Jumat, 10 Oktober 2014

Nonton Tontonan!

Kalau ditanya, udah berapa film yang gue tonton selama ini? Jawaban gue simple, Lupa! Tapi kalau ditanya detil lagi tentang berapa film yang gue tonton saat gue buat akun komunitas nonton? Bentar, gue itung dulu, sekalian gue list ya?

1. Transformers 4
2. The Fault in Our Stars (nonton sendiri)
3. How to train your dragon? 2 (ns)
4. Dawn of The Planet of Apes
5. Act of Killing (Jagal)
6. Teenages Mutant Ninja Turtle
7. Guardian of The Galaxy
8. Hercules
9. Malam Minggu Miko Movie
10. The Maze Runner
11. Tabula Rasa Film
12. Annabelle
13. Dracula Untold

Padahal sebelumnya, gue nonton gak akan sebanyak ini, apalagi dulu cuma film yang direkomendasikan aja ditontonnya dari Twitter, lah. Tiga belas judul film dari diluncurinnya akun nonton dari bulan Juni sampe Oktober, 5 bulan, men!

Michael Bay (credit by google)
Tapi gue nggak akan bahas lagi film-film yang dengan bangganya gue tonton, sih. Gue malah liatnya gue jadi lebih ‘deket’ ke bioskop dan dunia film as anak kemarin sore, lah… Gue penikmat dan itupun bukan penikmat yang semacam satu film ditonton berkali-kali karena saking sukanya, nggak. Tipikal gue, masuk ke bioskop, duduk, saat film dimulai, gue fokus. Malah sempet ada yang bilang kalau gue diajak ngobrol pas di bioskop (jeda film berupa scene pemandangan atau semacamnya) pasti dijawab “hah?”, but that’s me!

Karena mulai menjadi penikmat film, dipantengin tuh siapa aktornya, ceritanya, sama sutradaranya, dulu ya kalau nonton mah nonton aja, nggak ngerti itu deh, hampir aktornya film yang gue tonton sebatas barlen, bubar klalen. Maksudnya, hapal nama, pernah main di film apa aja, y ague kagak tahu. Kalau cerita, indikasi yang gampang buat film yang diminati adalah “elo ngantuk kagak pas nonton film di bioskop?” itu aja, cukup. Kalau yang high-expert bisa jadi mereka mengkritik dari segi alur, plotnya yang nyambung atau enggak, dan sebagainya dan sebagainya. Pusing kayaknya ya?

Jujur, kalau jadi admin sosial media apalagi akun nonton, seharusnya emang mencari tahu dulu informasi filmnya kayak apa dan bagaimana, gak hanya ngajak-ajakin buat nonbar aja. Karena admin, kan, ya? Gue banyak googling jadinya. Ini film apa? Bintangnya siapa? Kapan mulai tayang? Ceritanya gimana? Sutradaranya siapa? Banyak juga kan pertanyaan gue. Jelas, supaya gue sendiri dulu yang paham. Eh, ngomongin sutradara, katanya film bagus ada peran besar dari sutradaranya meskipun si aktor baru, tapi ini bisa jadi dipatahkan pernyataannya juga, sih.

Ambilah dari kasus gue nonton Transformers 4, sang sutradara Michael Bay, dari Transformers 1-3 dia juga yang garap, ciri khas yang ditampilin sama sutradara ini, perang yang mengjelegar, sunset, dan gadis cantik, even cerita yang tidak dikedepankan. Dari film itu, gue ngerasa ada yang aneh, kenapa? Gue ngantuk! Iya, memang efeknya yang ditampilkan sadis! Tapi, ya, begitu, deh… Padahal aktornya ada Mark Walhberg.

Sebenernya masih ada lagi contohnya, Dracula Untold sama The Maze Runner, dua film itu sutradaranya debutan semua di film layar lebar, apalagi The Maze Runner libation aktor muda semua. At least, film-nya oke dan bagus. Emang dasarnya juga gue suka nonton, jadi tinggal pantau aja perkembangan film-film Hollywood.
Christoper Nolan (credit by google)
Tapi yang nggak kalah penting, unsur musik dalam filmnya, bisa scoring atau soundtrack film itu sendiri. Apalah gue yang sok tahu tentang film, paling bocorannya dari rotten tomatoes atau nggak imdb. Kan, ketahuan gue? Hehe…
Poster film Interstellar (credit by google)

Untuk November, gue lagi nunggu film Interstellar, nih. Garapan Christoper Nolan. Gue lebih excited nunggu tayang film di bioskop ya, daripada nunggu panggilan kerja, kenapa? Perusahaan lebih banyak PHP-nya soalnya, tsk! Lol


p.s

gue pas nonton Annabelle bisa diajak ngobrol dan ngajakin ngobrol, kok. It means film-nya ya-begitu-deh!

Rabu, 03 September 2014

Cerita pagi buta: Gagal Tes Kerja itu memang NYZK!

Balik lagi, gue masih terjaga di malam hari dan isi kepala yang ingin gue tumpahkan ke sini. Sudah jarang lagi gue menjadi manusia malam.

Manusia malam dan menjadi job seeker soalnya. Kalau gak menjadi manusia malam, brarti gue lagi sibuk nyari gawe. Begitupun sebaliknya. Hampir memasuki fase yang galau akut gue, kegagalan demi kegagalan yang gue dapet akhir-akhir ini.

Sebelumnya, kegagalan gue pada perusahaan BUMN di industri perkebunan tebu bernama RNI. Sebenarnya perjalanan menuju tes RNI ini yg sudah melepas panggilan dari PT Pusri dan Bank BNI disaat bersamaan. Soalnya, tesnya pun berlokasi di Surabaya dan saat itu gue udah menuju ke sana. Tahapan tesnya RNI yang pertama gue alhamdulillah lolos, langsung menuju tes wawancara. Pernah denger, kalau si interviewer enjoy dengan kita saat wawancara, sudah dipastikan kita lolos. Pengumuman datang hampir 1 bulan, karena gue optimis bakal lolos, gue mulai belajar lagi materi-materi tentang pertanian dari 4 komoditi, the, tebu, sawit dan karet. Sayang, ekspektasi gue yang berlebihan membuat gue gagal dan kecewa. Mungkin belum rejeki, susah kalau memang belum rejekinya. Gue tetep istikomah aja ke Alloh.

Berikutnya,

Alhamdulillah, ada rekrutmen BUMN lagi bernama PT Pusri. Pesenlah tiket ke Jakarta, kebetulan rekrutmen umum, jadi bukan di kampus gue, UGM. Hari Minggu, gue bareng temen-temen alumni ilmu tanah UGM bertemu untuk mengikuti tes, rangkaian tesnya panjang ini perusahaan, tapi pengumuman hasilnya cepet. Dari tes pertama yang gue jalani bernama tes aptittude, gue lolos. Sayangnya, temen gue dari UGM beberapa di antaranya gagal dan pulang, sampai menyisakan hanya 3 alumninya saja. Gue, adek tingkat gue angkatan 2008 dan 2009. Berlanjut ke tahap tes TPA. Malam sebelumnya, gue belajar karena emang gue niat banget masuk perusahaan pupuk. Buka-bukalah buku biologi dasar semasa kuliah. Matematika juga sempet gue pelajari untuk mengingat rumua turunan dan integral, karena TPA itu kepanjangan Tes Potensi Akademik. Dari kasus sebelumnya dari temen-temen gue, soal yang bakal keluar adalah soal pengetahuan dasar sesuai dengan jurusan eksak dan non eksak.

Apa yang terjadi. Gagal! Kok bisa? Gue selalu tertipu dengan 'katanya' dsn forum dari internet. Bodohnya, gue kelewat rajin juga belajarnya. Siapa yang gak kecewa berat? Soalnya pun tidak ada sangkut pautnya dengan akademik yang kita pelajari di bangku kuliah. Malah bertipe psikotes dengan variasi yang sangat komplek. Apalagi matematikanya, gue lupa semua tuh materi deret, muncullah jumlah deret dari suku ke-blabla dan suku ke-blabla. Ada pula yang lebih absurd lagi, menghitung suku ke-x dari desimal bilangan 3.14xxx gitu deh. Matilah gue! Ini mungkin yang namanya belum berjodoh, sekuat apapun usahanya kalau belum dikatakan 'ya' oleh Alloh tidak akan terjadi.

Kali inipun gue makin kelabakan cari kerja, kenapa? Kalau bokap gue per tanggal 1 September 2014 kemarin udah pensiun, dan gue baru tahu malem sebelumnya coba? Gue shocked berat. Apalah gue keluyuran cari kerja sana sini tapi belum ada yang nyantol. Entah sekarang yang gue lakuin nyari kerja apapun, paham sik kalau Alloh sudah menggariskan takdir seseorang meskipun gue masih berusaha nyari. Sebelumnya gue juga nolak keberangkatan kerja di perusahaan milik PMA Malaysia.

Ada yang bilang rejeki nggak ke mana, tapi gue tetep mau ke mana-mana, sik. Gimana?

*
Gue nulis ini sebelumnya agak sedih, makin ke akhir kok nggak sama sekali? Oh, gue meski job seeker ada kegiatan yang bisa gue banggain *tetep* lho kayak komunitas gue @NontonCRB sama @CirebonBerkebun \o/

Jumat, 08 Agustus 2014

WHAT I HEARD THE MOST LATELY?

Sengaja gue kasih judul lebih dulu untuk mengerucutkan apa yang gue akan ceritakan. Sebelum memulai kepada judul yang udah gue kasih tau, gue akan sedikit bercerita. Nggak banyaklah. Cerita tentang para pemburu kerja alias pengangguran. Iya, gue masih cari kerja.
Mungkin yang bernasib sama dengan gue, nampaknya agak sedikit sama ceritanya, being jobless is sin. Tapi ceritanya bakal lain kalau elo bisa ambil waktu-waktu nganggur buat kegiatan positif than do nothing at home.

During Raya, I had met some friends when I was in high school. Iya, namanya juga acara halal bihalal, nggak banyak, memang. Sambil mengikat silaturahmi, nggak ada salahnya, toh? Tetapi ada yang beda saat elo bertemu dengan mereka di tahun-tahun sebelumnya. Kenapa?

It’s gonna be the question that their asking:

“sekarang kerja di mana?”

Sebagai pengacara, that’s rude question for people that you knew exactly if they hadn’t got a job. Simply, but hurt. Namanya juga manusia, kadang ada khilafnya kali, ya. Itulah yang gue rasakan, setelah lulus di tahun 2013 awal, bekerja 3 bulan di suatu perusahaan, lalu mencari kerja lagi, dapat kerja lagi, dan menganggur lagi, hampir satu tahun lebih, gue kira.

Di sanalah, kebosanan yang hampir menuju boiled-point, pingin jadi anak yang ansos (anti-sosial) tapi kelamaan juga bosen di rumah. Ada juga kalau di rumah terus, tekanan batin dari pertanyaan sederhana yang diajukan oleh ortu sendiri. Emosi yang keluar bakal nggak karuan.

Selama itu pula gue jadi skeptik sama perusahaan-perusahaan yang berusaha gue lamar dan orang-orang yang menjadi bijak. Eh, kalau yang kedua emang gue yang suka cerita, jadi dikasih motivasi, gak masalah, sik. Kalau tentang perusahaannya? Gue ada cerita juga.

Suatu ketika gue sedang menggarap skripsi, gue antusias banget untuk melamar ke beberapa perusahaan yang gue incer, kesannya begitu gue lulus kuliah, gue tinggal langsung kerja. Ternyata ekspektasi got me down. Tapi, gue gak berhenti cuma di situ, gue lulus, lamar sana-sini dengan semangat ’45-nya, meski jauh tempat tesnya, gue lakoni demi masa depan gue. Ohya, beberapa bulan setelah lulus pun gue keterima kerja, kontrak 3 bulan. Selepas kontrak habis dan nggak memperpanjang, karena tergiur dengan kerjaan di mana potensial banget dengan bidang yang gue tekuni selama kuliah, sik. Alhasil, failed. Perjuangan berlanjut, lamar lagi, ikut CPNS 2013. Sampai akhir tahun 2013 belum dapet kerja juga. Masih. Gue masih ada semangat meskipun menurun indikatornya, gue tetap berusaha. Di awal tahun 2014, ketrima kerja di salah satu perusahaan, sayangnya di sana selama 1,5 bulan bekerja, gue nggak digaji. Poor me! Mau ngadu? Percuma. PKWT-nya pun tidak diberi copy-annya, dan ternyata gue baru tahu kalau itu perusahaan memiliki manajemen yang jelek. Ikhlasin jadinya.

Berakhir di perusahaan lain, semangat yang mulai mengendur hingga datang memasuki usia gue yang memasuki setengah abad. Makin galau, dong? Di saat keluar beberapa bulan dari perusahaan itu, gue ketrima kerja di perusahaan perkebunan di Kalimantan yang merupakan PMA Malaysia. Seneng dong gue? Sesuai bidang. Sayangnya, itu perusahaan kok sering memundurkan jadwal keberangkatan gue ke lokasi training-nya, ya? Usut punya usut, ternyata mereka tidak sebaik menyiapkan ‘bekal’ schedule calon karyawannya, sehingga banyak yang turn over di saat penerimaan atau…mengetahui gaji yang ditawarkan. Memang gaji yang ditawarkan tidak besar dan cukup bisa menderita untuk tinggal di Kalimantan. Begitu kata temen gue yang pernah bekerja di sector perkebunan di Kalimantan. Akhirnya, karena kedua alasan yang patut gue jabarkan, gue memutuskan untuk tidak mengambilnya. Dengan resiko, uang medical check-up hangus, karena ditanggung dulu oleh calon pelamar. Ikhlasin lagi, deh. Padahal gue udah buat tulisan di blog acknowledge ke temen-temen gue selama lamar sana-sini atas jasa kebaikannya. What a shame!
Kali ini, belum ada kabar baik, tanda-tanda positif pun belum terlihat. Mulailah skeptik, di sinilah rule dalam hidup bekerja, expectation will kill you. Semangat? Ada kok, tinggal sedikit, sik. Berharap? Pasti! Sama Alloh, pastinya. Expectation? No more.

Balik lagi ke relasi judul yang udah gue kasih. Gue sekarang menjadi orang yang sangat amat sensitif sekali dalam hal untuk sekedar berkumpul dengan temen-temen kalau sudah menyinggung kerjaan. Gue mending banyak diam, berdoa, dan bergeriliya dalam nyari kerjaan. Meski akhirnya mereka akan tahu, sik. Kayaknya, cita-cita itu emang harus disembunyikan, banyak beraksi ketimbang keinginan yang hanya angan-angan doang.

Apakah tahun depan akan bernasib sama? Entah. God’s plan. Sedikit sedih gue nulisnya. Malu pula. Apakah Tuhan menyempitkan rejeki hambaNya ini, atau gue yang terlalu menolak rejekiNya. Lebih banyak intropeksi diri dan berserah aja. Kok gue mendadak relijius gini? Karena gue tahu, bukan saatnya lagi untuk berbuat keburukan. Bukannya akhirat itu lebih baik dari segalanya?

Ya tapi…..

L

Minggu, 06 Juli 2014

My Brand New Day: Don't I look So Sad, huh?

Welcome July.

This what's most tough life in my quarter-life. Why should I write on July? Because on June, there's my birthday date and I hate it. My age gets older by that day if everyone notices it. I don't have any job today and ignored job offering that I usually mentioning over in Borneo. Here I am now. Laziness one like a shit.

Some story that I should be done, but it stops. 

Here the good news: Just because I am jobseeker doesn't mean I don't have any activity. Recently, I and 2 my friend initiate to make group or community based on social media, twitter, actually. But this is not the one, this it is similar to another group that call (@)NontonYK; (@)nontonSolo etc. We had held event #nonbarCRB at the first time successfully. 

What do we do on social media? I usually updating movie in cinema and give some info to followers. Not only info but also event gathering that I mentioned before. This my pride, tho. One thing I should take responsibility to the group, I learn more stuff about design software. It's fun.

Oke, that's greeting article for July. So lots of fun!

Jumat, 30 Mei 2014

Malangku di Malang: Belum Berakhir!

Masih Malang di Bulan Oktober 2013

"Lapar!" 
Bukan cuma perut yang protes untuk diisi nasi, tapi juga 'lapar' kepingin jalan-jalan lagi, seharusnya kali ini bisa memilih angkutan yang wajar dalam urusan uang. Ingat! Saya juga di Malang berniat ikut proses seleksi perusahaan bukan sepenuhnya jalan-jalan. Kalau gagal tesnya, baru jalan-jalan, deh! Hail Malang!

Sebagai jobseeking-traveler, sudah seharusnya saya menceritakan kesan jalan-jalannya di manapun saya mengikuti tes daripada  memberikan info tips dan trik tes di perusahaan X atau Z. Kalau mau cari, coba buka di Kaskus lebih komplit ketimbang di sini. Tepatnya masuk ke [Forum] buka [Bisnis] lalu [Dunia kerja & Profesi]. Penuh dengan tanya-jawab beberapa kaskuser tentang beberapa perusahaan di sana. Kalau malas buka, gimana mau dapet rezeki. Rajin-rajinlah kau, kisanak!

Balik ke topik pembicaraan yang harus segera diselesaikan. Tujuannya di sini adalah tes dan tidak banyak waktu untuk berleha-leha, maka dari itu selepas mandi, saya pergi menuju keluar penginapan mencari sarapan. Sayangnya, di sekitar sana nggak ada penjual makanan, namun yang saya temukan adalah semacam toko roti dan makanan kudapan tepat di samping penginapan. Tidak ingin ambil pusing karena takut mati kelaparan, saya membeli satu buah roti bantal, snack Taro, air mineral dan air teh dalam kemasan, dan satu bungkus rokok. 

Waktu terus menghantui saya dan berlari begitu cepat,  saya kembali menuju kamar dan memakan makanan yang saya sudah beli tadi. Beberapa menit kemudian saya sudah siap menjelajah lokasi tes. Karena tes diadakan keesokan harinya, jelaslah saya harus paham lokasinya tersebut. 

"Sep, kalau mau ke Un-Braw dari stasiun naik apa?" Pesan lewat BBM yang saya tanyakan, sambil jalan menyusuri jalan Kahuripan untuk sekedar sightseeing saja. Di sana saya melihat beberapa kafe dan resto yang masih tutup. Mungkin, karena masih pagi juga nampaknya. 

"Kamu udah di Malang, Nu"
"Naik ADL aja, itu nanti turun di belakang UB, kok" 
"Kamu sama siapa ke sana? Ikut tes apa?" Tiga pesan masuk secara berurutan masuk dari teman saya.

"Berapa emangnya tarif angkotnya, Sep?"
"Iya, kita (saya. red) mau tes di deket UB lokasinya"
"Iya, sendiri" Mencirikan bahwa pengguna BBM atau aplikasi obrolan lainnya, selalu membalas dalam tiga atau mungkin lebih pesan yang sangat pendek. Begitu pula saya menjawab Asep ini. Bayangkan jika latah menjawabnya melalui SMS yang selalu dikenakan tarif reguler. Enggak berbeda sih untuk tarif, tapi jaman sekarang sudah sering menggunakan paket data internet untuk berhubungan dengan yang lain, meskipun pulsa kosong. Nah, deh ketahuan saya kalau sering gak punya pulsa. Hehe....

"Paling 3-4ribu"
"Yawes, sukses" 

"Sip, thank, Sep" tutup saya.

Karena mepet, bukan berarti saya puas menjelajah di sekitaran Tugu Malang. Suatu saat, saya kembali lagi ke sini, pasti!

Berjalan sambil mencari angkutan umum berlogo 'ADL' seperti apa kata Asep tersebut nampaknya agak sulit atau memang belum beruntung dapat yang kosong. Saya berhenti di depan korem tentara AD di sana untuk mengawasi angkot yang lewat situ. Satu-dua-hingga-5-menit kok gak nongol-nongol, ya? Terpaksa berjalan lebih jauh, deh. Sial ini angkot.

Itu angkot ADL, kayaknya. Dalam hati berbicara. Benar, ternyata! Mendakati angkot itu dan melihat, wow, kosong! Akhirnya pucuk dicinta angkotpun 'ngetem'. Benar, angkot ini karena baru saya saja yang masuk dan ada di dalamnya, saya menunggu lagi. Kali ini lebih lama dari sebelumnya saya menunggu. Lebih lama daripada menemani cewek berbelanja pakaian, pokoknya. Udah gitu, dandannya lama, pula. Aku harap karena di angkot sendirian, sesekali supirnya curhat gitu kan bisa lebih hangat. Sayangnya, enggak! Hih!

Beberapa menit menunggu jalannya angkot, tapi kok nggak ada orang yang masuk, ya? Hati saya bertanya-tanya. Kayaknya kota di Jawa Timur bikin sial terus setiap kali dikunjungi atau saya yang punya masalah, ya? Tapi, dugaannya benar adanya. Karena belum dapat penumpang lainnya di dalam mobil, tiba-tiba angkot berjalan pelan, pastinya saya berucap syukur, eits...belum bergerak jauh, ada wanita paruh baya dengan perawakan agak gemuk dan berwajah Indonesia bagian timur memberhentikan angkot dengan motornya. Saat itu saya nggak tau percakapan yang berlangsung, tapi rupanya ada tawar-menawar harga. Jreng jreng! Masalah saya apa, ya Tuhan! 

"Mas, mau ke UB, kan?" tanya sopir angkot yang pada saat awal saya masuk dia menganggukan kalau angkot ini akan menuju ke UB

"Iya, mas" Jawab saya dengan kebingungan karena tiba-tiba bertanya kembali dan akhirnya sopir angkot ini memulai pembicaraan dengan saya. Terima kasih, ya Tuhan! Bentar, k-o-k?

"Pindah angkot yang lain aja ya, mas. Soalnya mau disewa" Kata dia

Jawab:
"...oh, oke.." sambil senyum lalu turun dari angkot itu

Kenyataan:
SIALAN! ANJIS. RUGI WAKTU. *^(^(&% ARRRRGH!!!!TUHAN ADA APA DENGAN SAYA?!

Namun pada akhirnya, saya mencari angkot yang sama menuju tempat lokasi tes dengan tanpa disuruh keluar atau dioper.


Malamnya di Malang: Kamar No 9

Kembali pada sore hari setelah kesialan yang menimpa saya dan di kamar inilah saya memulai malam. Masih ingat dalam tulisan sebelumnya, kalau kamar sebelah dari kamar ini adalah kamar yang sangat tidak layak dihuni. Kosong dan nampak banyak jaring laba-laba menggantung di atap-atap kamar. Spooky, though?

Ritual, kali ini ritualnya. Iya. Ritual. Berupa...Makan malam! hehe...

Tenang. Mari kita menghela nafas sebentar apa yang akan terjadi di-samping-kamar-bernomor-9. 


to be continued...

Cetak-Miring-garis-bawah:
Bahasa Cerbon: kita = saya.

Rabu, 28 Mei 2014

Malangku di Malang: Penginapan atau Kandang (?)

"Pak, kita cari lagi penginapan yang lebih murah, deh" Pinta saya ke bapak tukang becak ini sambil keluar dari pelataran halamannya, saya masih mencari penginapan yang kira-kira cocok dengan kantong. Masih ingat saat itu kawasan penginapannya berdekatan dengan kantor walikota Malang. 

Masih berada di atas becak, saya melihat kekaguman dengan kota Malang, bangunan-bangunan kuno yang dipakai untuk Hotel dan melihat bundaran yang di tengahnya ada tugu. Masih hijau, bersih, dan asri. Tunggu. Ini. Benar. Saya. di Malang? tanya saya dalam hati. Strukturnya hampir mirip dengan Tugu Muda di Semarang. Ya sudahlah, saya nikmati saja tata kotanya sambil menunggu si bapak tukang becak ini membawa ke mana lagi untuk mendapatkan penginepan yang saya inginkan.

"Coba yang ini ditanya, mas" si bapak ini menunjukkan salah satu penginepan dan berhenti di deapannya.

"hmm...oke, pak"

Agak ragu melihat kondisi bangunannya, tidak terlihat seperti penginepan, ruko, malah. Turun dari becak, saya masuk ke dalam 'lobi' ala ala. Namanya juga penginepan apa adanya, resepsionispun saat saya ingin beertanya, tidak ada. Tiba-tiba muncul seorang pria dengan perawakan tinggi kurus bercelana pendek, dengan janggut seperti Bams Samson. Yakin, nih penginepannya? Was-wasnya demikian. 

"Gimana, mas?" Tanya si janggut ala Bams Samson ini.

"Di sini per malamnya berapa, ya, mas?" Sambil duduk di depan kursi yang kosong tepat di depan resepsionis.

"Per malamnya 90000, mas" Jawabnya singkat

Karena sudah tidak mau muter-muter lagi mencari penginepan dengan becak dan saat itupun lapar serta lemas. Saya mengiyakan saja. Toh, saya di sini yang penting bisa tidur, gak usah muluk. Jika dibandingkan dengan penginepan di Jogja,  harga segitu sudah termasuk tinggi dengan kondisi yang lebih baik. Lebih baik? Iya. Di Sini saya melihat pemandangan 'lobi' dengan tatanan yang berantakan. Satu aquarium besar dengan air yang sudah menghijau di salah satu sisi pintu dengan satu ikan Arwananya, beberapa sepeda gunung dan satu sepeda low-rider terlihat tidak semestinya berada pada posisi yang baik. 

Setelah deal dengan penawarannya, saya menuju bapak tukang becak itu untuk membayar jasanya. Sambil mengeluarkan uang dari dompet dan memberikan uang 15000 rupiah.

"ini, pak.." dengan menyodorkan uang

"20000, mas" sela si bapak ini

"loh, tadi perjanjiannya katanya 15000, masa nambah?" protes saya dengan heran

"ya, kan tadi sekalian keliling nyari penginepan, tha?"

Kesal dengan si bapak ini, saya tidak mau banyak berdebat, karena memang lelah. Saya berikan tambahan uang 5000 lagi kepadanya. Dengan muka kesal, saya memberikannya dan melipir masuk penginapan tanpa memberikan ucapan terima kasih. Tau gitu, saya ajak keliling-keliling lagi, deh. Lagian, kayaknya deket juga jaraknya dari stasiun sampai penginapan ini. Gumam saya dalam hati.

Karena belum memasukan dompet ke saku celana, saya kembali menuju meja resepsionis untuk melunasi pembayaran langsung untuk satu hari menginap dan memberikan KTP saya sebagai jaminan. Si mas janggut-kurus-berjenggot-ala-Bams Samson ini lalu menyerahkan kunci kamar kepada saya, sebelum menuju ke kamar, si mas tersebut memberikan tips tambahan kepada si bapak tukang becak ini sebesar 10000 rupiah. Anjislah, gak bener itu tukang becak. Kata saya dalam hati.

KAMAR NO 9
Kamar saya berada di lantai 2 di penginapan itu, saya terkejut saat melihat kamar sudah terbuka lebar. Di sana saya menemui ada seorang mas-mas lagi yang berkisar umur 28-an yang sedang membereskan kamar mandi, tepatnya membersihkan dan mengisi bak mandi dalam kamar tersebut.

"Nginep berapa lama, mas?" Pertanyaan sapaan pengenalan dari si mas itu.

"Oh, cuma sehari aja, kok, mas" jawab saya singkat

Karena percakapan ini saya anggap tidak penting, saya tidak melanjutkan dialognya, deh.

Setelah selesai semua dibereskan oleh si mas tersebut, saya masih menerawang kamar ini.
Kamar yang berisi satu tempat tidur ber-type family bed yang tersudut dengan kasurnya berupa...kapuk.
Dua bantal yang sudah...lepek.
Spreinya dengan motif...kembang-kembang.
Satu meja dan satu kursi yang...berkarat
Kipas angin yang...berdebu
Letak tv yang menempel pada dinding dengan bersangga pada besi ternyata nampak benda tersebut terkurung pada...sel
masuklah ke kamar mandi dan masih beralas...tegel
dengan bak yang, saya nggak tega. oke tapi airnya bersih, sih. Cuma baknya nampak terlihat...kotor

Mau bagaimanapun, kalau harganya terbilang murah banget, ya mungkin kondisinya seperti ini. Sudah tidak peduli lagi dengan kondisi kamar, yang penting bisa tidur, mandi, dan mengikuti tes. Saya lalu mengeluarkan isi tas, satu hal yang saya utamakan, ialah mengecas hape. hehe... Sembari merebahkan badan dengan kaki saya sambil merentang-menutup seperti Sinchan yang sedang ngambek, tiba-tiba kaki saya menyenggol tembok yang ternyata...TRIPLEK!

Karena merasa aneh, jangan-jangan hanya saya sendiri yang menginap di sini, saya melihat-lihat ke lorong deretan yang hanya ada 4 kamar, sambil menengok kamar sebelah yang merupakan kamar paling pojok setelah kamar saya, ternyata kamarnya lebih parah dari yang saya tempati dengan gorden yang terbuka atau memang tidak menempel pada penyangganya, dengan kasur single, tanpa adanya tv di dalamnya. Mungkin kamar tersebut memang dalam kondisi yang sangat amat tidak layak dan terawat. Pikir saya, kenapa saya dikasih kamar yang bersebelahan dengan kamar yang kayak gitu, ya?

Sebelahnya, untungnya. Ada beberapa pemuda yang baru check-in juga setelah saya lihat.

Sayangnya, saya tidak mengabadikan penginapan selama saya di Malang, mungkin saya akan memasukkan beberapa foto yang berkaitan dengan cerita ini.

To be continued...