor* tapi ini bener-bener hari tidak produktif sedunia *menurut lo?*
Bukan karena saya mengganggur, tapi memang saya sudah jarang ke kampus, itu pun kalau ke kampus saya cuma nongkrong-nongkrong dan terus cabut (harap jangan ditiru, senior tidak baik) :p
sewaktu pulang dari kampus, ada sebuah pesan masuk dari hp saya yang saya kira itu berupa kabar baik dari pihak kerjasama penelitian saya sebut saja PERHUTANI. eh, gak taunya temen saya, Dimas yang berisi ajakan gitu. "Nu, kamu jadi ikut kan nonton JAFF? kita ada dua tiket nganggur lagi nih, kamu ajak cungil atau Agung aja".

Minggu, 11 Desember 2011

sore, di Locker room

Gak biasanya gue fitness sendiri dan apa-apanya pun cari tau sendiri. sekitar pukul 15.30 gue dateng ke tempat Gym di GOR UNY. Sedikit aneh sih yang biasanya gue fitness bareng Eriana, tiba-tiba *clingak-clinguk* SENDIRI!

Eh, bukannya apa-apa ya, gue ter-mind set kalau di Gym itu ada gay, what the...lah, toh niat gue baek, jekk! iya..gue niat baik mau ngurusin badan gitu deh, secara badan gue,*koreksi bukan badan, tapi PERUT* kayak ada "ikat pinggangnya".
Emang sih, di Gym gue gak bener-bener sendiri, tapi ada beberapa petugas, termasuk FO-nya dan beberapa orang yang mengencangkan diri. Gue masuk di Gym Centre UNY tuh dan mintalah kunci locker ke FO, pas gue masuk ke locker room gue liat udah ada dua cowok yang di kamer mandi. Gini, locker room di Gym-nya itu emang samping-sampingan ama kamar mandi plus tempat salinnya gitu. OKE, clear? *sorry merk shampoo gue bawa* hihihi....
Masuk ke cerita lagi, gue sih gak merasa kenapa-kenapa dengan cowok itu yang berperawakan besar bak samson, nah satu cowok ini gue gak liat cuma gue emang denger cowok samson ini ngobrol. Sudahlah...jangan pikir yang enggak-enggak dalam hati gue.

langsung menuju cardio gue ambil tritmil disitu selama 15 menit, ya ampun gue ngerasa ini beban hidup gue kalo nurunin berat badan itu gak gampang, secara gue malesan orangnya...hihihihi. Terus, selesai gue masuk pemanasan *ini pemanasan badan karena gerakan loh, bukan pemanasan kita yg deketin kompor *PLAK* dan dilanjut dengan angkat beban, boy....beban hidup gue udah banyak kenapa harus angkat-angkat segala? *nangis dipojokkan* *lempar handuk* *peluk drew barrymore*siaaaaaappp!gue yakin bisa dalam hati apapun untuk SEHAT dan KURUS tentunya.hohoho....
Selang satu jam sudah gue angkat-angkat beban di ruang berbeban *Gue lupa ini apa ruangnya, soalnya emang alat-alat beban semua* gue masuk ke ruang cardio lagi dan tritmil lagi selama 15 menit, eh tapi bukan tritmil, sepeda statis ding. (!)

Gleek...
Ah..plong deh, udah nge-gym gini, minum dulu ah...
gue lupa, kalo jaman sekolah dulu sekelarnya olahraga pasti ada DOA, yaeyalah....eh bukan itu, ada pendinginan. (ruangannya udah dingin, JENDERAL!) yey, ini jadi seperti pengaturan dan penenangan tubuh kembali yang sudah beraktivitas, nah ini TOLOL nya gue gak lakoni. Fatalnya, pas masuk locker room eng ing eng...GUBRAAKKKK...GUBRAAAAKKK *ini serius loh* waktu tepat pukul 5, lorong menuju sana pun sudah sepi, gue inget pas tadi gue masuk mau nge-gym udah ada 2 cowok di dalam, tapi dengan pikiran positif gue masuk aja dengan santai *dalem ati mah ciyuut* GUBRAAKKKK (lagi) terdengar suara daun pintu yang dibanting, haduuuhhh..gue tetep berpikir positif ini. Gue buka locker yang ada tas di dalamnya, terus gue salin di ruang bersalin *yaelahhhh, Nu. Lu mau lahirin?* maksudnya di ruang salin, hehe...pas lagi buka sepatu....cyyyyuuuuuuut *sumpah gue gak bisa niru suaranya* I got cramp! GOOD! pas di ruang mungil itu, kedenger lagi suara GUBRAAAAKKKK, haduhhh...gue tergeletak gak bisa apa-apa disitu, cuma bisa ngelurusin kaki aja, rasanya ini kok serem bercampur tegang gitu, pikiran gue udah kemana-kemana, dari itu sosok mahkluk yg tidak nyata, sampe gue inget 2 sosok cowok mau memperkosa gue (amit-amit). Sambil pijet-pijet kaki, gue mulai berdiri, tapi aduuuuhhh...parah, sakit lagi bung...tergeletak lagi. udah lah, gue udah pasrah ini mah! Dengan bacaan komat-kamit mantra AlQuran yang gue hapal aja, gue pijit lagi itu kaki, dan TARRAAAAA...alhamdulillah, normal lagi, wah..karena sudah berpikir negatif gue buru-buru deh salin dan keluar meninggalkan tempat yang sangat misterius itu.

TAMAT!

Minggu, 23 Oktober 2011

berakhir antiklimak

Sore, tanggal 22 Oktober kemarin, saya sedang menunggu di kos, menanti pukul 18.00 untuk datang menepati janji, kok begitu penting ya di hari itu. Karena siapa sih yang gak mau ketinggalan acara yang konon sudah menjadi agenda tahunan di kota Jogjakarta, benar...Jogja Java Carnival atau JJC. Pukul 17.00 di kos saya biasa bermain dengan anak kos, yang jelas sih nonton MV-nya SNSD (habis gak bosen-bosen, hihi...) mengisi  kekosongan bersama si Erwin dan Eka yang kalau kita ngobrol sudah ngarol ngidul kaya gak ada arah.
"nu, ira mau nonton JJC tah?itu kuh deleng ning metro tv (maksudnya di teks berjalannya) malioboro arepan ditutup dalane jam 18.00" sahut si Eka.
"ah, bagen bae, ntar kita parkirnya kalo bli ning jalan mataram ya di stasiun tugu" balas saya.
"wis, ira kuh gageh siap-siap" sela Erwin, dan saya pun berkata "ya wis lah".

Tak terasa hasil akibat waste multitasking kami berakhir pukul 17.25 yang diakhiri saya bersiap-siap ke kamar kos dan beres-beres, karena memang janjian pukul 18.00 di Kopma UGM dengan para cultural junkie , siapa lagi kalau bukan Rahmanu, Iwayan, Dewi dan Dwika. Sembari bersiap-siap saya sempatkan magrib dahulu di kos, ya maklum memasuki waktu magrib juga ini. Selesainya saya pun berangkat ke kopma UGM, dan sudah ada Dewi yang sedang mengobrol dengan Danang.

"Hai, mas Wisnu...jadi kan ke JJC nya" sapa Dewi.

"Hallo, Dewi. Danang, pie kabare?"Jawab saya.  "Baik, mas!" (sambil berjabat tangan dengan Danang). Saya lalu melemparkan pertanyaan kepada Dewi lagi "Lah, Rahmanu mana?". "Tuh, di Ruang Bisnis" jawabnya. Sambil melongok ke arah ruang bisnis saya melihat Rahmanu dengan gaya ala traveler-nya tampak mantap.

"Mas, titip tas dulu ya aku mau sholat dulu" pinta si Dewi. "OK" kata saya.

Sambil menunggu yang lain dan duduk-duduk disitu saya dan Rahmanu bercakap-cakap, tak lama Dwika pun datang dengan motor Jupiter-nya, kami sudah berkumpul, namun Wayan belum datang juga, karena kata Rahmanu kalau Wayan tadi sekitar pukul 16.00 baru sampai di Wates, selepasnya dia libur co-ass di Cilacap, namun beberapa menit ada sms masuk dari hape saya dari Wayan "Kalian Dimana?" saya balas "kita udah di Kopma nih, dah pada kumpul..." lalu sms balasan pun tiba lagi "di bag. mana?" belum sempat saya balas saya bilang ke Rahmanu "eh, Wayan sms nih katanya di bagian mana?" sambil membuka smsnya Rahmanu pun bilang "oh, aku juga disms eh..." namun karena sms itu Rahmanu penasaran ke bagian depan dan melihat wayan sudah menunggu disitu.

Karena formasi sudah lengkap, kami pun mulai meluncur setelah selesainya dewi sholat, namun ada hal yang mengganjal untuk tempat parkirnya........


to be continued....

Senin, 17 Oktober 2011

Sajian mengukuhkan persatuan part II

Indonesia itu satu, dan Pancasila itu dasarnya
well...well..well....
Daripada udah kebablasan dengan aktivitas yang lain, mending saya lanjutin kelanjutan dari artikel sebelumnya.

Siapa sih yang gak percaya kalau acara kebudayaan itu bisa membuat orang-orang (re.Indonesia) itu kokoh untuk menjalin persatuan dan kesatuan, dalam artian adalah jika persatuan adalah sebuah proses untuk "menyatukan" perbedaan dan kesatuan adalah bentuk dari kokohnya perbedaan yang dijadikan satu, oke itu hanya dari arti menurut saya. Nah, kenapa saya menuliskan seperti ini? Karena, rasa persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia seakan-akan mulai luntur oleh isu yang beredar diluaran sana, apalagi kalau bukan 'Perbedaan'.

Oke, lanjut cerita pada rangkaian acara IECF 2011 pada hari ketiga, seperti biasa kami (lagi-lagi saya perkenalkan lagi personil yang hadir) berempat yaitu saya sendiri (si Jekk), Rahmanu, Dewi, dan Iwayan. Walau dihari ketiga ini merupakan gelaran terakhir, namun antusias kami dan para penikmat seni tentunya juga masih berkobar, karena tidak ingin menyia-nyiakan momen yang bisa dibilang jarang-jarang diadakan. 

Untuk rangkaian acara di hari yang ketiga ini cukup dibilang spektakular, kenapa? karena dihari ketiga ini juga kami bisa melihat secara langsung kolaborasi dari beberapa tarian daerah asal Indonesia yang dijadikan satu yang berseting di bumi Kalimantan dan menggambarkan bahwa masih ada rasa toleransi diantara mereka (si seniman) meskipun mereka itu berbeda dan perbedaan itulah yang menguatkan mereka bahwa inilah Indonesia. Tak lepas dari itu, tarian-tarian dari daerah lainpun masih menonjolkan sisi seni dan keperkasaan seperti yang saat itu juga yang disajikan adalah dari daerah Lampung, KepRi (Kep. Riau), Riau, Sumatera Barat, DIY, bahkan seniman asal Spanyol pun menyajikan tariannya dengan enerjik.

Acara pun berakhir pada pukul 10.00 wib dengan diumumkannya pula pemenang dari acara IECF 2011 dan penobatan juara dimenangkan oleh Lampung. Di sini lah ada beberapa kalimat yang masih tertanam di kepala yang saat itu disampaikan oleh dewan pengamat (juri) bahwa " Seni tari dari berbagai daerah itu tidak bisa di lombakan, bahwa seni yang dipertunjukkan di sini (re. IECF 2011) adalah gerak, tata tari, dan kematangan tarian yang dibawakan sehingga menimbulkan rasa kecintaan kepada tarian itu sendiri dan membuat perbedaan itu menjadi satu yang tertampung di acara ini".

Inti dari kegiatan itu memang bukan untuk ajang unjuk kebolehan semata namun ajang untuk mempererat tali kesatuan yang mulai pudar di Indonesia ini. Entah bagaimana persepsi orang menilai dari rangkaian acara tersebut, namun sekarang mulai timbulan rasa dalam diri ada rasa yang memang kuat untuk cinta kepada kebudayaan kita sendiri, buka'mata' dengan paradigma yang luas jika kita ini heterogen, bukan satu suku, bukan satu agama, bukan satu kelompok, bukan satu golongan, dan bukan hanya kita, tapi kita itu satu yang memiliki banyak perbedaan. Oh, jika Tuhan saja menciptakan perbedaan di bumi seharusnya kita juga harus dapat menghargai perbedaan yang ada pada dalam khasanah budaya dan adat negeri tercinta Indonesia ini dong!!!!!!!

Sabtu, 15 Oktober 2011

Sajian mengukuhkan persatuan

Oktober, buat siapapun yang ingin mengunjungi Jogja atau Djogjakarta atau Yogya adalah bulan yang tepat untuk merefleksikan semua pikiran dan kesatuan dalam perbedaan. Kenapa? karena tepat di bulan itu pula kota Jogja berulang tahun, kebetulan kemarin itu ulang tahun yang ke-255, wow..that's wonderful age!

Begini, saya mau menyajikan event yang telah saya tunggu-tunggu dalam tiga hari berturut-turut yaitu "International Ethnic Culture Festival" pada tanggal 7-9 Oktober 2011 di pelataran Serangan Oemoem 1 Maret 1945. Well, awalnya saya gak tahu ini event apaan karena memang diundang lewat twitter oleh teman saya yang bernama Rahmanu yang kebetulan juga dia suka dengan acara cultural beginian, kita satu penikmat seni kali ya? Saya meng-iyakan saja untuk ikut hadir dalam acara itu, ya...memang sih statusnya sebagai penonton, tak apalah.

Saya appreciate sekali dengan kota Jogja yang sering mengadakan acara-acara semacam ini, terlebih lagi budaya mungkin di sini dititikberatkan pada tarian tradisional. Tapi, gak cuma tari tradisional aja sih yang ditampilkan di acara ini, tapi tarian dari negeri nun jauh disana semacam ada peserta dari Spanyol dan Chili ikut terlibat dalam pentas ini.

Hari pertama, kami datang untuk menunjukkan antusias kami dalam acara ini, ya walaupun kami datang berempat sih, saya, rahmanu, dewi, dan dwika yang semuanya adalah teman dari Kopma UGM, tapi kami sangat 'wah' untuk tetap menonton acara ini dari awal pembukaan hingga acara selesai pada malam itu. Sajian yang kami dapat dari acara ini mulai dari tarian Aceh yang sampai kami tertawa karena gerak-gerik dari seorang penarinya yang 'tidak biasa', Jambi, NTB, Sulawesi Selatan, hingga Chili yang menyajikan tarian berupa parodi yang penyajinya melakukan interasksi dengan seorang penonton, yang terlihat dari tarian dan parodi ini adalah kegombalan dan kejayusannya, namun kami juga alhasil bisa tertawa melihat tingkahnya.

Had a wonderful nite at this time, kenapa?karena emang saya gagap dengan budaya Indonesia sendiri, jangankan budaya dari bagian Indonesia mana...tapi budaya dari lokal sendiri aja gak tahu cui... *tabok diri sendiri*

Hari berikutnya, tepatnya pada tanggal 8 Oktober 2011 unfortunetly, saya ketinggalan beberapa tarian daerah karena memang saya dan teman (hario) sengaja datang tidak pada jam-jam awal dimulainya sajian kesenian tersebut,