Rabu, 28 Mei 2014

Malangku di Malang: Penginapan atau Kandang (?)

"Pak, kita cari lagi penginapan yang lebih murah, deh" Pinta saya ke bapak tukang becak ini sambil keluar dari pelataran halamannya, saya masih mencari penginapan yang kira-kira cocok dengan kantong. Masih ingat saat itu kawasan penginapannya berdekatan dengan kantor walikota Malang. 

Masih berada di atas becak, saya melihat kekaguman dengan kota Malang, bangunan-bangunan kuno yang dipakai untuk Hotel dan melihat bundaran yang di tengahnya ada tugu. Masih hijau, bersih, dan asri. Tunggu. Ini. Benar. Saya. di Malang? tanya saya dalam hati. Strukturnya hampir mirip dengan Tugu Muda di Semarang. Ya sudahlah, saya nikmati saja tata kotanya sambil menunggu si bapak tukang becak ini membawa ke mana lagi untuk mendapatkan penginepan yang saya inginkan.

"Coba yang ini ditanya, mas" si bapak ini menunjukkan salah satu penginepan dan berhenti di deapannya.

"hmm...oke, pak"

Agak ragu melihat kondisi bangunannya, tidak terlihat seperti penginepan, ruko, malah. Turun dari becak, saya masuk ke dalam 'lobi' ala ala. Namanya juga penginepan apa adanya, resepsionispun saat saya ingin beertanya, tidak ada. Tiba-tiba muncul seorang pria dengan perawakan tinggi kurus bercelana pendek, dengan janggut seperti Bams Samson. Yakin, nih penginepannya? Was-wasnya demikian. 

"Gimana, mas?" Tanya si janggut ala Bams Samson ini.

"Di sini per malamnya berapa, ya, mas?" Sambil duduk di depan kursi yang kosong tepat di depan resepsionis.

"Per malamnya 90000, mas" Jawabnya singkat

Karena sudah tidak mau muter-muter lagi mencari penginepan dengan becak dan saat itupun lapar serta lemas. Saya mengiyakan saja. Toh, saya di sini yang penting bisa tidur, gak usah muluk. Jika dibandingkan dengan penginepan di Jogja,  harga segitu sudah termasuk tinggi dengan kondisi yang lebih baik. Lebih baik? Iya. Di Sini saya melihat pemandangan 'lobi' dengan tatanan yang berantakan. Satu aquarium besar dengan air yang sudah menghijau di salah satu sisi pintu dengan satu ikan Arwananya, beberapa sepeda gunung dan satu sepeda low-rider terlihat tidak semestinya berada pada posisi yang baik. 

Setelah deal dengan penawarannya, saya menuju bapak tukang becak itu untuk membayar jasanya. Sambil mengeluarkan uang dari dompet dan memberikan uang 15000 rupiah.

"ini, pak.." dengan menyodorkan uang

"20000, mas" sela si bapak ini

"loh, tadi perjanjiannya katanya 15000, masa nambah?" protes saya dengan heran

"ya, kan tadi sekalian keliling nyari penginepan, tha?"

Kesal dengan si bapak ini, saya tidak mau banyak berdebat, karena memang lelah. Saya berikan tambahan uang 5000 lagi kepadanya. Dengan muka kesal, saya memberikannya dan melipir masuk penginapan tanpa memberikan ucapan terima kasih. Tau gitu, saya ajak keliling-keliling lagi, deh. Lagian, kayaknya deket juga jaraknya dari stasiun sampai penginapan ini. Gumam saya dalam hati.

Karena belum memasukan dompet ke saku celana, saya kembali menuju meja resepsionis untuk melunasi pembayaran langsung untuk satu hari menginap dan memberikan KTP saya sebagai jaminan. Si mas janggut-kurus-berjenggot-ala-Bams Samson ini lalu menyerahkan kunci kamar kepada saya, sebelum menuju ke kamar, si mas tersebut memberikan tips tambahan kepada si bapak tukang becak ini sebesar 10000 rupiah. Anjislah, gak bener itu tukang becak. Kata saya dalam hati.

KAMAR NO 9
Kamar saya berada di lantai 2 di penginapan itu, saya terkejut saat melihat kamar sudah terbuka lebar. Di sana saya menemui ada seorang mas-mas lagi yang berkisar umur 28-an yang sedang membereskan kamar mandi, tepatnya membersihkan dan mengisi bak mandi dalam kamar tersebut.

"Nginep berapa lama, mas?" Pertanyaan sapaan pengenalan dari si mas itu.

"Oh, cuma sehari aja, kok, mas" jawab saya singkat

Karena percakapan ini saya anggap tidak penting, saya tidak melanjutkan dialognya, deh.

Setelah selesai semua dibereskan oleh si mas tersebut, saya masih menerawang kamar ini.
Kamar yang berisi satu tempat tidur ber-type family bed yang tersudut dengan kasurnya berupa...kapuk.
Dua bantal yang sudah...lepek.
Spreinya dengan motif...kembang-kembang.
Satu meja dan satu kursi yang...berkarat
Kipas angin yang...berdebu
Letak tv yang menempel pada dinding dengan bersangga pada besi ternyata nampak benda tersebut terkurung pada...sel
masuklah ke kamar mandi dan masih beralas...tegel
dengan bak yang, saya nggak tega. oke tapi airnya bersih, sih. Cuma baknya nampak terlihat...kotor

Mau bagaimanapun, kalau harganya terbilang murah banget, ya mungkin kondisinya seperti ini. Sudah tidak peduli lagi dengan kondisi kamar, yang penting bisa tidur, mandi, dan mengikuti tes. Saya lalu mengeluarkan isi tas, satu hal yang saya utamakan, ialah mengecas hape. hehe... Sembari merebahkan badan dengan kaki saya sambil merentang-menutup seperti Sinchan yang sedang ngambek, tiba-tiba kaki saya menyenggol tembok yang ternyata...TRIPLEK!

Karena merasa aneh, jangan-jangan hanya saya sendiri yang menginap di sini, saya melihat-lihat ke lorong deretan yang hanya ada 4 kamar, sambil menengok kamar sebelah yang merupakan kamar paling pojok setelah kamar saya, ternyata kamarnya lebih parah dari yang saya tempati dengan gorden yang terbuka atau memang tidak menempel pada penyangganya, dengan kasur single, tanpa adanya tv di dalamnya. Mungkin kamar tersebut memang dalam kondisi yang sangat amat tidak layak dan terawat. Pikir saya, kenapa saya dikasih kamar yang bersebelahan dengan kamar yang kayak gitu, ya?

Sebelahnya, untungnya. Ada beberapa pemuda yang baru check-in juga setelah saya lihat.

Sayangnya, saya tidak mengabadikan penginapan selama saya di Malang, mungkin saya akan memasukkan beberapa foto yang berkaitan dengan cerita ini.

To be continued...

Selasa, 27 Mei 2014

Saat Impian Masih Menggantung: Grateful to The Fullest

"Bu, enu gak yakin kalau enu harus lama-lama kerja di Kalimantan, soalnya enu masih punya keinginan untuk ngambil S2" Curahan saya ke Ibu di saat santai

"Ya terus kamu kalau nggak ambil kerjaan itu, mau 'makan' umur terus?" jawab Ibu dengan membalikan pertanyaan

Beberapa dilema yang terus menghantui saya akhir-akhir ini seakan membuat fikiran bercabang ke mana-mana. Baik dan buruk, keinginan dan kebutuhan atau syukur dan tidak bersyukur. 

Ada beberapa langkah yang membuat saya tertinggal jauh dari teman-teman satu angkatan bahkan sahabat, mereka yang sudah melangkah pergi jauh mengejar impian, iya. Ini tentang mimpi. Bukankah mimpi dimiliki oleh setiap manusia? Hanya saja, dapatkah kita mewujudkannya? That's the point.

Mimpi manusia seakan terlihat muluk ingin ini, ingin itu, dan sayangnya banyak di antara mereka gagal dan sebagian lagi memperoleh mimpinya. Kembali lagi, apakah mereka tekun dan giat meraihnya. Tuhanpun memiliki andil dalam perwujudan mimpi-mimpi kita.

Pada persoalan saya di atas, saya sudah tidak banyak waktu lagi, mengingat umur sudah hampir memasuki seperempat abad, sudah saatnya memperoleh dan membahagiakan kedua orang tua, mengingat mereka bukan pejabat dengan bergelimang harta.  Ini untuk ketiga kalinya saya masuk dalam dunia kerja, mengingat dua perusahaan yang dulu, hanya batu loncatan dan satu di antara perusahaan tersebut ada yang tidak memberikan gajiku. Di perusahaan ketiga ini, harapan saya bisa menekuninya dengan baik, entah bagaimana caranya saya menginginkan melanjutkan sekolah ke jenjang Master atau tidak, saya sudah membuat rencana, yang saya perlu adalah menikmati terlebih dahulu dan belajar pula dari pengalaman yang terdahulu.

"Man proposes, but God disposes"

Perencanaan daftar mimpi yang telah saya buat, keinginan yang terlihat muluk, tapi tidak mau juga kalah dengan yang namanya mental-blocked adalah perwujudan yang masih dalam batas normal. Saya sudah memiliki rencana. Mumpung masih gratis menyusun impian itu, tidak ada salahnya selalu kita ingat kembali sebagaimana tujuan yang kita ingin capai. Bersyukurnya, satu dari impian saya itu terwujud. Ini nyata! Hanya saja, bagaimana saya harus mengucap syukur yang telah mentakdirkanNya.


"Then, which of the favors of your Lord, would you deny?" [Ar-Rahman: 78]

Tahap selanjutnya adalah naik 'tingkat'. Maksud tanda kutip yang saya berikan itu, adalah derajad yang mana menandakan bahwa saya menuju tingkatan yang lebih 'matang' atau tinggi. Bersyukur. Inilah tingkatan yang selalu saya pertanyakan. Kenapa? karena saya selalu melihat atau membandingkan segala sesuatu terhadap apa yang telah dicapai oleh orang lain, stop comparing your life with others. Ini bagai virus, menyebar dari keinginan yang menggebu-gebu, pada akhirnya tidak bisa menyamakan, gagal dan selalu tidak bisa mensyukurinya. Awalnya memang agar termotivasi, kenyataanya kapasitas saya belum cukup. Akhirnya, selalu menyesal dan terus mengeluh.

Bukan lagi saatnya bermain terus, saatnya bermain sambil berkarya, mengejar cita-cita dan impian demi menglahkan ego yang terus tidak pernah puas. Buktikan, ini sebagai pembalasan atas pengalaman yang terdahulu dan bisa jauh lebih baik. 

"But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah knows, while you not" [Al-Baqarah: 216]

Meskipun, saya selalu beranggapan yang buruk tentang tempat saya akan bekerja nanti, nampaknya Dia telah menempatkan diriku untuk berada di sana agar saya lebih paham dan siap untuk mencintai hal yang tidak pernah saya ketahui lebih jauh sebelumnya. Ini bukan hanya pada masalah saat ini saya seperti ini, saat saya masuk ke jurusan perkuliahan pun, saya tidak pernah berucap syukur, namun di sanalah saya belajar lebih dalam tentang Ilmu Tanah dan berkeinginan untuk melanjutkan program Master dalam bidang Water, Earth, and Environtment Science atau Water, Energy and Environment Science di luar negeri tepatnya di negeri Kincir Angin, Belanda.

Balik lagi, untuk meraihnya adalah dengan usaha dan ketekunan. Pastinya pula ridho kedua orang tua kita. Sayangnya, untuk saat ini, percakapan yang telah saya lakukan dengan orang tua, belum merestuinya. Bukankah restu orang tua adalah restu Tuhan juga? Saya yakin, ini belum saatnya dan adakalanya akan merestui.
  

Senin, 26 Mei 2014

Malangku di Malang

Sebenernya, gak berat kok jadi jobseeker, sumpah, yang berat itu kalau nunggu kepastian dipanggil lagi atau kelar sampai di situ. Tapi, selama bisa dinikmati, gak masalah. Ini lagi seneng aja posting perjalan-perjalan yang menarik. Sebenernya banyak yang belum diceritain di sini, tapi nanti kalau masih mampu dan dikasih umur (halah) bakal ditulis, pastinya kalau masih inget juga.

'Ya masa, kalau lupa ditulis, hal apa yang mau diceritakan?'

'Bisa, Nu. Bisa, kamu inget-inget lagi, dong!'

'hmmm.....'

Biar sering jalan-jalan sendiri, tapi ada cerita yang bisa dibagi, gak melulu boring, kok. Sejak berani pergi-pergi sendiri dan dipaksa mandiri, jadilah seperti ini. Ada orang bilang kalau jalan-jalan sendiri itu membosankan. Gak juga. Contohnya saya, hasil jalan-jalannya menarik. Beneran loh....

Semenjak berstatus jobseeker sambil travel, saya mendeklarisikan diri sendiri sebagai jobseeking-traveler, yang intinya gagal jadi karyawan karena nggak lolos tes sana-sini, masih mujur dapet cerita konyol dan pasti teman. Lucunya, lama kelamaan males dan capek juga gak settle. Anggap belum rejekinya.

Malang,  Oktober 2013

di depan stasiun Malang
Entah tanggalnya saya lupa, namun ini adalah kali pertama saya datang mengunjungi kota Malang sendiri tanpa ada teman dan kerabat. Emang dari dulu punya keinginan buat jalan-jalan ke sini atau gak kalau beruntung bisa kerja di Malang, kesampaian juga deh meskipun cuma buat tes kerja dari PT Unilever.

Pagi-pagi sekali saya tiba di stasiun Malang, tanpa pakai itinerary tanpa banyak persiapan dan segala macamnya. Luntang-lantung nggak jelas mengamati stasiun ini, jelek. Dibanding dengan stasiun Cirebon, jauh perbedaannya. Meskipun kondisi stasiun yang begitu-deh, banyak turis domestik dengan tas gunungnya banyak ditemui di sini, semacam di film '5 cm' gitu. Mereka sedang menunggu angkutan yang akan membawanya hingga menuju Taman Nasional Semeru-Tengger.
Pendaki di depan stasiun Malang
Saya masih kebingungan juga pada saat itu, sambil mencari-cari penginepan bermodal gadget dan yang penting murah dan bisa tidur nyenyak. Tanpa panjang lebar saya memilih untuk berkeliling mencarinya dengan becak. Sebelumnya saya ditawari oleh bapak tukang becaknya " Mau pergi ke mana, mas?"

"hm..mau cari penginepan murah, pak. Kira-kira bapak bisa antar saya nggak?"

"oh, bisa, mas. Mau di daerah mana?" Sambil menyiapkan becaknya seraya bertanya kembali.

"Di deket-deket sini aja, pak. Gak usah jauh-jauh dari stasiun" karena memang saya tidak tahu daerahnya, saya mempercayakan kepada bapak tukang becaknya.

"Yaudah, mas. Mari .."

Pergi menggunakan becak ini karena menurut saya bisa sambil berkeliling dan santai. Sebenarnya si bapak tukang becak saat mengayuh berbicara tentang penginapan murah. Sambil tetap mencari juga lewat gadget, saya selalu meng-iya-kan apa yang bapak itu bicarakan. Jahat, ya? hehe...

Jahatnya saya, masih belum tega banget, kalau tahu saya dicurangi sama tukang becaknya, saya bisa lebih jahat. Tetapi karena saya mulai lelah, nanti saya lanjutkan bagian selanjutnya tentang Gairah Hotel Malang.

To be continued....




Kamis, 01 Mei 2014

Dimulai Dari Sini (Selamat Tinggal P. Jawa)

Nampaknya, gue harus menyekip atau memindahkan tulisan gue tentang sales ngenes ke file word. Karena enggak bisa gue ceritain di sini semua atau gue menuliskannya dulu di Ms. Word lalu meng-copas-nya ke sini. Bukan karena gue males menulisnya, karena gue mau ceritakan hal yang menurut gue lebih mendalam. Apa itu?

Oke, gue akan kasih tau, bukan ngasih cerita, ya... Eh, cerita dikit bolehlah, ya... Gak konsistem gue, ya? Biar!

Jadi, tadi gue yang agak telat nonton salah satu film terbarunya Ben Stiler yang judulnya The Secret Life of Walter Mitty. Entah, kenapa gue suka gitu sama quote-nya yang dipampang di perusahaan tempat dia kerja.

"to see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, to draw closer, to find each other and to feel. That is the purpose of life"

Gue bukan bermaksud buat review film-nya. Jadi, kenapa gue tulis ini? Karena dalam beberapa waktu dekat, gue akan pergi ke tempat di mana akses internet, sinyal telepon seluler dan hingar bingar kota akan jarang terlihat.

Di mana, Nu?

Kalimantan.

Maklum, seorang lulusan sarjana pertanian yang gue dapet belom afdol kalau belum masuk hutan, kebun, atau mungkin rimba raya. Hehe...

Kalau hubungannya dengan kutipan itu dengan keadaan yang akan gur alami adalah bahwa hidup harus dihadapi seberapapun bahayanya dan sebisa mungkin kita untuk dapat merasakannya.
Gak mudah untuk pergi ke suatu tempat yang baru dalam jangka waktu yang entah berapa lama dan meninggalkan semua teman lama yang biasanya sering kita temui setiap hari, bahkan meninggalkan keluarga, orang yang kita cintai, dan masa kekanak-kanakan gue. Ini gak seberapa berat rasanya waktu gue hijrah dari kota Cirebon ke Jogja untuk menuntut ilmu, dengan bangganya masuk UGM dan teman-teman yang idealismenya sama di kampus.

Perjalanan setelah lulus kuliahlah yang membuat gue menjadi takut untuk melangkah lebih jauh, rasanya tanggungjawab yang gue akan terima bakal lebih besar, bukan lagi gue yang harus terus-terusan diberi jatah uang bulanan sama ortu semasa kuliah, namun gue harus memikirkan juga bagaimana bisa membalas kebaikan mereka.

Memang, gue gak pernah berfikir masuk pertanian dengan program studinya ilmu tanah dan menjadi petani, tapi kenapa harus disesali? Gue sendiri yang bisa nikmati hasilnya dan gue sendiri yang harus bisa melanjutkan cita-cita gue. Gak banyak lho orang yang mau masuk kuliah di fakultas pertanian, apalagi bidang studinya ilmu tanah? Kalau gue bisa bilang, "hidup itu bukan dijalani, tapi dinikmati"
Kalimantan? Terdengar seperti yang menakutkan saat pertama kali didengar oleh orang-orang. Katanya terkenal dengan ilmu hitamnya atau apalah.... Eits, gue niatnya di sana kerja, bukan untuk nyari musuh, gue juga masih pengen nyari ilmu, sesuai dengan cita-cita gue buat bisa lanjut ke jenjang Master di Wageningen University di bidang environment science.

Yah, begitulah info yang udah gue kasih dan sedikit cerita cita-cita di masa depan. Kalau kita hanya diam saja dan memilih-milih kerjaan dan keluar tanpa alasan jelas lalu buat apa kita punya mimpi namun hanya di alam bawah sadar saja? Wujudkanlah!
P.S
Untuk Ibu, Ayah, adik gue Farhan dan keluargaku semua yang banyak membantu gue, terima kasih sebesar-besarnya. Untuk sahabat Desti, Eriana, Iis, Agung, Belgys, Yusuf dan Hario, serta rekan-rekan gue termasuk Gumay dan yang gak bisa gue sebutin satu-satu, terima kasih atas tumpangan selama gue keliling ke tempat gue dipanggil tes kerja. I owe you so much, hope you guys are success and meet again!

Minggu, 02 Maret 2014

Tandem

Di minggu pertama gue ketrima kerja, rasanya excited karena emang jadi pengangguran gak enak, soalnya emang 'nyampah' nya kebanyakan daripada gunanya. Capek kalau setiap hari begitu doang, hidupnya monoton. 
Perjuangan banget kalau udah ketrima di salah satu perusahaan, deket dari domisili lo, gak usah ngurusin biaya kos, makan dan tetek bengek yang lainnya. Meski bukan passion gue jadi karena takut dicap nganggur dan dimakan umur juga, alhasil gue ambillah itu job. Meski bukan perusahaan yang bonafit dan gak bisa cepet jadi eksekutif muda. Syukuri deh tuh.
Perekrutannya emang gak lama dan pesaingnya pun gak banyak sih menurut saya, saat itu posisi yang ditawarkan adalah OMT alias Operation Management Talent. Weits...namanya ke-inggris-inggrisan, kan? Pasti nanti kerjaannya bakal keren, kalau orang awam belum tau, sih. Dengan embel-embel akan dijadikan pegawai tetap dan tanpa menahan ijazah. Sangat menjanjikan, bukan? Dan, tau gak itu bakal ngapain kerjaannya? benar, nyales alias menjadi sales distributor perusahaan yang iklannya ditempel PERINGATAN PEMERINTAH. 
Berbeda dengan sales yang biasanya, katanya di tempat gue kerja, jenjang karirnya itu cepat, dan mengalami rotasi setiap beberapa bulan. Tidak hanya disitu-situ aja. Yang bakal gue ceritain di sini adalah bagaimana tough-nya seorang sales dari awal hingga titik darah penghabisan. *hiperbola*
Di dunia seperti ini, gue emang harus cepet belajar, gak harus di-training lama hingga satu atau dua tahun, mengenal wilayah, karakteristik outlet beserta godaan-godaannya. Gue sering dapat omongan-omongan juga, kalau kerja sales itu keras, EMANG! Apalagi kalau udah bersaing antar kompetitor, jangankan kompetitor, dengan kawan sejawatpun terkadang bisa bentrok karena distrik yang blur.
Istilah tandem ini bisa dibilang terjun langsung ke lapangan mengikuti sales representative current-nya atau bisa disebut juga joint call. Kerjaannya pas tandem, ya merhatiin deh itu si SR-nya, lakuin apa aja, targetnya berapa, kadang SR-nya juga minta gue atau anak baru gantikan perannya. Nah loh?
Jujur, gue orang yang bukan pandai ngerayu ke outlet untuk menawarkan barang, kaku, dan gak terlalu supel bergaul. Tapi karena tuntutan peran dan gue digaji, let's enjoy the show!

Kamis, 20 Februari 2014

Sales ngenes

Oke, gue bakal nyritain, rasanya jadi  sales, sebagai intro. Gue akan bahas dalam waktu yang sesegera mungkin.

Minggu, 08 Desember 2013

Serba Serbi Angkutan Umum di Cirebon

Suka bingung kalau saya ada panggilan kerja di Jogja. Selain bingung mau nginep di mana, bingung juga kalau udah gak punya kendaraan di sana, maklum, jaman kuliah dulu andalannya sepeda motor. Tapi si motor terbaik yang telah menemani selama beberapa dekade (halah, lebay) udah dijual. Meski motor ijo (supra x 110cc) pernah berkali-kali saya bawa jauh dengan jarang dirawat mesinnya, tetep yahud. 
Tapi, saya gak akan ngomongin spek motor yang kemarin, tapi sebagai jobseeker yang manja, emang sih. Mau gak mau, kalau ke Jogja minta anter-jemput. Ngerepotin sih memang, tapi, gimana lagi? Di Jogja emang susah angkutan umumnya. Adapun cuma ada beberapa kopata (semacam kopaja) yang kayaknya udah gak layak pakai dan transJogja yang jam operasinya sampai jam 10 malam. Gak heran, kalau akhir-akhir ini juga di Jogja sudah mulai rame dengan kendaraan pribadi apalagi mobil mewah. Semakin lama, Jogja ya kena impact juga.

Berbeda dengan kota kelahiran saya Cirebon, angkot itu bejubel, dari antar kota (namanya juga angkutan kota) sampai antar kabupaten. Ketika jaman sekolah dulu, saya terbiasa memang dengan naik angkutan umum. Bukan karena gak ada motor dan gak bisa bawa motor, tapi emang belum boleh bawa sama orang tua dulu sih....hehe

Gak cuma Jogja, Cirebon yang memiliki angkutan umum pun kini semakin larut dalam beban lalu lintas yang kian padat. Yang jadi pertanyaan, orang Indonesia makin kaya atau kredit kendaraan bermotor makin murah? Entahlah.

Balik lagi, the jobseeker harus punya inisiatif di sela waktu-waktu kosong yang memang membosankan saat gak ada panggilan kerja. Iya kan? Ada informasi yang akan saya beri, sedikit tentang angkutan umum. karena saya di Cirebon domisilinya, jadi saya kasih informasi sedikit, soalnya udah banyak bejibun informasi. Coba aja googling dengan keyword "angkot cirebon" pasti udah lengkap. Nah, di sini mau kasih info juga, kalau ada yang mengunjungi kota ini, tapi bingung ke mana dan naik apa. 

Gak banyak angkutan sebenernya di kota ini, mari saya jabarkan.

Angkot/Angkutan Umum berupa minibus
Angkutan umum di Cirebon rata-rata sama warnanya, biru muda. Namanya juga gak aneh-aneh kayak angkot di Malang. Cukup mudah, dari D1-10 untuk rute kota Cirebon dan berawalan G untuk antar kota-kabupaten dan pastinya rute inipun beda. Yaiyalah....Kalau harga umumnya itupun kalau belum berubah cuma 3000. Murah bukaaaann.....?

Eits, meski ini angkot banyak, tapi gak semua angkot sering kita temui. Umumnya, kalau yang wilayah kota  aja angkot yang suka berseliweran D4, D5, D6, D7 dan D8. Menariknya ada rute yang dilalui sama oleh angkot ini. Saya akan berikan screenshot-nya berikut ini:
titik ungu, coklat, kuning, merah dan  hijau merupakan titik pertemuan angkot D4, D5, D6, D7 dan D8. Tidak hanya angkot yang saya sebutkan, tetapi angkot jalur kota pertemuannya di titik tersebut

Jadi ingat saat di Jakarta, jalaur transit busway berada di Harmoni untuk beberapa rute. Sama halnya dengan itu, maka tidak usah repot dan takut kesasar. Oh iya, untuk angkot D5 dan D6 memiliki rute hampir sama, jadi kalau ingin menuju jalan dr.cipto oke, lebih gampangnya menuju CSB/Grage Mall, ambil saja rute di antara kedua itu. Sedangkan untuk rute ke terminal ambil juga D5, D6, D7, atau D8. Saran saya, untuk yang lebih baiknya turun depan terminal, mending ambil D7 atau D8. Karena kota Cirebon kecil dan tempat wisata dalam kotapun tak banyak, gampang sekali untuk naik kendaraannya. Tapi, kalau masih takut ambil alternatif kedua, yaitu...

Becak
Kendaraan merakyat yang hampir dapat ditemui di mana-mana, terlebih lagi di daerah wisata dengan ciri beroda tiga dengan mesinnya si abangnya sendiri. hehe...Nah, uniknya becak di Cirebon bukan merupakan becak wisata dan ukurannya lebih kecil juga. Berwisata atau pergi ke mana aja dengan becak adalah bawaannya nyantai, iya nyantai alias lama sampai ke tujuannya. hehe....

Kalau ada kalian yang turun di Cirebon pada malam hari dan sudah tidak ada angkot, maka carilah mamang becak, gak usah takut, kalau kalian turun dari stasiun dan menuju kawasan yang masih di kota, atau dari terminal tarif penawaran pertama mintalah 10.000. Syaratnya sudah tau mau ke kawasan kota dan jangan ambil mamang becak yang tua. Yang ada nanti disuruh narik. Oh iya, tawar-menawarnya pakailah bahasa jawa pantura dan tidak disarankan juga sih pakai bahasa Indonesia, yang ada nanti makin mahal. Eh, ini saran aja dari saya, tapi kalau di luar dugaan tarifnya, mungkin kamu gak bisa nawar kayak...saya :D

Ojek
Untuk ojek, jarang saya temui di beberapa tempat. Kecuali, aksesnya sudah tidak dilalui kendaraan angkot. Ojek di sini pun masih masuk akal harganya, kok. Gak mahal-mahal banget, kayak di Jakarta. hehe...Jelaslaaaah.

Meski ada beberapa alternatif kendaraan umum yang ada di Cirebon, lonjakan kendaraan pribadi gak bisa ditahan, jadilah orang Cirebon semakin melonjak-lonjak (krik-krik). Semakin mandiri juga kayaknya masyarakat Indonesia, gak cuma di Cirebon. Makanya, satu mobil satu orang. Lebih mending mana kalau tiap hari ganti-ganti kendaraan? hehe...maksudnya sih, ganti-ganti kendaraan umum. Gak semua dibebankan ke pemerintah juga, cara berpikirnya juga memang harus dirubah. Halah....

Jadi, tunggu apalagi, mampir mene ning Cerbon......