Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Mei 2017

escaping: to feel sorry

"Nu, kalau pekerjaan itu tidak apa-apa tidak sesuai dengan jurusan waktu kuliah atau dididik di sekolah dulu. Buktinya Ayah dulu sekolah di jurusan kelistrikan tapi kerja masuk di jurusan telekomunikasi" tutur Ayah lewat telpon.

Hey, kok tiba-tiba gue udah menulis kalimat percakapan kayak gitu? 

Hayo, what's wrong with you, Nu?

....

Iya, gue mau cerita boleh? Intinya sih gue kabur dari Perusahaan baru tempat gue kerja. Memalukan!

Jadi, begini...

Sebenernya gue betah ya di tempat kerjanya, cuma ada beberapa yang bikin gue gak tahan dan gak mau berlama-lama alias berkarir di sana (iya, sih. Gue baru banget,belum banyak yang tau dari perusahaan itu dan kayaknya gue terlalu parno). 

Waktu gue kabur itu, posisi gue sedang ikut tes kerja di RNI (lagi) dan tidak izin, pada saat itu di tanggal 25 Maret 2017. Tanggal di mana perusahaan-perusahaan dapat gaji, karena salah prediksi jadilah gue gak bisa langsung balik ke Lampung dan berakhir menginap di Jakarta. Gak mau juga minta uang ke orang tua, karena memang pada saat itu gue benar-benar gak punya uang sama sekali untuk balik. Sakit hati sih, karena sebelumnya saja di Perusahaan perbankan gue gak kayak penggajiannya. Inget kan gue juga punya angsuran yang jatuh temponya tanggal segitu. 

"Perusahaannya bonafid gak sih, Nu?" tanya si Ibu pada saat gue memeutuskan resign dari perusahaan lama.

Gue jawab, belum bonafid. Masih disokong oleh induk perusahaannya dan merintis lagi dan lagi.

Gue belum menyebutkan perusahaannya, kan? Gue kasih clue, perusahaan perkebunan yang memproduksi buah pisang, pisangnya sering dijumpai kok di mall-mall kota besar. 

Di tanggal 26 Maret 2017 gue balik ke Lampung dengan membawa surat keterangan sakit dari temen gue yang kebetulan Dokter Gigi. Sampai di mes tanggal 27 Maret 2017 sekitar pukul 9 pagi. Gue tepar di mes, dan mengecek rekening belum ada kredit masuk. Awalnya tanda tangan kontrak diberitahukan kalau gaji sekitar tanggal 25-26 (jika tidak kena hari libur). Selain itu, gue masih ada pembawaan "rapi" dari perusahaan sebelumnya, yang sudah sedemikian rupa aturan dan klausulanya jelas walaupun sama-sama anak perusahaan dari perusahaan induk. 

Di tanggal 28 Maret 2017, gue kabur pukul 8 di saat semua karyawan yang tinggal di mes pada siap bekerja. Oh iya, tanggal 27 sore gaji baru masuk sih. 

Masih emosi gue nulisnya, entah kenapa gue sama perusahaan ini kesel aja.

Maaf, gue kabur dan penuh emosi menulisnya.

Begitu kronologisnya...

Jadi, walaupun gue bekerja sesuai dengan passion gue, tetapi kalau perusahaan itu tidak mendukung dan tidak baik, jadilah gue seperti tadi. Memang, bekerja itu tidak harus sesuai dengan idealitas kita, jika memang bekerja yang tidak sesuai dengan background pendidikannya, tapi passion itu dapat kita dijumpai pada saat kita sedang bekerja.

I am sorry, I just left you!

Kamis, 01 Januari 2015

Kilas Balik 2014 and Good to See You, 2015!

A Good to see you in New Year.

Been busy for couple days and months, so we meet in 2015!

Sedikit sharing, tentang mimpi yang menggantung dan sempat gue posting di sini Saat Mimpi Masih Menggantung: Grateful to The Fullest. Yap, gue gak meragu buat bercerita di sini.

Sedikit Kilas balik yang gue peroleh di tahun lalu.

1. Tahun 2014, at the beginning. Many wish to conquer, I need job badly and went to be stressed. Mimpi? Boro-boro. Gue sedih saat itu, gimana lagi? Hidup datar-datar aja, gak ada kerjaan, gue ngerasa mulai memasuki krisis. Entah apa namanya? 

2. Mimpi gue, mimpi gue kenyataan. Gue ketrima di salah satu perusahaan. Perusahaan rokok, sih. Oh, bentar. Itu juga di akhir bulan Februari. Posisinya, OMT (Operation Management Talent), level awalnya, sales. Blah! Oke gue ambil, karena sebelumnya gue pernah kerja di perusahaan rokok kompetitor. Dari pengalaman jadi sales rokok, gue tadinya mau curhat tentang sales ngenes. Belum terwujud sampai sekarang, deh. belum tiga bulan, gue cabut dari perusahaan itu. Alasannya, nggak digaji. Protes? Percuma! Ya udahlah, ya....

3. Cukup lama dong gue habis cabut dari perusahaan lama, status gue pengangguran lagi. kira-kira hampir di tahun 2014 kemarin, gue sibuk wara-wiri cari kerjaan, dapet panggilan, gagal dapet kerjaan. Siklusnya terus-terusan begitu. Gue kudu kuat!
Tapi, sebagai anak netizen, halah... di bulan Juni, gue bikin deh tuh komunitas nontonCRB, agak ragu sih awalnya. 'berarti gue harus aktif di twitter?' 'update film?' 'gue sendiri dong?' tapi, negative mind it didnt come true, awalnya bertiga, lama-lama, nambah deh tuh. Seneng gue, berasa punya temen 'seiman' rasanya. hehe.... sampai sekarang alhamdulillah masih lancar. Tinggal minta kerjasamanya aja dengan pihak cinema21 atau gak yang bentar lagi buka di cirebon, blitzmegaplex. Biar tambah keren anak nontonnya. Oh iya, gue juga ikut gabung dengan komunitas CirebonBerkebun, sayangnya komunitas ini sudah jarang aktif. Entah kenapa? 

4. September 2014, gue kaget kalau ternyata bokap gue udah pensiun. Tepatnya pensiun dini dan gue belum dapet gawe?! Ketar-ketir gue gimana caranya harus cepat-cepat mewujudkan mimpi, baca motivasi ini-itu, biar gak cedih. blah! Eh, serius. Gimana gak bikin mewek? Kalau posisi gue adalah anak tunggal dan menjadi satu-satunya tumpuan harapan orang tua? Makanya, kalau punya temen anak tunggal jangan suka bilang "enak dong anak semata wayang, bisa beli ini itu dituruti?" Jawab aja "PALA LO KAYAK MANISAN PALA!" Bikin orang tua bangga itu emang gak gampang, dulu waktu kecil kita emang pernah nuntut orang tua buat beli apa aja harus dipenuhi, minimal nangis baru dikasih lah...Nasib anak tunggal? Nggak anak tunggal aja sih, kalau udah besar, seharusnya bisa sadar sesuai dengan tuntutan orang tua yang pingin liat anaknya minimal bahagia maksimal sukses, lah! 


5. November 2014, lumayan lama penantian proses dari tes awal hingga akhir. Gue bisa gawe di suatu perusahaan, memang nggak sesuai dengan catatan kecil mimpi gue dan dengan umur lewat 25 tahun lebih. Gue syukuri, toh kalau kita bersyukur, kita bakal bahagia, kan? Mimpi: Bekerja di perusahaan asing sebelum umur menginjak di 25 tahun. Kenyataan: Bekerja di Bank Syariah Mandiri dengan umur 25 tahun 5 bulan. Ucapkan, Alhamdulillah...
Dulu Ceritanya, gue paling menghindari namanya Bank, entah karena agama atau karena gue minder berwarna kulit gelap, dan agak sedikit gemuk. Mudah-mudahan gue bisa istiqomah dengan pilihan kerja di sana, sembari mengejar mimpi-mimpi yang masih menggantung.


Those were me. How your story in 2014?
And in 2015 what are we going to be?

Happy great year and many wish that should come true!

God bless you and bismillah!

Sabtu, 25 Oktober 2014

FURY Movie: Dari Seorang Gagap Genre Film

Pertama denger kata Fury, gue langsung membayangkan animasi fantasy dari rumah produksi film Disney atau Pixar. Ternyata salah. Maklum, kadang analogi gue aneh, semacam fury-tale. :D

Gue cari tau film ini dari google, ketemu di web imdb dan rottentomatoes, padahal ya dari sebelum film ini tayang, posternya udah ada di XXI Cirebon. Parah banget, ya, gue?!

Jadi, begini...

Poster Fury (diambil dari google)

Ternyata film ini ber-genre action, drama, and war. Dengan rating yang cukup besar dari user di imdb sekitar 8.2/10. Cast-nya juga gak kalah beken, ada Brad Pitt, Shia LaBeouf, Logan Lerman, Michael Pena, John Bernthal, dan Jason Isaacs. Itu nama gue nyomot dari imdb, karena cuma 3 orang aktor yg gue hapal dari deretan yang gue sebut diawal. Disutradarai David Ayer, ini juga sutradara pernah megang proyek The Fast & The Furious pertama. 

Gue kali ini pertama nonton film dengan genre yang-katanya-war, sebelum nonton, sih. Kenapa? Lah, wong posternya aja ada gambar tank baja, bukan tanki tinja, lain lagi itu mah nanti. Ceritanya berlatar sejarah atau kisah nyata dari tank yang bernama Fury, nah, ternyata Fury itu nama tank-nya. Pas nonton, gue baru tau juga kalau artinya adalah amarah, iya. Itu diambil dari bahasa Jerman. Pada April 1945, 4 bulan sebelum kemerdekaan Indonesia. Inget, kan, tuh? Jamannya Jepang menyerah sama sekutu, dulu gue nggak ngerti sekutu itu siapa? kumpulan kutu atau kesatuan kutu (?) Ternyata adalah US alias Amriki. 

Lanjut!

Di sana sebenarnya Jerman itu menyerah, cuma jantung pertahanan Jerman yang konon Nazi itu, harus dibombardir. Nah, dari gambaran cerita yang gue tangkep pas gue nonton, ternyata masih ada aja sisa-sisa kekuatan Nazi-nya di sana, sampai harus mengirimkan pasukan tank. Karena tank yang bernama Fury ini dipimpin oleh Sersan Wardaddy (Brad Pitt) bersama anak buahnya, termasuk seorang typist bernama Norman (Logan Lerman). Jadi gue bayangin, 'gini, toh? kalau wajib militer? eh, bener gak, sih?'. Terus, gabung dengan timnya. 

Ini kan film action dan drama, katanya. Tapi, katanya itu kata imdb, kok. Film itu apakah harus juga berdiri dengan lintas genre? Biar menghibur. Terus, gue malah seru di bagian dramanya, ya? Bukan karena di adegan itu si sersan dan Norman bertemu dengan dua orang perempuan Jerman, bukan. Dari pas si Norman masuk tim si sersan Wardaddy, malah. Bagaimana si Norman diajarin jadi 'pembunuh' tapi dihormati karena menjadi pahlawan di negeranya. Sampai puncak adegan dramatisnya itu Norman dan perempuan Jerman yang jatuh cinta, tapi cintanya tidak abadi seperti Romi dan Yuli. Halah. Eh, serius gue, itu Norman jadi dendam ke tentara Nazi, karena cewek yang dia cinta meninggal gara-gara rumahnya dibumi hanguskan oleh serangan ledakan dari Nazi. Setelah itu, karakter si Logan Lerman berubah, kamu gak seperti yang dulu. 
Ini ada temen yang ngasih tau nama tank-nya

Eh, itu bener, kan, sisi dramanya? 

Lagi nih, visual effect yang gak kalah apik dari lesatan senjata yang kalau pas nonton di bioskop bikin kaget. Apalagi kalau lesatan di eranya itu kayak senjata semacam laser, teknologinya udah keren di film itu. Iya, di tahun 1945. Tapi, gue suka scene di mana tank dengan anti-tank milik Jerman one-on-one. Sungguh terlalu, anti-tank Jerman kalah, bro. Ceritanya emang di sana teknologi tank milik Jerman lebih canggih dari buatan US. Lagi, lagi, berkat taktik sang sersan, sih.

Akhir!

Gue suka, bagi awam seperti gue. Ini film yang harus ditonton sebenarnya bagus, kok. Dengan catetan, elo belum nonton film dengan berlatar belakang sama di mana War World II terjadi dan nggak paham sejarah WWII. Diakhir cerita, menyisakan ketegangan dan penasaran. Tank satu-satunya dari yang menuju jantung Nazi, akhirnya harus berakhir dengan dramatis, kok bisa? Karena yang selamat cuma Norman, dan entah kenapa gue sebel sama akhirnya, yang nampaknya begitu 'main-main' kayak anak kecil, kalau main petak umpet nggak pernah jaga, sekalinya jaga, minta udahan. Bubar! Gitu gue menganalogikannya. 

Tetep elo harus nonton! 

Rating dari gue: 7.9/10

Jumat, 17 Oktober 2014

The Judge: Bukan Review - Sosok Bokap Dan Impian

Dari sekian banyak film tentang keluarga, baru kali ini juga gue tahu film ini adalah film tentang Ayah dan Anak lelakinya. Bukan maksud gue di sini menjelaskan film-nya bagaimana dan seperti apa, sik? Karena dari judul aja ditulis dengan jelas.

Gue, pernah nulis cerita tentang bokap gue, di blog lain.

Tapi, rasanya kurang enak juga kalau gue nggak ceritain film-nya dulu. 

The Judge Poster (credit by wikipedia)
The judge, memang hakim artinya meskipun demikian kemasan tersebut hanyalah sebuah satu rangkaian yang dapat disimpulkan mengenai apa filmnya ini. Hanry 'Hank' Palmer (RDJ) seorang pengacara yang rumah tangganya dalam sidang perceraian yang telah memiliki satu anak perempuan. Saat dalam pengadilan, Hank mendapat kabar dari saudara lelakinya bahwa Ibunya meninggal di Carlinville, Indiana dan harus meninggalkan sidang perceraiannya tersebut.

Konflik terjadi saat Hank berada di Indiana dan ayahnya yang merupakan seorang hakim kenamaan yang bernama Joe Palmer terlibat kasus pembunuhan. Di sana Hank yang seharusnya bisa kembali lagi ke Chicago akhirnya menjadi pengacara bapaknya. Meskipun Hank dan Bapaknya memiliki hubungan yang tidak baik. Lalu apa yang membuat Hank menjadi pengacara bapaknya? salah satunya kenangan masa kecilnya dan menjadi anak yang bisa membanggakan ayahnya.

****
Begitu banyak konflik keluarga antara ayah-anak, ibu-anak atau mungkin ayah-ibu. Dari film saja, terkadang gue ngerasa tersendir dan di situlah muncul pula kenangan saat masih kecil bersama bokap gue. Di umur yang dikatakan dewasa ini, gue belum bisa bahagiakan baik nyokap ataupun bokap. Apa yang terlintas dalam gambaran sebuah film, terlebih bertemakan keluarga, gue lebih banyak merenung karena gue belum bisa dituntut lebih untuk menjadi anak yang mereka harapkan.

Ah, gue cuma bisa menjelaskan singkat di blog ini, untuk mengenal gambaran gue bersama bokap gue, ada dalam tautan dari blog gue yang lain.


Sabtu, 16 Februari 2013

Status Anonim Dalam Jurnalisme by fgaban


Pernahkah dalam suatu karangan ilmiah kita mencantumkan saduran atau referensi dari buku atau web tanpa pengarang alias Anonymous (Ind. Anonim). Saya yakin pernah. Bagaimana jika karangan Anonim itu sarat tidak dapat dipertanggungjawabkan? Masih valid kah data atau tulisan ilmiahnya?

Demikian juga para pencari berita yang meliput atau mewawancarai narasumber. Dapatkah memakai sumber Anonim atau tidak? Ini penjelasannya dari seorang jurnalis.

Beberapa waktu lalu, saya memantau dari lini masa twitter, seorang jurnalis yang bisa dikatakan senior, sedang memberikan hestek dengan judul #anonim. Sebagai seorang pemula, saya mencoba memahami dan menyimpan twit beliau di tab Favorite. Siapakah beliau? Dia adalah Farid Gaban (@fgaban). Berikut hasil print screen-nya.



Dari hasil kultwit, dapat disimpulkan bahwa harus ada transparasi antara sumber anonim dan jurnalis, dengan kata lain, sumber berita dapat dipertanggungjawabkan secara benar dan fakta atau data yang nyata. Namun, sumber anonim ini diperlakukan secara ketat dan media yang menggunakannya akan bertanggung jawab atas hasil dari sumbernya.

Kamis, 20 Desember 2012

[REVIEW] Life Of Pi

Minggu malam senin tepatnya saya membuka twitter, di situ salah satu penulis yang saya follow sebut saja @aMrazing membahas tentang film yang telah dia tonton, bukan hanya dia saja, tetapi teman-temannya juga meributkan tentang film ini.
Saya yang merasa cupu dan gak tau apa-apa, kok tiba-tiba tertarik untuk menontonnya, TANPA tahu lihat sinopsis atau review film-nya. Maklum, saya gak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan menonton film atau pergi ke bioskop. Saya adalah hanya tau film-film yang bagus aja, ya sebut saja film superhero gitu, meski gak semua hapal  dan ditonton, sih. pfffft.
Well, balik ke review film ini (baca judul). Masih bertanya-tanya, ini tuh film apa? kok sampe happening gitu, akhirnya, saya memutuskan *bukan tali persaudaraan* untuk menonton pada hari senin pagi.
Berangkatlah ke studio XXI Empire, meski takjub ternyata diputer dalam format 3D (yah, berkurang jatah makan saya *pukpuk dompet*). Di situ saya ditonton bersama 3 orang teman. Pertanyaan yang muncul adalah, saya sendiri bingung ini film apa, eh malah ditanya sama teman, film tentang apa? saya bingung juga jawabnya.
-----------------------------------------batas basa basi busuk---------------------------------------------
Poster (credit by google picture)
Film ini denger-denger adalah diangkat dari novel yang berjudul sama Life Of Pi dengan penulis Yann Martel (setelah googling :p) dengan durasi 127 menit, diperankan oleh aktor berdarah India bernama Suraj Sarma (Pi muda) dan Irfan Khan (Pi dewasa) disutradarai oleh Ang Lee. Kalau belum tahu siapa itu Ang Lee, dia pernah menyutradarai film Brokeback Mountain (2005).
Film ini berkisah tentang kehidupan Pi yang bernama lengkap Piscine Molitor Patel yang tinggal bersama keluarganya yang memiliki kebun binatang di India yang merupakan milik dari Santosh Patel (Adill Hussain) yang bukan lain adalah ayah Pi dan Ibunya Pi merupakan seorang ahli Botani bernama Gita Patel (Tabu). Pi merupakan anak bungsu dari kakak yang bernama Ravi Patel. Di keluarganya Pi merupakan seorang penganut agama Hindu, namun ayahnya adalah seorang Atheist. 
Menurut saya ini adalah film yang benar-benar paket komplit, visualisasi, petualangan, drama, dan hakikat dari film ini sendiri bisa dinikmati. Bukan karena saya menonton karena formatnya 3D, jadi saya menilai film ini bagus, coba dan rasakan sendiri bagaimana imajinasi film ini membawa kita ke jagad raya yang penuh dengan cahaya.
Well, pada masa mudanya, Pi selalu dicemooh oleh kawan-kawannya, karena memiliki nama Piscine karena dikait-kaitkan dengan pembuangan air kencing. Namun, Pi tak tinggal diam untuk membuktikan dan menghentikan ejekan dari teman-temannya. Diambilah nama Pi dengan membuktikan dari bilangan irasional dalam matematika yang disebut "Pi" juga. Saya sempat terkejut dan wow banget, dia hapal berapa angka-angka dalam bilangannya itu.
Sebenarnya tidak hanya di sini, Pi juga memiliki hasrat dengan pencarian Tuhannya, meski Pi hidup berasal dari keluarga Hindu. Pi mencari arti Tuhan dari beberapa agama yaitu Khatolik dan Islam. Bukan, bukan untuk membanding-bandingkan, karena Pi percaya karena keberadaan Tuhan itu sendiri. Pandangan ini memunculkan pada keimanan kita.
Konflik terjadi ketika ayah Pi berencana untuk pindah ke Kanada dan menjual binatangnya. Semua keluarganya pindah dan menggunakan kapal laut dari India dan membawa binatang-binatangnya. Saat berada pada peraiaran Pasifik yang ganas, terjadilah badai, sayang sekali hanya Pi yang selamat dari amukan badai di laut di atas kapal sekoci bersama hewan-hewan yang tersisa dan di antaranya adalah Richard Parker alias Harimau Bangli. 
Dalam keadaan seperti ini keimanan Pi diuji, berada di atas kapal selama 227 hari dengan bekal makanan yang seadaanya dan seekor harimau. Saya teringat, ketika Pi harus menghadapi seekor harimau yang ganas, bahwa "harimau tidak bisa menjadi teman, namun bisa dilatih". Selain itu, petualangan terdampar di tengah laut ini membawa kesan sendiri bagi saya, visualisasi yang begitu indah, petualangan yang penuh ujian dan godaan, oia, meski Pi telah dibaptis menjadi Khatolik, namun Pi tetap vegan dan masih percaya dewa-dewa Hindu. 
Di sinilah saya belajar, seberapa tangguhkah iman seseorang apabila diuji dalam kondisi yang seperti itu, apa harus menyalahkan Tuhan atau tetap percaya akan keberadaan Tuhan untuk tetap minta pertolonganNya. Terdengar tidak masuk akal juga apabila kita benar-benar seperti itu, namun di akhir cerita film ini ada dua cerita Pi yang dijabarkan, namun dari sudut pandang saya, ini membawa pesan bahwa hidup ini terkadang tidak masuk akal dengan percaya akan adanya Tuhan namun berkesan daripada tidak percaya akan adanya Tuhan.
Most recommended I ever watched and I beg you to watch it. Kamu gak akan nyesel untuk menontonnya, terlebih lagi apabila posisi kita yang berada dalam ombang-ambing karena terkesan selalu mengagungkan logika dan mulai goyah keimanannya. Percaya Tuhan itu ada. 
Meski saya hanya penikmat film dan bukan pengkritik, saya juga menikmati ceritanya dan pesan yang bisa saya ambil. Saya memberi rating pada film ini sebesar: 4 dari 5.

Sabtu, 15 Desember 2012

[REVIEW] 5 cm. The Movie

3/5
Sebenarnya saya agak kurang suka kalau sebuah novel fiksi atau non-fiksi difilmkan, sik. Tapi, untuk memajukan perfilman Indonesia, no problem, heh

Awalnya agak ragu juga nonton film 5 cm. ini, karena di antara film-film yang diputar di Empire XXI ada beberapa film yang sudah dan ingin sekali ditonton, awalnya sik mau nonton The Hobbit: Unexpected journey, tapi karena kebetulan teman-teman yang lain pengin nonton ini, yaweslah...ditonton juga. Mumpung hari Jumat kan ye....Jadwalnya Movie Freeday by Simpati dan bener-bener FREE, man! Sayangnya The Hobbit 3D, sik. Sempat juga ketika mengantri ada sedikit tragedi gak-pake-berdarah hanya sindir-menyindir bin nyolot-menyolot, maklum, saya membawa pasukan ksatria power rangers, jadi, maaf-maaf ya kalau yang  tidak kebagian voucher nonton dari Simpatinya, soalnya power rangers ini satu orang bawa 2-3 handphone. But finally, antri juga 1 orang 1 handphone dan semua power rangers ini mengumpul semacem upil gitu, paling depan pula. Oke, back to the Review

Film yang berdurasi 126 menit yang diadaptasi dari novel karya Donny Dhirgantoro yang berjudul sama  ini diperankan oleh beberapa aktor utama yang dibintangi oleh Herjunot Ali (Zafran), Fedi Nuril (Genta), Igor Saykoji (Ian),  Raline Shah (Riani), Denny Sumargo (Arial), dan Pevita Pearce (Arinda). Disutradari mas Rizal Mantovani ini sebenernya premier-nya tanggal 12-12-2012 dikala orang-orang ribut doomsday gitu, deh. Malahan gak jadi, tuh. Ramalan suku Maya yang salah, apa orang-orangnya yang terlalu percaya, wes sing penting nonton, tho....

Mungkin, ada beberapa teman yang sudah khatam baca Qur'an, eh, maksudnya novelnya ( tidak termasuk saya :p) bertanya-tanya atau penasaran atau jadi mengecewakan setelah menonton filmnya. Menurut saya, sik. Soalnya orang-orang perfilman udah mencoba untuk menyamakan persepsi dan memunculkan satu sudut pandang. Dari kelima tokoh ini menurut saya, si sutrada sudah tepat mengambil cerita dari sudut pandang karakter Zafran di antara tokoh-tokoh lainnya.

Ceritan dari film ini totalitas adalah sebuah persahabatan, motivasi, dan cinta. Jikalau ingin melariskan sebuah novel remaja yang memotivasi dan ingin difilmkan, sepertinya para penulis harus buat genre yang seperti ini, maklum, orang Indonesia kan butuh motivasi, ya enggak, men? Balik lagi tentang film ini. Ada hal-hal yang agak janggal dari film ini, bagi yang belum membaca novelnya, pasti berfikir, apa hubungannya poster yang berjudul 5cm. dengan orang-orang mendaki gunung. Ada beberapa tokoh juga yang mendominasi, seperti Zafran, Genta, Ian, sedangkan yang lain hanya numpang lewat? Atau karena tokoh Zafran adalah sang pemeran utama? 

Dari segi soundtrack pengisi lagu adalah Nidji dan sepertinya Nidji laris manis juga dalam membuat lagu-lagu soundtrack. Karena sebelumnya sukses juga menjadi pengisi soundtrack film Laskar Pelangi yang notabene film motivasi juga, at least dipercaya jadi agen perubahan, yaelaaah, masuk partai nasdem aja sekalian, terus dibikin deh jingle-nya. hoho....

Pernah mikir, gak? Kenapa si Genta ngajak ke gunung Semeru, bukan ke tempat lain? selain karena dari posternya yang gambar gunung, ya.... Bukannya kalau naik gunung itu setidaknya pernah ke sana atau pake guide. Maka dari itu, untuk pemula rasanya agak mengerutkan alis mata mengajak ke Semeru.

At least, ceritanya Indonesia banget, Mario Teguh pun kini mendapat saingan. hehe...High Motivated bagi para remaja yang galau masa depan (termasuk saya, mungkin), quote-nya orisinal (meski di novelnya, enggak. pffft), lugas, tegas, dan menjanjikan (sepertinya), dan muncul humor-humor ala ala remaja. Dari sinematografinya bagi saya cukup istimewa, karena menampakan keindahan gunung Semeru, kebetulan saya juga adalah penikmat gunung, jadi terkesan takjub pada sinematografinya. Entah, berapa kru film yang harus bolak-balik turun gunung, berapa aktor yang pernah tumbang di Semeru. 

Eits, ada yang ketinggalan, memang sih agak aneh, ketika mendaki menuju gerbang pos hingga Ranu Kumbolo, Kali Mati dan Arcopodo para aktor di situ minum air dan kurang air minum, tapii....kenapa pas mendaki ke puncak yang notabene lebih dingin dan si Ian terguling hingga pingsan, tidak ada satupun yang membawa air minum. Saat menuju puncak pun, tidak di-shoot pendaki yang lain tapi tiba-tiba saat di puncak, nah loh. You gotta watch it, guys!

Di akhir cerita kita disuguhkan oleh cerita cinta yang istimewa menurut saya karena berupa twist slot, cinta terkadang sulit ditebak, ya. Begitulah kira-kira cinta. Saya suka dengan twist slot ini, namun sayang sekali, saat scene akan berakhir, saya tak terlalu suka ceritanya. Karena lagi-lagi prolog dari pemeran utama dan pemeran utamalah memang juaranya. (pukpuk malaikat, kamu sekarang bukan juara lagi ya )

Review ini hanya sekedar gambaran singkat saja, bukan untuk menjatuhkan atau menaikkan pamor film itu, karena hal ini adalah murni sudut pandang saya. Ada hal yang membuat saya berkaca-kaca dalam adegan ini dari persahabatan dan pemandangan alam gunung Semeru, memang tidak mudah menjalin persahabatan, tidak apa kita memiliki teman sedikit namun akrab daripada banyak teman tapi tidak akrab, begitu kira-kira. Maka dari itu, saya member nilai : 3 dari 5