Tampilkan postingan dengan label Backpacker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Backpacker. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2015

Intro: let's begin the Journey to East!

Ah, April! I hope this is ain't shit just because April fools. But I was really excited. 

Few hours before left the town...
Tumben, gue nggak kena sindrom pra-travelling, mencret maksudnya. Tapi ya syukurlah. Kebetulan, jarak kantor sama stasiun Cirebon Kejaksan nggak begitu jauh. Kalo bisa jalan kaki, bisa 15 menit, doang. 

Berangkat dari Cirebon pukul 18.47 pakai Kereta Gumarang kelas Executive, ada yang bilang "katanya backpacker, tapi kok pakai kereta Executive?" Gue bilang dalam hati "peduli syaiton, amat!". Gue udah lama gak jalan jauh, jadi rasanya agak aneh aja sekarang bisa jalan-jalan lagi. Nggak peduli lagi sama nanti mau nggembel di mana? Gue udah punya duit sendiri! Bwek... :p

Ekspektasinya demikian, berasa tajir! Padahal masih kelas teri, anak teri, malah. Hehe... Dan ini juga pertama kalinya gue ikut acara OPEN TRIP dari twitter, kebetulan juga memang udah ada niat ke destinasi tersebut, sih. 

Pertanyaannya: mau nge-trip ke mana emangnya?

Jawab: ke Ijen! 

Itu tujuan utamanya, tapi kebetulan si organizer-nya ada tujuan tambahan, gue makin Excited, lah. Dari dulu selain ke Ijen impian waktu jaman masih kuliah, pingin juga ke Taman Nasional Baluran. Kebanyang, ke daerah padang Savana yang masih ada binatang liarnya, kayak di acara Animal Planet di Africa, tapi karena ini ada di Jawa, makanya bernama Africa van Java! Whoaa..!

Tepat pukul 03.24, gue udah ada di Surabaya, sesuai briefing lewat surel, di tanggal 3 April 2015 untuk meeting point-nya di Surabaya pukul 6.00-7.00. Di hari sebelumnya, pihak @funAdventure_ melalui tour leader-nya mengirimkan sms, bahwa Fafa akan menemani selama perjalanan nanti. Di sanalah, gue terus menghubungi dia. Karena MP hanya di Gubeng stasiun dan Airport Juanda, terpaksalah gue harus ngojek dulu ke Gubeng, karena Gumarang berhenti di Pasar Turi. Dengan masih cengo turun dari kereta, gue cuma butuh sandaran, tapi karena kamu gak ada, maka lantailah yang menjadi tempatku...berbaring. Blah! :p

Mencari waktu luang, di pasarturi gue sebenernya mau cari kamar mandi, sayangnya, di sana nggak boleh mandi. Jadilah gue jalan kaki ke Indomart stasiun untuk cari sarapan. Karena tau semalaman perut gue kaga diisi, malah adanya angin AC, bakal tau kan kalau efeknya apa?

Hampir pukul 5.30, gue cabut cari ojek menuju stasiun Gubeng. Sialnya, entah kenapa gue selalu "ada apa-apa" dengan kota berjulukan Pahlawan ini. Sesaat gue ditawari ojek oleh bapak ojek dan deal dengan harga 20.000 menuju Gubeng, langsung naik ke jok boncengan, lalu "brmm..shooookkk gubraaak" kita berdua jatoh dan menabrak palang pintu parkir motor. Lucunya, jatohnya gue itu sampe menindih kepala bapak ojek itu. Kalau kata petuah, sih, "jatuh di depan umum, 1% sakit, 99% malu" emang gue malu! Beberapa menit, gue berlanjut dengan ojek yang sama menuju Gubeng.

Kalau kalian mau tau, kesialan apa saja yang pernah gue alami di Surabaya, bisa kok mampir di sini (http://wsncyd.blogspot.com/2013/12/surabaya-oh-surabaya.html?m=1)

Tepat pukul 06.00 gue sampai di Gubeng, bertemu depan Alfamart, selepas membalas sms dari Fafa, gue langsung ditemui olehnya. Di sana, sudah ada 4 orang. 3 orang cewek dan 1 cowok. Gue kenalan sekilas, yang beberapa menit kemudian gue lupa namanya. Hehe... Senjatanya biar tetep soan, gue panggil mbak atau mas aja. Kemudian setelah gue masukin daypack gue ke mobil elf pariwisata, ada beberapa orang lainnya muncul juga, dua orang cewek asal Bandung, 2 cowok dan 1 cewek dari Surabaya. Ternyata, belum lengkap 10 orang ini. Kami harua menuju Bandara Juanda untuk menjemput empat orang dari Jakarta. 

Dan ceritapun dimulai...

Senin, 04 Maret 2013

The Story Behind of Majapahit Civilization

"Have you traveled just for spiritual journey?" I think rarely people do that. But, this my experienced recently where I was going to Mojokerto, East Java. Some story to make me feel like "I am nothing" and "I don't have any further to explain what my religion is".

What do you know about Mojokerto Residence? Some of you thought, there is nothing to explore more than just people who live there, but few people know this place had have historical story. It's all about history. The story behind Javanese apocalypse was stand and its huge impact to others. It was named Majapahit.

Majapahit was built when it called "Sirna Ilang Kertaning Bhumi" and I have no any idea to explain it, but friend of mine told the meaning that was 1400 Masehi ( Sirna = 0, Ilang = 0, Kertaning = 4, Bhumi = 1; reverse). The big kingdom was we had at the time. 

What will you get?

1. The history journey
candi Brahu (Brahu temple)
Go back from ancient story, when I was in elementary school, my teacher taught we had two kingdoms which colonized another country and had big power. They were Srivijaya (Buddha) well-known in Sumatra island and Majapahit (Hindu)  in Java island. Each kingdom was greatness in difference age.

Honestly, I am not good at history lesson unless I am looking by myself to visit history places. This is it, Majapahit told me anything. I was envy when arrived at candi Brahu which is one of the Majapahit building was steady and there was students of elementary school visited and learnt the history. I never know what candi Brahu is, and evidently it was cremation place. There is some temples around and such brought us in century ago. 

candi Bajangratu
Later, we came in to museum Majapahit and showed of historical object which is like stupa, ancient money, Buddha statue, the God of Shiva and many things. The interesting thing symbol was Shiva. My friend told me that Indonesian was Shiva-ism at the time and Balinese, too. He brings that look-a-like 'pengusir' flies at left hand and another characteristic is his neck coloring with blue which mean he 'eat' the sins all the evil.

2. Story 
Everybody does have story wherever they go. Even though your story is not mine. We went to Mojokerto with 3 others. My friends was worshiping when I took some photo of his. I respected what they did. We live in diversity. Actually, I was minority among my travel buddy, they are Hindu and I am Muslim. 

A questioned to me from my friend about aqiqah and that was awkward moment because I couldn't answer. Oh, shame on me. But I learn from this situation and respectful journey, I must learn how to be a good Muslim properly. 

3. Friends
Point no 2 and 3 are my own thought. It simply to find but difficult to appropriate a friendship. We just friend in common, tho.

I am impressing to Indonesia, its culture, its respect, its different and its power. Even if the history tell us we had super power at the time, but we can conquer toward Indonesia nowadays. I love my country.

p.s
English version, sorry for all grammar mistakes because it's first time. Another story I would to tell in Bahasa. 

Selasa, 26 Februari 2013

Gunung atau Pantai

Coba sebutkan, berapa banyak pantai yang kamu sudah kunjungi? hmmm...di Pulau Jawa saja. Tidak usah jauh-jauh. Apa? Anyer, Paragtritis, Pangandaran, apa? Pantai di bagian selatan Gunung Kidul? Oke. Sudah dikunjungi semua? Coba, kalau gunung bagaimana? Gunung yang sudah dikunjungi di Pulau Jawa? Apa? Tangkuban Perahu? Bromo? Baiklah. Merapi, Semeru dan yang lainnya? Sudah atau belum?Oh, Belum.

Sebenarnya saya bukan untuk menjudge di sini. Saya hanya bertanya. Tidak salah, kan? Memang tujuan wisata orang berbeda-beda. Tidak hanya pantai nan elok dengan warna lautnya, namun gunung yang maha daya agungnya tidak kalah indah, kok. Bangga bukan menjadi orang Indonesia yang banyak tujuan wisatanya?

wsncyd lagi di Lawu (pos 4)
Di Jawa saja. Tidak usah menyeberang ke pulau tetangga, deh. Kita dapat paket komplit, bukan? Pergilah ke Ciamis atau Jogjakarta, kita bisa disuguhkan dengan pantai-pantai dengan panorama yang sangat indah. Tidak hanya pantai saja, di Jogjakarta juga terdapat wisata petualangan yang berupa gunung. Benar. Gunung Merapi. Bahkan disekitarnya ada gunung-gunung lain, seperti Merbabu dan Lawu. 

wsncyd dan kawannya lagi aksi di Pantai :)
Sedikit bercerita pengalaman dari teman-teman. Banyak sekali yang ingin mendaki (istilah naik gunung) karena melihat foto-foto pendakian, cerita dari teman, atau bahkan dari nonton film (?). Apapun itu, tidak masalah jika minat melakukan pendakian, meskipun dikatakan pemula. Saya juga, kok. Sekian banyak dari teman-teman, ada yang menyerah saat pendakian atau ada yang 'ketagihan' mendaki. Well, itu hanya kalian yang bisa menentukan. Menyerah kenapa? Pertama, karena gunung merupakan tujuan wisata petualangan yang memakan banyak stamina dan kedua adalah mendoktrin dirinya sendiri menjadi anak pantai. 

Saya juga cinta pantai, kok. Pantai memiliki kesan sendiri untuk 'ritme' hidup yang santai. Ingatkah dengan pernyataan yang entah dari mana sumbernya yaitu "nyantai kayak di pantai". Ya, demikianlah pantai. Biru langit dan laut memiliki energi positif bagi penikmatnya. Untuk persiapannya pun tidak ribet seperti melakukan pendakian.

Nah, maka dari itu. Saya memberi gambaran bagi siapa saja yang ingin merencanakan kegiatan liburannya untuk memilih pantai atau gunung.
Bagi anak gunung biasanya:
- Ada persiapapan fisik dan mental baik pemula ataupun yang sudah pengalaman.
- Peralatan pribadi dan supply makanan harus dapat diperkirakan hingga akhir pendakian.
- Membentuk tim dan berkelompok.
- Mematuhi aturan atau prinsip pecinta alam.
- Sopan dalam pendakian

Bagi anak pantai
- Tidak ada persiapan fisik atau mental kecuali yang fobia
- Makanan? Banyak warung
- Sendiri, berdua, atau berkelompok ke pantai tidak masalah.
- Prinsip pecinta alam tetap dong dijaga.
- Pantai semua santai, pakailah pakaian yang tepat, masa iya ke pantai pake jaket tebal dan mengenakan menutup badan.

Jadi, tergantung pula  seorang itu menggeluti hobby-nya. Biasanya paling dominan ya memang pantai. Tetapi, sayang dong kalau di Indonesia belum pernah naik gunung? Masa cuma Bromo dan T. Perahu, doang? Mungkin, ada satu hal lagi yang membuat kagum naik gunung, betapa kecilnya kita dan Maha Besarnya ciptaanNya. Oia, adalagi! Kalau Cewek-cewek pasti akan terkagum-kagum dengan para cowok-cowok yang membuatkan makanan, karena biasanya naluri cowok di gunung terlihat seperti pria. Meski makanannya aslinya tidak enak. Ya bagaimana lagi, namanya juga laper. Ingat juga, sampahnya juga diberesin lagi ya?

Pastinya, akan ada cerita yang dapat disampaikan ke manapun kita pergi, baik gunung ataupun pantai. Place to go before you die is mountain, I notice you who haven't to go there. Percuma, dong? Masa gunungnya dianggurin. Oke, tadi ambigu. Mari menjelajah dan berwisata ke manapun dan di manapun! Intinya begitu. 

Salam Lesatari :)

Minggu, 16 Desember 2012

MENAKLUKAN ANJANI DALAM DERU BADAI DI BUMI PERTIWI


Kalau bicara soal Indonesia, seraya otak yang bekerja dalam pikiran adalah sebuah bangsa yang besar, mereka dan tak kalah penting juga bahwa Indonesia itu indah. Keindahannya bisa kita lihat dari gugusan kepulauan yang nampak elok, dari Sabang hingga Merauke. Tak hanya itu Indonesia terkenal juga akan budaya dan keanekaragaman sukunya. Bagiku, tanah air ini cantik sekali, termasuk keindahan alamnya seperti laut, pantai dan gunung. Eits, Mendengar kata gunung ingatanku membawa ke beberapa bulan belakangan ini.
“Akhirnya, para penikmat pemandangan alam tapi bukan pecinta alam siap mendaki gunung tertinggi kedua di Indonesia” Seru Wayan setibanya di pulau Lombok “lihat, itu Rinjani, kan? Soalnya gunung ini hampir 2/3-nya dari pulau Lombok” lanjutnya sembari menunjuk arah gunungnya saat dalam mobil.
apalah ini/ :))
Gunung Rinjani? Tertinggi kedua di Indonesia? Pemula? Itulah kami, karena keantusiasannya dengan alam ini, kami relakan jatah beberapa hari liburan untuk berpetualang. Dengan bangganya keenam anak manusia yang jauh-jauh menyebrang lautan dari Jogjakarta untuk menemui si cantik Rinjani dengan tegap menjulang dengan ketinggian 3726 mdpl di pulau tersebut. Bersama 3 orang sahabat lain dari Lombok maka petualangan pun dimulai.
“Nu, nanti jalannya santai aja, ya?aku takut gak kuat” pinta Cungil padaku.
“Oke, santai” jawabku singkat.
“Dengar-dengar dari temanku, jalur Sembalun ini adalah jalur yang paling ‘manusiawi’ loh” lanjutnya.
“Ya syukur, deh” kataku sambil menunggu waktu di RTC Sembalun dan mendaftar ke pos tersebut sebagai pendaki resmi.
Lima belas menit perjalanan kamipun dimulai dan masih semangat sampai beberapa jam kemudian, kami melihat keindahan alam khas pegunungan. Benar. Padang savanna yang mulai menguning, bak permadani yang sangat luas, keindahan Tuhan yang telah  diberikan bagi Indonesia. Mengingat pada bulan pendakian tersebut adalah musim kemarau. Bayanganku tertuju saat beberapa literatur yang menjelaskan pada ilmu geografi tentang vegetasi endemik daerah pegunungan. Oh iya, karena Indonesia adalah suatu wilayah ring of fire tak heran jika banyak dijumpai berbagai gunung-gunung berapi di wialayah ini.
Gunung-gunung berapi ini menarit banyak minat bagi para kalangan tertentu tak terkecuali para ilmuwan yang mendalami ilmu vulkanologi dan para pelancong baik domestik dan mancanegara. Sejarah duniapun mencatat pada kejadian alam saat gunung Krakatau meletus yang membuat seluruh penjuru dunia tertutup kabut gelap selama beberapa hari dan memunculkan anak gunung Krakatau. Sama halnya dengan Krakatau, gunung Rinjanipun pernah erupsi dan sisa-sisanya memunculkan keistimewaan yang lain, yaitu gunung Si Jari dan danau Sagara Anakan yang mengelilinginya dan berwarna hijau toska. Cantik!
“Ayo, kita siap mendaki lagi, sudah diisi, kan, perutnya?”  Semangat bang Udin pada kami berenam dan dia adalah pendaki yang berpengalaman di Rinjani setelah bermalam di pos pertama karena kami telah membunuh waktu.
Meskipun aku bukan seorang mahasiswa pecinta alam, namun prinsip-prinsip pendakian tetap dijaga, yang berisi:
Jangan mengambil apapun, kecuali gambar. Jangan meninggalkan apapun, kecuali jejak. Jangan membunuh apapun, kecuali waktu
 “Semangka! Semangat Kakak!” Seru Mbak Ika yang menyemangati kami terus menerus saat beberapa di antara kami mulai kecapekan.
“Semangka!!” Dengan lantang Eriana, Ari dan Aku menjawab.
Pukul 6 sore kamipun memasuki area perkemahan di Plawangan yang letaknya sudah tidak jauh dari puncak Rinjani. Udara dingin pun mulai menusuk seluruh badan, semua dari kami sudah membalut badannya dengan jaket yang tebal, menutupi seluruhnya agar tetap terjaga kehangatan.
“Waw!” Takjub mbak Ika.
“Eh, Poto-poto dulu sini?!” Pintaku
Beberarapa di antara kami ada yang mengabadikannya lewat kameranya dan Ari menelpon keluarganya dan memberi kabar pada mereka bahwa keberadaannya. Setelahnya, kami menuju tempat kamp.
Sembari memasang tenda dan mencari sumber air, aku melihat-lihat sekitar kamp ternyata bukan hanya dari Indonesia saja yang datang ke sini, namun banyak di antara mereka adalah turis asing. Merekapun tidak sabar untuk mendaki ke puncak Anjani dengan semangat.
“Nanti, kita muncak jam 2 pagi, jadi, setelah kalian makan, tidurlah” saran bang Fuad.
“Oia, nanti jangan lupa bawa air minum juga” tambah bang Udin “Cungil, nanti mau ikut muncak, enggak?”
“hm..enggak, deh, bang!” sahutnya.
Kebetulan, saat awal perjalanan, Cungil-lah yang sedikit berubah fikiran.
Sembari menikmati malam di dekat tenda, aku, Wayan, dan Cungil melihat ke angkasa. Semesta yang sulit didapat ketika kita berada di tengah kota. Menebak rasi bintang-bintang angkasa, hamparan luas bagai perhiasan yang mengkilap. Selain itu, kelap-kelip lampu dari pemukiman penduduk daerah kaki pegunungan Rinjani yang tak kalah cantik, membuat suasana yang nyaman. Setelahnya kami pun pergi tidur ke tenda.
“Bangun, bangun! Sudah jam 2, jadi mau pada muncak, gak?” Suara tenda sebelah membangunkan aku.
“Sudah siap?” Tanya bang Udin pada kami yang akan muncak.
“Sudah!” kami menjawab dengan menggigil kedinginan.
“Semangka!” Seru bang Udin.
“…” tak ada satupun dari kami menjawabnya.
Perjalanan menuju puncak Anjani pada pukul 2 adalah perjalanan yang sangat gelap dan hanya lampu senter yang menerangi kami. Beberapa pendaki yang lain pun siap menuju medan pertempuran.
Saat mendaki, pikiranpun melayang, mengingat kasur, guling dan kamarku di Jogja. Ada sedikit penyesalan pada waktu itu. Namun, karena tekad yang kuat, zona nyaman aku tinggalkan.
Dalam menuju Anjani bersama-sama pendaki yang lain, perjalanan lebih berat dari medan sebelumnya. Jalannya berpasir, licin, dan butuh tenaga yang lebih untuk terus mempertahankan posisi. Karena, semakin besar melangkah, kaki kita akan merosot kembali karena kerikil-kerikil dari sisa erupsi. Beberapa menit kami sempat beristirahat untuk sekedar minum air atau menguyah coklat choky-choky  untuk menambah stamina.
w/ mbak Ika 

Pernah aku mendengar, “Belum ke Lombok, kalau belum pernah mendaki gunung Rinjani”. Tentunya karena selain Lombok memiliki pantai-pantai yang cantik seperti Kuta, Tanjung Aan, Gili Trawangan dll. namun, lihatlah, Rinjani menyapa saat memasuki Lombok dengan tinggi menjulang. Kini, kurasakan butuh peluh dan keringat untuk mencapainya.
Waktu pun tak terasa sudah mulai memasuki pukul 4 pagi, aku dan teman-teman yang lain masih berjuang demi sang Anjani dalam menyapa terbitnya sang Surya. Meski perjalanan kami ke sana belum ada setengahnya. Aku terus berusaha. Aku capek. Aku Istirahat. Begitulah kira-kira adanya.
Setelah beristirahat beberapa menit karena tenaga yang terkuras. Temanku Ari ternyata lebih dulu di depan beserta bang Fuad yang membawa persediaan air. Disaat beberapa temanku mulai kehausan, sudah tidak berbuat apa-apa lagi terkecuali cepat menyusul yang ada di depan kami.
Entah mengapa setelah beberapa meter menuju puncak, medan terus miring dengan beberapa pemandangan batu-batu besar. Aku tak peduli, yang terpenting terus berjalan. Terus melangkahkan kaki, meski tenggorokan sudah kering dan tenaga mulai menunjukkan indikator ‘siaga’.
Jemari tanganku mulai terasa membeku, tak bisa bergerak sama sekali karena dinginnya suhu puncak. Aku berinisiatif saling menggemgam tangan mbak Ika, untuk menurunkan suhu dingin. Angin mulai berhembus kencang. Aku, Eriana, dan mbak Ika melindungi diri di batu sangat besar, menghalau datangnya angin.
Kami bertiga sudah tidak bisa bergerak, terus berlindung di batu besar dengan tenaga yang menurun. Seakan-akan angin terus menusuk dinding pertahananku. Dingin. Sangat dingin. Namun, saat angin berhembus kencang, aku mulai merasakan datangnya kehangatan. Ya. Kehangatan dari munculnya sang Surya. Masih terselimut awan, sinarnya seakan membawa kerinduan yang tersalurkan. Akhirnya, terbitlah sang Surya. Namun, pada saat kami bertiga akan terus menuju puncak, beberapa orang turun seraya berteriak, “ada badai, turun!”. Akupun terkejut dan ternganga. Beberapa orang pun yang telah dan akan menuju puncak turun.
Bergaya ala-ala jalur pulang Plawangan-Senaru
Ternyata, untuk menaklukan sang Anjani memang sulit, entah manusia super seperti apa yang bisa menaklukan dia. Mungkin, memiliki tenaga yang kuat saja belum tentu dapat ditaklukan. Apakah sang Anjani marah pada saat itu? Sehingga mendatangkan badai? Entahlah, menurutku ini adalah sebuah pengalaman berharga dan berkesan dalam pendakian menaklukan Anjani. Bukanlah kesombongan atau kebanggaan apabila telah menaklukan puncak, namun, pelajaran berharga yang didapat, agar apabila kelak telah meraih puncak tertinggi, kita jangan pernah merasa puas meraihnya. Sesungguhnya pula puncak sejati bukan berada pada tingginya suatu titik, tetapi bagaimana kita terus berupaya mencapainya agar mengetahui bagaimana jalan menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, setelah pendakian menuju puncak yang belum beruntung, kami melanjutkan perjalanan menuju danau Sagara anak yang tepat berada di bawah kamp Plawangan, untuk sekedar menikmati alam dan berbagi dengannya.
Indonesia, kamu masih menyimpan misteri keindahan yang terus menjadi pusat perhatian bagi banyak orang. Terima kasih atas keindahan yang telah diciptakan bagi bumi Indonesia, Tuhan. Perjalanan masih akan terus kami lanjutkan. Terus. Dan terus.
they are adventurous :)

SALAM LESTARI

Jumat, 24 Agustus 2012

Antara Gengsi atau Syndrom Pra-Traveling?

"Kita mah iri ama si Iis, lancar banget bokernya tiap pagi" sepenggal percakapan si Boli ketika bercengkrama bersama di Semeseta Cafe.

Well, gimana sih ya rasanya kalau metabolisme kita lancar? 2 kali sehari untuk masuk keluar toilet sudah dimungkinkan kita sehat, itu hanya prediksi saya sih, saya juga bukan dokter ahli dan pemerhati kesehatan gizi. Sehat itu memang mahal, jadi kalau ada masalah dengan metabolisme, ya bisa saja kita makan-makanan yang tidak sehat.

Berbeda pula ketika saya melakukan jalan-jalan ke Indonesia atau ke luar negeri, nampaknya saya mengalami sindrom pre-traveling atau pas traveling alias gangguan metabolisme yang beranomali, halah. Ceritanya begini, ketika saya jalan-jalan ke Thailand, kebetulan kondisi fisik ini rasanya kurang sehat namun saya yakin ini hanya sindrom dan masa recovery dari flu sehingga saya mensugestikannya bahwa pasti akan baik-baik saja. Benar, selama di Thailand, saya sehat! Eh, tunggu dulu, di mana letak sindromnya?

Entah penyakit turunan atau bagaimana, saya pun tidak tahu, tapi pastinya saya seperti ini. Ketika jalan-jalan waktu itu saya berangkat dari bandara Juanda, Surabaya ke bandara internasional Survanabhumi, Bangkok, Thailand dengan waktu tempuh sekitar 4 jam dengan menggunakan low cost airline alias AirAsia, karena waktu tempuhnya yang lumayan lama, saya sudah mempersiapkan sebelumnya ialah makan siang berupa soto lamongan di stasiun. 

Setibanya di Bandara yang kebetulan masih lenggang dari para calon penumpang, saya masuk menyertakan boarding pass ke dalam bandara dan langsung check in bagasi, seperti para penumpang lainnya, saya menunggu di gate keberangkatan dengan tanpa ada rasa apapun kecuali pilek yang agak mengganggu pada saat itu, berbekal membawa roti saja yang saya beli di stasiun mungkin cukup untuk menemani seperjalanan saya ketika berada di udara. Tapi...Kenyataanya, saya membeli roti yang berencana saya makan selama di udara, malah tidak saya makan karena roti tersebut saya masukkan ke dalam tas dan tas tersebut diletakkan di bagasi kabin pesawat. Apa yang terjadi? Ya, bukannya saya makan roti, namun saya makan angin dari udara dingin AC pesawat selama kurang lebih 4 jam, mau beli makanan, sayang uangnya yang sudah ditukar pakai USD walaupun si flight attendant tidak mempermasalahkan mata uangnya namun kembaliannya ya...Rupiah. Baik, selama itu memang saya gengsi mengambil roti, ah, gapapa daripada saya terlihat norak dan banyak mata memandang dengan aneh, gak urus lah gapapa masuk angin juga.

Damn, sesampainya di Bangkok mulai perut rasanya seperti ada suara air bah tanpa ada yang menyumbat di dalam lambung dan terisi oleh air dan angin, mau kentut juga nanti hasilnya bukan BROT, tapi udah langsung keluar air..iyuh. Saya tahan selama perjalanan menuju Hua Lampoong alias stasiun Bangkok yang akan menuju ke Chiang Mai, dengan estimasi kereta api yang saya naiki tepat waktu. Itulah kurangnya saya dalam hal mengestimasi waktu dan banyak berekspektasi tinggi, in the end, you got suprise! Ya, akhirnya saya bocor juga selama perjalanan ke Chiang Mai di toilet kereta tersebut.

Beda lagi dengan perjalanan yang saya lakukan menuju Lombok pada tahun 2010, bukan karena gengsi saya mau makan di kereta, tapi karena posisi duduk saya yang di pojok dan dipepet, kebetulan pada waktu itu arus balik Lebaran jadi angkutan transportasi lagi banyak-banyaknya penumpang, jadi saya tidak bisa bergerak sama sekali, udah gitu saya dijadiin tempat menyandarkan kepala dengan enaknya di pundak saya, sehingga posisi duduk saya waktu itu kedua paha merapat mungkin seperti habis minum jamu rapet wangi kali ya...dan badan terdorong hingga seperti diikat oleh tali yang kuat, kebayangkan tidak bisa bergerak? Parahnya lagi, bukannya setelah turun dari kereta saya mencari toilet, eh, malah saya melanjutkan perjalanan menuju Bali menggunakan kapal ferry dari Banyuwangi, namun pada saat itu kondisi saya sudah saya isi dengan makanan ketika di kereta selepas kereta tersebut melewati stasiun Jember, kebayangkan naik di ferry yang pada waktu itu sekitar pukul 2an WIB dengan kondisi angin laut yang berhembus kencang dan saya....tidak berjaket! Makin menjadi.....Pada akhirnya saya membongkar muat sesampai di Pelabuhan Gilimanuk. Hahaha...

Mungkin hal tersebut merupakan pelajaran yang berharga bagi saya dan siapa saja, sebelum melakukan perjalanan selain menyiapkan Tolak Angin, eh, FYI sih, saya juga gak bodoh dengan tidak meminum tolak angin, saya juga meminumnya dan berefek sementara kalau memang perut kita belum terisi oleh makanan. Pada akhirnya, saya bisa ber-traveling senikmat-nikmatnya dan legaaa......

Selasa, 14 Agustus 2012

Saya (masih) cinta Indonesia, kok !

Ada kata bijak yang mengatakan "Semakinsering kamu pergi ke luar negeri, semakin kamu cinta Indonesia". Kalimat bijak itu yang membuat saya merasa terhipnotis dan menjadikannya pasti kangen Indonesia, kangen loh..bukan cinta. Tapi... hal lain berkata 'iya' yang menyebabkan saya cinta Indonesia, setelah saya melakukan perjalanan ke tiga negara tetangga.

penampakan 3rd class rapid train
Saya begitu antusias dan khawatir kalau melakukan perjalanan sendiri apalagi ini kali pertamanya datang ke negeri orang, tentunya dengan segala persiapan yang sudah dilakukan meski begitu, tetap saja ada yang tertinggal di dalam list  perjalanan saya, sudahlah yang penting intinya juga saya pegang uang dan bermodal 'sok tau' sudah lebih dari cukup. Hal yang paling saya khawatirkan adalah moda perjalanan alias transportasi ketika sampai negara tujuan, entah karena sayanya terlalu katrok atau polosnya kebangetan menjadikan beban dipikiran saya, kenapa? Coba aja di Indonesia ini, selama saya tinggal di kota orang merasa saya bebas bea untuk naik transportasi yang namanya kereta api di seluruh Indonesia, mungkin pembaca gak usah tahu kenapa bisa begitu. hehehe...

Minggu, 24 Juni 2012

First Impression of Thailand

Grand Palace, Thailand
Apa sih yang lo judge kalau ada temen lo yang pergi ke Thailand? Mau operasi kelamin? Cetek ya pikirannya. Emang gue gak bisa pungkiri kalau memang Thailand kenyataannya begitu sebagai negara yang paling besar dalam sex-changed. Coba kita lihat dong dari sisi baiknya dari negara itu. Sama seperti kalimat di awal, gue juga disindir begitu. Mau ketemu lady boy, operasi kelamin, dsb. Enggak masalah sih sebenarnya, itu hanya sindirian saja, karena memang gue belum pernah ke sana saat itu.

Namun, setelah pergi ke sana apa yang gue liat? Overall, incredible. Sebagai negara Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh bangsa Eropa, Thailand memiliki magnet yang tersendiri bagi dunia pariwisata. Enggak cuma karena ada Temple/Wat saja yang menarik, walaupun itu merupakan daya tarik utama bagi negara itu.

Thailand merupakan destinasi pariwisata di Asia Tenggara yang paling ramai dikunjungi oleh wisatawan asing, bahkan Indonesia yang katanya 'tanah surga' pun, kalah pamor dengan negara gajah putih ini. Sebagai bukti klik sini. Baik, gue enggak mau panjang lebar ngebahas pemeringkatan dan kembali ke topik.
Walaupun gue anak kemarin sore yang datang ke Thailand dan pergi melancong untuk pertama kalinya ke luar negeri, harapan dan antusiasme dengan negara tetangga ini amat besar. Kenapa? Secara gue udah hidup hampir lama di Indonesia, mau tau dong namanya luar negeri dan apa yang gue dapet dari negara itu? Totally AWESOME.

Sabtu, 23 Juni 2012

Tips Mencari Travelmate

Bingung dan ragu adalah dua hal yang lo takutin ketika ingin berpergian jauh sendirian, bukan hanya itu, pasti ada embel-embel lainnya berkenanaan dengan solo traveler, dari gak ada temen buat ngobrol lah sampe gak bisa patungan jajan. Well, kalau memang berniat untuk pergi melancong sendiri, why not? Toh lo juga yang menanggung inti resiko, cuma saja lo juga harus bisa jaga diri dan waspada. Berdasarkan buku dari seorang wanita traveler Indonesia bernama Trinity yang telah menguraikan bahasan teman jalannya juga kamu bisa lihat di sini.

ilustrasi travelmate
Berbeda pula dengan gue yang sering mencari-cari teman jalan sebelum keberangkatan dengan hasil yang nihil. Tuh kan, memang susah nyarinya. Meskipun sudah banyak beragam fasilitas internet yang memberikan media bagi para traveler atau backpacker baik lokal ataupun mancanegara ke berbagai negara tujuan, namun apa daya, namanya juga mencari teman jalan, kadang dapet kadang enggak. Tidak hanya teman jalan lewat media internet, gue pun nyari lewat teman real gue alias temen biasa main bareng, ya...kadang tetep gak ada yang bisa. Namun, gue akan berbagi sedikit tips konyol yang mungkin bermanfaat bagi lo semua:
1. Sebelum lo mencari temen jalan di internet atau temen lo sendiri yang diajak, pastiin kalau rencana perjalanan lo udah terstruktur, jadi kalau ada temen lo tanya, mau kemana aja, lo bisa jawab dengan gamblang. Pastinya lo juga udah nyari info spot-spot perjalanannya dengan budget yang jelas.
2. Kalau mau memulai temen jalan, lakukan postingan di internet itu satu bulan sebelum keberangkatan atau paling lama 2 minggu sebelum keberangkatan. Kasihan juga kan kalau dadakan gitu, apalagi kalau lo dapetnya teman jalan yang orang kantoran, pasti ribet tuh ngurus cutinya.
3. Kalau lo ngerasa masih kurang yakin dapet temen jalannya, sebelum lo berangkat jalan-jalan, coba pastiin dulu kalau lo tuker-tukeran FB-nya dulu, stalking-in temen jalan itu perlu loh, toh buat keselamatan kita nantinya di tempat tujuan kan?Kalau lo masih tetep ragu, ajak lah ngobrol santai alias chatting di skype atau YM. Supaya tau bener-bener tau personalnya.
4. Kalau udah dapet temen jalan dan ngerasa cocok, coba deh, pasti temen jalan lo juga punya itinerary perjalanannya, ajak sharing-sharing kemana tempa tujuan yang kece, pastinya temen jalan lo itu harus asik juga.
5. Masih belum nemu temen jalan? udah fix itinerary-nya? sayang gak udah punya tiket tapi batal? BERANGKAT!!! Gue yakin, lo bakal ketemu juga temen-temen sesama backpacker di sana. Asalkan, lo mau buka mulut, jadi traveler kok pendiem? Dimakan rasa bosen emangnya enak?enggak kan...Seenggaknya kalau lo gak dapet temen nemu di jalan, ngobrol juga lah dengan penduduk lokal, itu juga bisa jadi temen jalan yang singkat alias one night stand #eh. hahahaha.....

Tunggu apa lagi, ayo berangkat dong ah...jangan ragu dan jangan takut, tunjukin kalau lo struggle dan pasang muka yang seram kalau memang lo berangkat sendiri dan satu lagi jangan 'plenya-plenye' alias lembek. Sudah siap jalan sendiri?

Minggu, 17 Juni 2012

Jalan (Tidak) Bersama Teman.

Friends of mine when I was in Gili T
Dear diary, halah...habisan sudah cukup lama enggak mengisi hari-hari lewat dunia tulis menulis di sini. Kebetulan juga tadi selesai "duduk-duduk happy ending" di goeboex bareng si Cungil, Iis, dan Eriana (cowok loh ini) sembari curhat-curhat masalah cinta gitu deh, namanya juga sama teman, ouch... :D
Ngomong-ngomong masalah teman, jadi keinget juga dengan teman jalan, ya...berhubung daku suka jalan-jalan gitu ya, ceu. Jadi, daku mau ngebahas itu aja deh malam ini.

Sering banget kalau mau jalan-jalan entah mau di luar negeri, dalam atau sightseeing keadaan kota, kalo daku sih enaknya ngajak teman, ya gak selalu juga sih si teman bisa, tapi daku tetap jalan aja, toh daku juga yang ngerasain seneng apa enggaknya. Kalau enggak ada teman?Yoben, Pokoknya daku enjoy the show, atau show must go on...

Beberapa pengalaman kalau namanya teman jalan itu kadang susah dicari, kadang teman yang biasanya main bareng alias kongkow bareng aja gak bisa, apalagi ini temen nemu atau baru ketemu di jalan, nah loh...beda kan ceritanya. Fikiran negatif pasti ada lah ya...kalau daku sih ya cuma agak jaga jarak aja dan syukurnya kebanyakan teman jalan daku asik, mungkin daku sudah punya radar si A baik si B gak kali ye...macam dukun gitu deh!pffft....

Rabu, 11 Januari 2012

Outstanding Cepu

Well..well..welcome back hi fellas! Udah lama aja ya rasanya nih gak absen di dunia blogger, setelah sekian lama saya padet jadwal #halah. Tapi iya deh seriusan saya padet dengan jadwal penelitian sebagai mahasiswa penunggu hujan, ini bukan kata-kata kiasan ;)
“Hah?! Penantian juga, Nu setelah 10 bulan lamanya dari Maret-Desember” sahut seorang kakak tingkat ke saya, memang saya menunggu proyekan penelitian ini mengabarkan kabar beritanya.
Desember ini, seharusnya saya bisa pulang kampung atau berlibur bersama keluarga, ah sayangnya itu Cuma harapan sih, but so far buat masa depan juga, saya me-skip waktu-waktu itu, ya lagi-lagi penantian 10 bulan itu yang buat geregetan telah kunjung tiba dan menjadi alasan utamanya sih.

Senin, 31 Oktober 2011

ijinkan aku Pergi Ke

Hai epribadeh...kembali dengan artikel terbaru saya, ya mudah-mudahan gak garing ya, gini nih...pasti ada kan tempat yang kalian ingin dikunjungi di belahan dunia ini, pasti ada lah ya...walau kalian cuma bisa lihat di layar telivisi atau tabloid atau apapun itu medianya, pasti kalian gini "ih..mau dong kesini...tempat ini kan romantis blablabla" dan segalanya, dengan segala embel-embelnya. oke langsung aja ya, saya menceritakan5 negara yang saya ingin kunjungi, and the country goes......to:

 5. Jepang, negara dengan julukan matahari terbit itu menjadi negara yang ingin saya kunjungi, entah kenapa sedari kecil, saya suka anime apalagi yang berbau Dragon Ball(Z) (GT), kayaknya freak banget nih dengan negara ini, selain bisa belajar juga dari kedisiplinan orang-orangnya dan mau belajar dari pengalaman, mereka berkembang. Tapi, sebenarnya saya waktu kecil sih pengen rasanya ke negeri ini, jadi ini impian dunia kanak-kanak beranjak ke usia akhil baliq.


4. Inggris Raya, sebenernya gak ngerti juga sih kenapa saya masukin ke dalam 5 negara yang ingin saya kunjungi, mungkin karena inggris menurut saya merupakan negara dengan peradaban sejarah yang panjang, dikenal dengan banyaknya kota-kota tua, selain itu juga artis, klub sepakbola yang terkenal dengan Kick n Rush-nya ada disini, begitupun saya yang sekarang 'agak' mencintai culture dari beberapa daerah, jadi saya juga mulai memahami cultures mereka. Satu hal lagi yang penting, karena inggris salah satu bahasa internasional dan wajib dipelajari di sekolahan saya jadi cinta negera ini, kan enak kalau bisa ngobrol ama Kate Middleton. Haha...

 3. Perancis, ini negara yang baru-baru ini saya kenal, yang konon bahasanya adalah bahasa romantis, karena saya mulai belajar-belajar dengan otodidak bahasanya, jadi saya pengen deh ke negeri ini. Itu bukan alasan utama saya ingin ke Perancis, alasan yang utama saya ingin ke negeri Napoleon Bonaparte adalah, negeri ini adalah negeri yang menjunjung "persamaan"  ketika awal abad 18 (CMIIW) lewat Revolusi Perancisnya (gak tau nih ya sama yang berjilbab dan bercadar), jadi walaupun kita warga internasional yang datang ke Perancis, jadi kita disamakan dengan warga asli sana. Selain itu juga, Perancis merupakan pusat mode dunia yang menjadi Trand Setter fashion world. Ya walau saya gagap fashion juga saya pengen deh kesini, terlebih lagi saya pengen melanjutkan sekolah disini. Bukan, bukan sekolah fashion tapi sekolah yang berhubungan dengan bidang ilmu saya. Ya ilmu tanah atau pedologi. Parlez-Vous Francais?
 2. Belanda, saya suka negeri Oranje ini, terlebih lagi saya ingin belajar dari negeri kincir angin ini, karena negeri ini memang terkenal dengan sistem bendungannya dan water management-nya membuat saya gregetan pengen kesana. Ya, walau mereka mengetahui negeri ini lewat citra negatifnya, saya akui mereka pun membangun itu semua tidak mudah, perlu orang-orang yang sanggup dengan cemoohan kelak. Tapi saya akui, negeri ini walau sebesar Jawa Tengah dan dibawah batas permukaan laut, saya yakin negeri ini memiliki masih banyak citra positif. Oh, Holland, kapan saya menuntut ke negerimu? Hoe gaat Je? Karena saya juga anak pertanian, saya ingin belajar tentang alam di negeri ini, walaupun sumberdaya alam kita (Indonesia) jauh lebih banyak dari mereka, tapi bagaimana melestarikannya, sepertinya saya harus belajar ke negeri ini.
1. Kingdom of Saudi Arabia, satu hal yang saya tahu tentang mata kuliah Geologi dan Mineralogi Tanah yang masih saya ingat adalah, dari 16 lempeng aktif di bumi, hanya satu yang tidak aktif bergerak, yaitu di daerah Jazirah Arab, ini mengingatkan saya bahwa seharusnya Pusat bumi ada di Arab Saudi, inilah negeri teraman di dunia versi Al-Quran dan Hadist yang saya imani, selain itu, tempat berkumpulnya saudara-saudara seiman, adalagi satu hal yang membuat saya tergetar hatinya yaitu ketika khotbah jumat, "Allah itu maha kaya, tidak ada yang tidak mungkin bagi kita untuk meminta kepada-Nya, kita itu miskin, dengan ijin Allah berdoalah kepada-Nya untuk bisa datang ke rumah-Nya di Masjidil Haram. Tidak ada yang tidak mungkin!!!!!". Bukan, bukan karena saya ingin naik haji saja, rasanya saya ingin pindah dan dekat dengan-Nya.

Itulah akhir dari artikel saya, walau saya hanya bisa membayangkan, namun dengan tekad yang kuat dan tentunya Doa, insha Allah terkabulkan. Ayo nabung untuk jadi kenyataan!!!!!!

Sabtu, 12 Maret 2011

Single Fighter I (lentera jiwa)

Rasa deg-degan dan cemas,pasti itu ada ketika kita akan melakukan sesuatu yang baru dan benar-benar keinginan kita. Itulah saya, saya yang menjadi SINGLE FIGHTER ketika menjadi bekpeker (re. Backpacker) ke lombok-bali. Rasa itu bertubi-tubi merasuki tubuh saya, maklum juga saya kali kedua melakukan backacking dan menjadi SINGLE FIGHTER ini pertama kalinya.


Mencari-cari informasi sebelum keberangkatan itu merupakan hal yang penting untuk travelling apalagi sendiri, benar-benar harus detail dalam semua perjalanannya dan jangan sampai LOST. Kalau sudah gitu ceritanya beda lagi. Mungkin sampai sekarang saya belum bisa posting ini. lol
Repot, repot, repot itu pasti dan tanya sana sini, buka situs mana-mana, cari teman lewat situs atau forum bekpeker semua saya lakukan. Kalau kata tiruannya alm Gusdur sih "gitu aja kok repot!!!" kalau dia masih hidup gue pasti bilang "EMAAAAAANG!!!"


Inilah hari Keberangkatannya, fiuh...berharap kereta yang saya tumpangi tidak sepadat karena pada waktu itu memang lagi ramai-ramainya karena arus mudik-balik lebaran 2010 teringat pula keberangkatan saya itu tanggal 13 September 2010. Kereta yang saya tumpangi yaitu KA Ekonomi Sri Tanjung (pake yang low budget) dari Jogja-Banyuwangi dan kereta berangkat tidak tepat waktu ketika itu kereta berangkat pukul 07.45 WIB.

Senin, 03 Mei 2010

Bromo, You're the 1st My Destiny on Backpacker Journey

judul aja dah kaya gitu...ya isinya musti sama doong!!
ya...setelah ngarep2 keinginan saya tercapai juga untuk backpackeran juga. Ga nyangka, bisa juga.hhee..

Impian-impian belaka yang dulunya ingin pergi ke suatu tempat dan untuk pertama kalinya saya bisa!! Memang susah untuk mengiya-kan backpacker-an ke Bromo awalnya, maklum orang sibuk.
seminggu sebelum keberangkatan ke Bromo, saya ragu karena saya takut jadwal-jadwal semua kegiatan saya ada yang dadakan dan saya benci kalau yang mendadak, makanya saya bilang ke seorang teman yang menjanjikan bahwa lihat nanti atau berkata Insya Allah.
Memang benar saja apa yang saya rasakan, sebelum hari keberangkatan H-1 saya mendapat sms dari sebuah organisasi untuk diadakan rapat dengan BPO(Badan Pengawas Organisasi) gitu..Otomatis saya malah tambah bingung, lalu saya bilang ke teman saya dan mengatakan bahwa saya tidak bisa ikut ke Bromo, antara bibir dan hati berbeda tujuan sih...maklum rasa ingin pergi ke Bromo lebih kuat ketimbang rapat yang dadakan. Namun, setelah pikir panjang saya tidak ikut untuk datang rapat karena janji ke Bromo lebih dulu, ya walau disampingkan mayoritas saya untuk berorganisasi tapi sekali-kali tak apalah..(jangan ditiru ya....).