Selasa, 21 April 2015

The Journey to The East of Java: Help my Elf!

How to tell your mother if I am Alive? I am survivor!

Sebenarnya gue bilang gitu, iseng. Tetapi dalam setiap perjalanan, ada dong yang namanya 'pertahanan' tentang bertahan hidup? Sama halnya menjaga agar alam Indonesia itu tetap begitu adanya.

Gue sebagai anak kantoran, ngerasa jalan-jalan adalah dopping biar gak mampus. Banyak mereka yang jenuh dengan pekerjaannya, trus monotony lag hidupnya. Banyak dari mereka juga how to enjoy their own life. Keluarga, Teman atau Pasangan yang bisa hidup mereka stabil. Kestabilan gue, adalah jalan-jalan. Meski cuma disekitaran 'kampung' doang, maklum karyawan. 

Dimulai lagi, yuk....
Paling suka liat daerah-daerah di Jawa Timur. Selain daerahnya gak terlalu padat, potensi wisatanya juga cakep. Eh, apa gue doang yang bilang gini karena kurang piknik?

Karena jaman kuliah pernah sekali lewat Banyuwangi tepatnya TMP Baluran, apalagi di media-media mainstream banyak yang mengulasnya. Gue jadi tertarik. Kebetulan juga paket wisata yang gue ambil, udah termasuk Baluran. Makin bergairah aja dong gue?

Menariknya TMP Baluran ini karena ada satwa liarnya, banteng, kera, bahkan rusa. Sayangnya, kalau ingin mengambil fotonya, kita harus sedikit usaha lebih untuk mengambilnya dari jarak dekar atau punya kamera dengan lensa jarak jauh. 

Bayangkan jika berada di sana? Luasnya berkali-kali lipat dari lapang bola. Bahkan lebih luas dari bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. Sebagai traveler pemula, apa salahnya mencoba berfoto ria di antara luasnya padang rumput di ujung timur Jawa ini. 

Nggak cuma rombongan open trip rombongan gue aja, ternyata di sana juga ada beberapa rombongan lain yang sama-sama asik berfoto. Padahal, kalau ada rencana ke sana lagi, feel adventure yang keren itu pakai jeep. Sayangnya, rombongan gue pakai elf pariwisata. Kesan adventure bareng rombongannya emang nggak ada, tertinggal hanya fun-nya saja. 

Ngomong-ngomong tentang elf pariwisata ini, ada lagi hal yang tidak terduga. Namanya juga manusia hanya punya rencana, Tuhan yang menentukan. Iya nggak, sik?

Selepas pergi dari padang savana nan luas, sekitar pukul 17.00. Memasuki kawasan perdu tanpa adanya cahaya lampu penerangan, jelaslah! Namanya juga di alas. Dengan kecepatan mobil  yang lambat, semakin meninggi juga  bulan purnama dan gelap. Hanya sesekali kendaraan yang lewat juga melintas untuk pergi pulang. Tiba-tiba elf yang kami tumpangi membentur batu di bagian bawahnya. Dalam hati "semoga nggak seperti yang sebelumnya ini elf jadi mogok". Lagi-lagi bermasalah dengan kendaraan kami. Di antara kegelapan malam, nggak ada lampu, bahkan sinyal provider pun nggak ada. Pasrah! Jam menunjukkan pukul 7an malam itu. Gila kan elf gue? Jalannya sampai 2 jam, itupun belum sampe depan pos TMP Baluran. Beruntungnya, elf saat itu kembali normal, meski berjalan semakin pelan karena harus berhati-hati. Ketimbang bermalam di hutan? Bakal ada acara sinetron ala-ala MASALEMBO. 

Sebenarnya estimasi pada waktu itu, kami sudah sampai pukul 21.00 di guest house wilayah Taman Nasional Meru Betiri. Kenyataannya, pukul 9an malam, kami baru sampai pos TMP Baluran dan...ganti elf pariwisata.

Jadi, pertanyaannya.
1. Pukul berapa gue sampai Guest House?
2. Apa yang gue renungkan?
3. Berapa orang yang sudah makan malam?
4. Sudah lelah dengan pertanyaan di atas? Apalagi gue yang jalaninnya? 


Kita lanjutkan besok.... 😂😂😎
Pasti lebih seru!

Minggu, 12 April 2015

The journey begin to East of Java


Gue duduk di shift ke tiga atau lebih tepatnya barusan kedua dari belakang di dekat jendela. Di samping gue berkenalan dengan Ririn dan Rizkha, dua cewek dari Bandung berdarah jawa. Berbagi cerita. Awalnya, dalam perjalanan tersebut semua nggak banyak bicara. Sempat tertidur selepas dari Bandara Juanda sebelum ke berhentian di rumah makan.

Hampir 30 menit kami makan sambil bercakap-cakap. Kalau gue malah lebih sering main ke toiletnya, maklum belum mandi. Hehe... Di kamar mandi pun cuma membasahi muka saja, jorok banget, ya?

Sekitar pukul 10.00 kami melanjutkan perjalanan, saat itu memang hari Jumat, tapi karena kita musafir, nggak jumatan, deh.

Time flies thru our trip, selain itu juga  pantat mulai pegal karena kelamaan duduk. Ada serunya duduk samping jendela, bisa lihat-lihat kota yang kami lalui di Jawa Timur. Ternyata, masih sepi-sepi, lho. 

Jam 12.00 siang, kami ber-empatbelas istirahat lagi di daerah Rest Area yang cukup besar, tidak hanya resto dan cafe, tempat ini pun terdapat SPBU, masjid dan toilet yang cukup bersih. Oh, iya, ada minimart juga. Daerah ini masih di Kabupaten Situbondo, dan a lot of people just taking a rest here. 

TAK ADA GADING YANG TAK RETAK
Mungkin ini bisa dibilang hambatan bagi kami dan penyelenggara. Mobil yang kami tumpangi terkendala dengan kampas kopling di jalan raya Banyuwangi-Situbondo. Dengan menunggu berjam-jam di Masjid terdekat, akhirnya Fafa menyesuaikan jadwal kembali. Fyi, TMP Baluran tutup pada pukul 16.00, dan seharusnya kami dijadwalkan ke sana pada hari pertama.
Sempat gue mengabadikan momen ini, keliatan, kan, bete-betenya kami? Hampir 4 jam kami menunggu sebelum elf lainnya menjemput kami. 

Karena hal tersebut, kami langsung dibawa ke penginapan, yang nggak kebayang pusingnya itu, Fafa. Harus 2x atau mungkin 3x putar otaknya. Bagi gue, salut sama dia. Sebelumnya sempat dia bilang bahwa nggak pernah kejadian seperti ini.

Sing penting nanti malam, bangun Jam 00.00 untuk ke destinasi Kawah Ijen. Apalagi udah ketemu kasur! Woho....

BANYUWANGI, 4 APRIL 2015, 00.00 MALAM.
Apa yang elo lakuin setelah melihat air minum, di saat elo kehausan? Jawab simpelnya, minum. Begitu juga kami, yang capek kelelahan, unpacked, take a shower and got some sleep, but it was...wrong! Saking excited atau capek, gue kaga bisa tidur. Ya, tidur ayam aja, deh.

Justru saat gue bener-bener terlelap, eh, malah dibangunin si Fafa, kan, kampret! Yang ada pala barbie pusing, dong. Halah...nggak juga, sih, gue masih banyak enerji untuk menuju Ijen. 

Pukul 00.30 kami semua sudah berkunpul di Parkiran hotel, sesaat mobil jemputan pun tiba untuk membawa kami ke Ijeeeeeen. 

Pikir gue, gue bisa tidur dulu di mobil, kata si Fafa, menuju Ijen dari penginapan sekitar 2 jam perjalanan, see?

Kenyataannya: mata gue melek sepanjang perjalanan!

Eh, even mata gue melek, gue kadang nikmatin dari dalam kaca mobil suasana kota Banyuwangi dan sekitarnya. Memang sepi dan gelap, sih, tapi di saat itulah, masih ada manusia-manusia yang ingin menjajal adrenalinnya mendaki Gunung Ijen, banyak pengendara roda dua dan empat yang berbarengan menuju ke sana dengan kami. Tidak lama dari pusat kota, gue udah mencium bau belerang yang kuat dari dalam mobil. Ijen, gue dateng!

Karena kaca mobil supir dibuka, selain bau belerang yang kuat, udara dingin mulai menerpa. Kami semakin excited dan niat gue buat tidur di perjalanan, gagal. Tepat pukul 2.30 kami sampai di pos Paltuding 
Segera kami turun dari mobil dengan mempersiapkan peralatan yang akan dibawa beserta baji hangat. Ternyata, memang banyak para wisatawan yang telah menunggu di sana untuk mendaki dan melihat kawah Ijen. Layaknya pasar, pos Paltuding pun ramai. Fafa, bergegas untuk mendaftarkan kami semua dan kami menunggu sebelum Fafa kembali dan menginstruksikan untuk mulai mendaki.

Saat itu jam menunjukan pukul 2.50, gue mencari toilet, karena kebelet pipis, maklum, gara-gara udara dingin, jadi si dedek 'keringetan' hehe... Sayangnya, toilet penuh, jadi gue mengurungkan niat.  Semua berkumpul dan berdoa, buat keselamatan kami semua. 

IJEN VS BROMO
Di tahun 2009, pertama gue cinta jalan-jalan dengan tujuan ke Bromo. Emang gunung Bromo namanya, saking pendeknya, si Bromo pun ada anak tangganya sampai puncak sana. Kalau kata temen gue, itu "gunung-gunungan", nggak berasa mendakinya, yang ada wisata aja, tapi ternyata maksud dari dibuatnya anak tangga menuju puncaknya itu, karena di sana memang sebagai acara upacara adat warga desa Tengger, yang notabene udah sepuh.

Terus, kalau ijen gimana?

Usaha dulu, dong. Enak aja maen bikin anak tangga, maen aja ular tangga, gih. Hehe... Meskipun jalur pendakiannya masih terbilang manusiawi, sih. Semanusiawinya jalur pendakian menuju puncak, seenggaknya ada yang saling menjaga. Gue sering banget denger cerita dari temen-temen yang memang pecinta alam, bahwa di gunung itu harus bisa mengendalikan ego. Banyak orang keluar sifat aslinya kalau diajak mendaki, lho. Gue cuma bisa meng-iya-kan saja, tapi faktanya emang begitu. Mau diapain lagi, coba?

Manusiawinya begini, jalannya lebar, kira-kira 2-3 rentangan tangan orang dewasa, dengan medan yang lembab-kering, dan kemiringan hingga 10-20 drajad.

Namanya juga gunung, semakin tinggi, semakin menipis pula cadangan oksigennya. Alias bikin engap. Apalagi bau belerangnya yang pekat. Saat itu, gue, Ayu dan Ifa menjadi yang paling belakang di antara temen-temen yang lain. Karena melihat banyak juga turis-turis domestik dan mancanegara yang sesekali beristirahat di tengah perjalanan, kadang gue nyeletuk dan berseru "pucuk...pucuk...pucuk..." Kali aja membakar semangat yang lain biar tetap semangat menuju puncak. Sayang, kan, udah mendaki capek-capek dan bangun tengah malam, nggak bisa liat blue fire-nya. 

Semakin atas, jalan semakin menyempit, mungkin cukup dilalui 2 orang saja. Dengan penerangan seadanya, gue dan yang lainnya mencoba mengejar waktu, karen pada saat itu medan yang kami lalui sudah landai. Tepat pukul 4.30, gue udah ada di puncak gunung ijen dan melihat si api birunya. 
 

Karena kurang puas melihatnya dari kauh, gue menuju kawah. Cukup berat medannya, karena didominasi oleh batuan yang terjal dan besar. Padahal di sana ada papan peringatan untuk dilarang memasuki kawasan kawah. Dengan penutup masker debu yang seadanya, gue makin nekad. Di saat bersamaan matahari telat terbit dan api biru sudah tidak nampak lagi, di sana pun para penambang belerang kembali menuju atas. Hanya beberapa turis bandel yang salah satunya adalah gue. 

Karena nggak mau kehilangan momen, sempetin gue foto-foto di dekat kepulan asap belerang 

Klik...klik...saking asiknya berfoto. Boom...tiba-tiba kepulan asap belerang tebal menuju arah gue. Dalam posisi tertutup masker, gue sesak nafasnya, sakit, ditambah mata gue perih dan arah jalan menuju ke atas, nggak kelihatan, dalam hati, gue nggak mau mati di sini, gue nggak mau mati di sini. Pas gue menemukan pijakan untuk menuju keluar dari kepulan asap belerang, gue terpeleset dari pijakan itu. Beruntungnya, ada seseorang yang membantu gue menjulurkan tangannya. Dalam hati, gue selalu menyebut nama Tuhan dan bilang gue gak mau mati dan nggak mau repotin orang-orang. Akhirnya, gue selamat meski harus terus-terusan batuk. 

Hal bagi gue pelajaran saat itu, jangan mengabaikan papan peringatan. 

Sesampainya di atas, gue langsung minun air putih yang banyak. Sambil menenangkan diri, ada kalanya gue juga berfoto berlatar kawah ijen.

Pukul sekitar pukul 7.20, gue dan rombongan menuju ke pos pendakian Paltuding kembali dan bergegas untuk menuju ke destinasi berikutnya.

To be continued...

Intro: let's begin the Journey to East!

Ah, April! I hope this is ain't shit just because April fools. But I was really excited. 

Few hours before left the town...
Tumben, gue nggak kena sindrom pra-travelling, mencret maksudnya. Tapi ya syukurlah. Kebetulan, jarak kantor sama stasiun Cirebon Kejaksan nggak begitu jauh. Kalo bisa jalan kaki, bisa 15 menit, doang. 

Berangkat dari Cirebon pukul 18.47 pakai Kereta Gumarang kelas Executive, ada yang bilang "katanya backpacker, tapi kok pakai kereta Executive?" Gue bilang dalam hati "peduli syaiton, amat!". Gue udah lama gak jalan jauh, jadi rasanya agak aneh aja sekarang bisa jalan-jalan lagi. Nggak peduli lagi sama nanti mau nggembel di mana? Gue udah punya duit sendiri! Bwek... :p

Ekspektasinya demikian, berasa tajir! Padahal masih kelas teri, anak teri, malah. Hehe... Dan ini juga pertama kalinya gue ikut acara OPEN TRIP dari twitter, kebetulan juga memang udah ada niat ke destinasi tersebut, sih. 

Pertanyaannya: mau nge-trip ke mana emangnya?

Jawab: ke Ijen! 

Itu tujuan utamanya, tapi kebetulan si organizer-nya ada tujuan tambahan, gue makin Excited, lah. Dari dulu selain ke Ijen impian waktu jaman masih kuliah, pingin juga ke Taman Nasional Baluran. Kebanyang, ke daerah padang Savana yang masih ada binatang liarnya, kayak di acara Animal Planet di Africa, tapi karena ini ada di Jawa, makanya bernama Africa van Java! Whoaa..!

Tepat pukul 03.24, gue udah ada di Surabaya, sesuai briefing lewat surel, di tanggal 3 April 2015 untuk meeting point-nya di Surabaya pukul 6.00-7.00. Di hari sebelumnya, pihak @funAdventure_ melalui tour leader-nya mengirimkan sms, bahwa Fafa akan menemani selama perjalanan nanti. Di sanalah, gue terus menghubungi dia. Karena MP hanya di Gubeng stasiun dan Airport Juanda, terpaksalah gue harus ngojek dulu ke Gubeng, karena Gumarang berhenti di Pasar Turi. Dengan masih cengo turun dari kereta, gue cuma butuh sandaran, tapi karena kamu gak ada, maka lantailah yang menjadi tempatku...berbaring. Blah! :p

Mencari waktu luang, di pasarturi gue sebenernya mau cari kamar mandi, sayangnya, di sana nggak boleh mandi. Jadilah gue jalan kaki ke Indomart stasiun untuk cari sarapan. Karena tau semalaman perut gue kaga diisi, malah adanya angin AC, bakal tau kan kalau efeknya apa?

Hampir pukul 5.30, gue cabut cari ojek menuju stasiun Gubeng. Sialnya, entah kenapa gue selalu "ada apa-apa" dengan kota berjulukan Pahlawan ini. Sesaat gue ditawari ojek oleh bapak ojek dan deal dengan harga 20.000 menuju Gubeng, langsung naik ke jok boncengan, lalu "brmm..shooookkk gubraaak" kita berdua jatoh dan menabrak palang pintu parkir motor. Lucunya, jatohnya gue itu sampe menindih kepala bapak ojek itu. Kalau kata petuah, sih, "jatuh di depan umum, 1% sakit, 99% malu" emang gue malu! Beberapa menit, gue berlanjut dengan ojek yang sama menuju Gubeng.

Kalau kalian mau tau, kesialan apa saja yang pernah gue alami di Surabaya, bisa kok mampir di sini (http://wsncyd.blogspot.com/2013/12/surabaya-oh-surabaya.html?m=1)

Tepat pukul 06.00 gue sampai di Gubeng, bertemu depan Alfamart, selepas membalas sms dari Fafa, gue langsung ditemui olehnya. Di sana, sudah ada 4 orang. 3 orang cewek dan 1 cowok. Gue kenalan sekilas, yang beberapa menit kemudian gue lupa namanya. Hehe... Senjatanya biar tetep soan, gue panggil mbak atau mas aja. Kemudian setelah gue masukin daypack gue ke mobil elf pariwisata, ada beberapa orang lainnya muncul juga, dua orang cewek asal Bandung, 2 cowok dan 1 cewek dari Surabaya. Ternyata, belum lengkap 10 orang ini. Kami harua menuju Bandara Juanda untuk menjemput empat orang dari Jakarta. 

Dan ceritapun dimulai...

Kamis, 01 Januari 2015

Kilas Balik 2014 and Good to See You, 2015!

A Good to see you in New Year.

Been busy for couple days and months, so we meet in 2015!

Sedikit sharing, tentang mimpi yang menggantung dan sempat gue posting di sini Saat Mimpi Masih Menggantung: Grateful to The Fullest. Yap, gue gak meragu buat bercerita di sini.

Sedikit Kilas balik yang gue peroleh di tahun lalu.

1. Tahun 2014, at the beginning. Many wish to conquer, I need job badly and went to be stressed. Mimpi? Boro-boro. Gue sedih saat itu, gimana lagi? Hidup datar-datar aja, gak ada kerjaan, gue ngerasa mulai memasuki krisis. Entah apa namanya? 

2. Mimpi gue, mimpi gue kenyataan. Gue ketrima di salah satu perusahaan. Perusahaan rokok, sih. Oh, bentar. Itu juga di akhir bulan Februari. Posisinya, OMT (Operation Management Talent), level awalnya, sales. Blah! Oke gue ambil, karena sebelumnya gue pernah kerja di perusahaan rokok kompetitor. Dari pengalaman jadi sales rokok, gue tadinya mau curhat tentang sales ngenes. Belum terwujud sampai sekarang, deh. belum tiga bulan, gue cabut dari perusahaan itu. Alasannya, nggak digaji. Protes? Percuma! Ya udahlah, ya....

3. Cukup lama dong gue habis cabut dari perusahaan lama, status gue pengangguran lagi. kira-kira hampir di tahun 2014 kemarin, gue sibuk wara-wiri cari kerjaan, dapet panggilan, gagal dapet kerjaan. Siklusnya terus-terusan begitu. Gue kudu kuat!
Tapi, sebagai anak netizen, halah... di bulan Juni, gue bikin deh tuh komunitas nontonCRB, agak ragu sih awalnya. 'berarti gue harus aktif di twitter?' 'update film?' 'gue sendiri dong?' tapi, negative mind it didnt come true, awalnya bertiga, lama-lama, nambah deh tuh. Seneng gue, berasa punya temen 'seiman' rasanya. hehe.... sampai sekarang alhamdulillah masih lancar. Tinggal minta kerjasamanya aja dengan pihak cinema21 atau gak yang bentar lagi buka di cirebon, blitzmegaplex. Biar tambah keren anak nontonnya. Oh iya, gue juga ikut gabung dengan komunitas CirebonBerkebun, sayangnya komunitas ini sudah jarang aktif. Entah kenapa? 

4. September 2014, gue kaget kalau ternyata bokap gue udah pensiun. Tepatnya pensiun dini dan gue belum dapet gawe?! Ketar-ketir gue gimana caranya harus cepat-cepat mewujudkan mimpi, baca motivasi ini-itu, biar gak cedih. blah! Eh, serius. Gimana gak bikin mewek? Kalau posisi gue adalah anak tunggal dan menjadi satu-satunya tumpuan harapan orang tua? Makanya, kalau punya temen anak tunggal jangan suka bilang "enak dong anak semata wayang, bisa beli ini itu dituruti?" Jawab aja "PALA LO KAYAK MANISAN PALA!" Bikin orang tua bangga itu emang gak gampang, dulu waktu kecil kita emang pernah nuntut orang tua buat beli apa aja harus dipenuhi, minimal nangis baru dikasih lah...Nasib anak tunggal? Nggak anak tunggal aja sih, kalau udah besar, seharusnya bisa sadar sesuai dengan tuntutan orang tua yang pingin liat anaknya minimal bahagia maksimal sukses, lah! 


5. November 2014, lumayan lama penantian proses dari tes awal hingga akhir. Gue bisa gawe di suatu perusahaan, memang nggak sesuai dengan catatan kecil mimpi gue dan dengan umur lewat 25 tahun lebih. Gue syukuri, toh kalau kita bersyukur, kita bakal bahagia, kan? Mimpi: Bekerja di perusahaan asing sebelum umur menginjak di 25 tahun. Kenyataan: Bekerja di Bank Syariah Mandiri dengan umur 25 tahun 5 bulan. Ucapkan, Alhamdulillah...
Dulu Ceritanya, gue paling menghindari namanya Bank, entah karena agama atau karena gue minder berwarna kulit gelap, dan agak sedikit gemuk. Mudah-mudahan gue bisa istiqomah dengan pilihan kerja di sana, sembari mengejar mimpi-mimpi yang masih menggantung.


Those were me. How your story in 2014?
And in 2015 what are we going to be?

Happy great year and many wish that should come true!

God bless you and bismillah!

Minggu, 16 November 2014

A Message: Tintin's

Since you are college and confuse what will you do after graduation. A message from The Adventure of Tintin's movie could growing up your passion, perhaps.

This convo between Captain Haddock and Tintin.

Captain Haddock : I thought you were an optimist.
Tintin : You were wrong, weren't you? I'm a realist
Capt. Haddock : Ah, it's just another name for a quitter.
Tintin : You can call me what you like. Don't you get it? We failed.
Capt. Haddock : Failed. There are plenty of others willing to call you failure. A fool. A loser. A hopeless souse. Don't you ever say it of yourself. You send out the wrong signal, that is what people pick up. Don't you understand? You care about something, you fight for it. You hit a wall, you push through it. There's something you need to know about failure, Tintin. You can never let it defeat you

So, what do you think of  it? 

Don't you ever anything/anyone defeat your dream, go through it and breakaway!


Sabtu, 25 Oktober 2014

FURY Movie: Dari Seorang Gagap Genre Film

Pertama denger kata Fury, gue langsung membayangkan animasi fantasy dari rumah produksi film Disney atau Pixar. Ternyata salah. Maklum, kadang analogi gue aneh, semacam fury-tale. :D

Gue cari tau film ini dari google, ketemu di web imdb dan rottentomatoes, padahal ya dari sebelum film ini tayang, posternya udah ada di XXI Cirebon. Parah banget, ya, gue?!

Jadi, begini...

Poster Fury (diambil dari google)

Ternyata film ini ber-genre action, drama, and war. Dengan rating yang cukup besar dari user di imdb sekitar 8.2/10. Cast-nya juga gak kalah beken, ada Brad Pitt, Shia LaBeouf, Logan Lerman, Michael Pena, John Bernthal, dan Jason Isaacs. Itu nama gue nyomot dari imdb, karena cuma 3 orang aktor yg gue hapal dari deretan yang gue sebut diawal. Disutradarai David Ayer, ini juga sutradara pernah megang proyek The Fast & The Furious pertama. 

Gue kali ini pertama nonton film dengan genre yang-katanya-war, sebelum nonton, sih. Kenapa? Lah, wong posternya aja ada gambar tank baja, bukan tanki tinja, lain lagi itu mah nanti. Ceritanya berlatar sejarah atau kisah nyata dari tank yang bernama Fury, nah, ternyata Fury itu nama tank-nya. Pas nonton, gue baru tau juga kalau artinya adalah amarah, iya. Itu diambil dari bahasa Jerman. Pada April 1945, 4 bulan sebelum kemerdekaan Indonesia. Inget, kan, tuh? Jamannya Jepang menyerah sama sekutu, dulu gue nggak ngerti sekutu itu siapa? kumpulan kutu atau kesatuan kutu (?) Ternyata adalah US alias Amriki. 

Lanjut!

Di sana sebenarnya Jerman itu menyerah, cuma jantung pertahanan Jerman yang konon Nazi itu, harus dibombardir. Nah, dari gambaran cerita yang gue tangkep pas gue nonton, ternyata masih ada aja sisa-sisa kekuatan Nazi-nya di sana, sampai harus mengirimkan pasukan tank. Karena tank yang bernama Fury ini dipimpin oleh Sersan Wardaddy (Brad Pitt) bersama anak buahnya, termasuk seorang typist bernama Norman (Logan Lerman). Jadi gue bayangin, 'gini, toh? kalau wajib militer? eh, bener gak, sih?'. Terus, gabung dengan timnya. 

Ini kan film action dan drama, katanya. Tapi, katanya itu kata imdb, kok. Film itu apakah harus juga berdiri dengan lintas genre? Biar menghibur. Terus, gue malah seru di bagian dramanya, ya? Bukan karena di adegan itu si sersan dan Norman bertemu dengan dua orang perempuan Jerman, bukan. Dari pas si Norman masuk tim si sersan Wardaddy, malah. Bagaimana si Norman diajarin jadi 'pembunuh' tapi dihormati karena menjadi pahlawan di negeranya. Sampai puncak adegan dramatisnya itu Norman dan perempuan Jerman yang jatuh cinta, tapi cintanya tidak abadi seperti Romi dan Yuli. Halah. Eh, serius gue, itu Norman jadi dendam ke tentara Nazi, karena cewek yang dia cinta meninggal gara-gara rumahnya dibumi hanguskan oleh serangan ledakan dari Nazi. Setelah itu, karakter si Logan Lerman berubah, kamu gak seperti yang dulu. 
Ini ada temen yang ngasih tau nama tank-nya

Eh, itu bener, kan, sisi dramanya? 

Lagi nih, visual effect yang gak kalah apik dari lesatan senjata yang kalau pas nonton di bioskop bikin kaget. Apalagi kalau lesatan di eranya itu kayak senjata semacam laser, teknologinya udah keren di film itu. Iya, di tahun 1945. Tapi, gue suka scene di mana tank dengan anti-tank milik Jerman one-on-one. Sungguh terlalu, anti-tank Jerman kalah, bro. Ceritanya emang di sana teknologi tank milik Jerman lebih canggih dari buatan US. Lagi, lagi, berkat taktik sang sersan, sih.

Akhir!

Gue suka, bagi awam seperti gue. Ini film yang harus ditonton sebenarnya bagus, kok. Dengan catetan, elo belum nonton film dengan berlatar belakang sama di mana War World II terjadi dan nggak paham sejarah WWII. Diakhir cerita, menyisakan ketegangan dan penasaran. Tank satu-satunya dari yang menuju jantung Nazi, akhirnya harus berakhir dengan dramatis, kok bisa? Karena yang selamat cuma Norman, dan entah kenapa gue sebel sama akhirnya, yang nampaknya begitu 'main-main' kayak anak kecil, kalau main petak umpet nggak pernah jaga, sekalinya jaga, minta udahan. Bubar! Gitu gue menganalogikannya. 

Tetep elo harus nonton! 

Rating dari gue: 7.9/10

Sabtu, 18 Oktober 2014

Bagi Pengalaman: Gue Bisa Karena Biasa

Pernah nggak lo pas tes psikotest di sana ada pertanyaan:
a. Saya adalah sosok pekerja keras
b. Saya ingin memiliki pengaruh bagi kelompok saya.

Emang pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang tidak bisa diukur dengan benar atau salah, namun menggambarkan kepribadian seseorang dari jawaban yang mereka pilih. Pertanyaannya pun tidak hanya satu saja, tetapi pertanyaannya diulang dengan opsi dari salah satu pilihannya berbeda.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah:

"Bagaimana kita bisa mengetahui kepribadian diri kita sendiri?" 

Ada yang bilang, sifat diri kita sendiri terkadang susah dikenali, emang sekarang jamannya zodiak, tapi itu bukan parameter yang permanen, menurut gue. Sifat yang selalu terlihat ini pula 'dikenali' oleh teman main/diskusi/belajar/tidur #eh. Tapi, bener loh. Coba deh, kalau dalam pergaulan pernah dapat kritikan dari teman lo sendiri, kan? 

"Bon, gila lo, kita hampir telat masuk bioskop gara-gara nungguin lo. Kapan lo bisa on time?!"

"Sorry, Ton. Tadi ban motor gue pecah terus kena tilang di lampu merah"

"Basi!"

"lah, ngape lo pada nungguin gue? bisa masuk duluan kan seharusnya, tiket lo bisa titipin ke mbak penjaga bioskop, simpel?!"

"bentar...dulu gue pernah titipin gitu, trus lo inget gak jadinya kenapa? ungkit-ungkit 'gak asik, masuknya gak barenagan'" 

#kemudianributdibioskop

Nah, bisa keliatan gimana sifatnya, kan? Si Bono anaknya terlalu santai jadinya suka gak tepat waktu, banyak alasan, gak konsisten sama omongan terus apalagi ya? Udah, sik. Kalau Tononya di sini gue gak ungkapin dengan jelas bagaimana dia. 

Itu dari lingkungan pergaulan, beda lagi dengan lingkungan organisasi atau tempat kerja untuk tahu sifat orang. Semakin elo berdiskusi dan brainstorming dengan beberapa teman 'kerja' semakin terlihat sifat diri bahkan karakter elo. Gak percaya? Iya-in aja dulu.

*****

Dari kegiatan yang gue lakuin, bukan gue sombong atau apa, tapi gue bisa berfikir dan menemukan solusi. Baru kemarin gue bertemu dan berdiskusi masalah konsep perkembangan @CirebonBerkebun dengan salah satu tokoh atau bisa juga artis, H. Qomar. Cara menemukan solusi, solusi, dan mengemukakan pendapat di depan umum di antara jajaran petinggi harian Rakyat Cirebon.

Gue bersyukur sekali bisa membantu dengan mengemukakan solusi yang sedang dibahas kemarin. Gue bangga sebenarnya bisa menjadi keluarga tersebut. Ada baiknya gue juga tetap belajar, gak melulu meninggikan ego. Masih banyak kekurangan malah.


P.S
iseng aja sebenernya menulis ini, karena pingin rajin mengisi tulisan di blog. Teori ini berdasarkan pengalaman aja.