Kamis, 07 Maret 2013

Dari Sejarah Majapahit Hingga Bertemu Buddha tidur di Trowulan

Jika memaknai Pancasila sila pertama yang berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa" mungkin banyak sekali penafsirannya. Bisa saja, bahwa Tuhan adalah sebagai simbol bahwa masyarakat Indonesia memiliki dan berdasarkan hidup menurut kepercayaan yang dianutnya sesuai yang sudah diakui oleh pemerintah, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Konfusius. 

Kita juga bisa menjumpai berbagai macam rumah-rumah ibadah yang ada di Indonesia. Bahkan, peninggalan bangunan bersejarah seperti candi yang notabene merupakan tempat ibadah atau simbol dari suatu agama tertentu yaitu Buddha dan Hindu, tersebar luas di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. 

saya (tengah) beserta kawan menuju situs candi
Di Bali misalanya, dengan mayoritas masyarakat beragama Hindu, banyak sekali pura atau tempat ibadah, tidak sulit untuk menemuinya. Namun, sulit untuk kita temui di Pulau Jawa karena sebagian besar tempat ibadah dari masyarakatnya adalah muslim.

Memang ada tempat ibadahnya di Pulau Jawa, tapi bisa dikatakan hanya beberapa dan tidak banyak. Namun, bisa dijadikan tempat tujuan wisata dan itupun yang berupa candi yang merupakan bangunan dari jaman dahulu.

Tidak lepas dari bangunan ibadah, kemarin sempat menjelajah Trowulan yang tepat berada di Mojokerto, Jawa Timur. Trowulan sejatinya merupakan kota Kecamatan, bukan wilayah yang luas, namun di sini, sejarah telah berlangsung cukup lama. Peradaban Majapahit.

candi Bajangratu
Situs-situs Majapahit yang tersisa sekarang merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi, sayangnya, saya bukan orang yang ahli sejarah, bukan pula orang yang terlalu menyukainya. Ada dampaknya, sik, setelah mengunjungi tempat ini yaitu laiknya anak sekolah yang sedang belajar studi, meskipun sedikit info yang saya dapat, itupun dari teman saya yang paham dengan seluk beluk penyebaran agama hindu-buddha, ya karena teman saya orang Bali yang cukup mengenal sejarahnya.

Dari bahasa sanskrit itu sendiri, katanya Majapahit berdiri pada tahun 1400 menurut penanggalan Jawa yang diartikan bahwa Sirna Ilang Kersaning Bhumi. Entah kenapa orang jawa kuno dulu menamai dengan kata-kata yang sedikit belibet. Namun, itu merupakan sengkalan yang sudah menjadi pakem dari jaman dahulu.

Saat kita berjalan menuju beberapa candi di sana, ada yang berbeda dari candi-candi yang ada di Jawa Tengah. Terlihat dari bangunannya yang sudah modern ditandai dengan bangunan yang dari bata merah. Tidak seperti kebanyakan candi di Jawa Tengah, yaitu dibangun dengan batu granit. Dapat disimpulkan pula bahwa kerajaan Majapahit memiliki peradaban yang sudah maju. Selain itu, ditemui pula di Museum Majapahit, ada beberapa benda peninggalan sejarah, dari patung Buddha, simbol kerajaan Majapahit yang mirip dengan logo dari Universitas Gadjah Mada, periuk dan perkakas, uang jaman dahulu, dan celengan berbentuk kepala orang dan hewan.

Ada suatu hal yang bisa jadi kita terkejut, kenapa? Karena ternyata muka dari patih yang bernama Gadjah Mada pada saat Raja Hayam Wuruk bertahta yang sudah kita kenal dengan wajah yang bulat dan berpipi gemuk adalah suatu bentuk muka celengan yang ditemukan di situs Majapahit dan merupakan tafsiran menurut Moh. Yamin. Saya juga baru mengetahui bahwa setiap melakukan misinya, sang patih selalu mengenakan topeng dan sampai saat ini, belum ada yang mengetahui dengan jelas, bagaimana sosok dari sang patih hingga dia pergi mengasingkan diri ke suatu tempat.

reclining Buddha
Tidak hanya bangunan peninggalan Majapahit saja yang unik. Masih satu kawasan di Trowulan, saya juga menemui sebuah patung yang bukan lain adalah sosok Buddha tidur. Kita bisa melihatnya di suatu tempat ibadah bernama Maha Vihara Majapahit. Meskipun bangunan ini adalah bangunan baru, tapi tidak kalah loh dengan yang ada di Thailand. Berbentuk kuning emas dan di bawahnya terdapat ukiran relief bagaimana Sidharta Gautama menolong hingga dia wafat menjadi Buddha. Meskipun letaknya berada di luar ruangan dan dikelilingi oleh kolam ikan dan cukup indah.

Saya berfikir, jika kita memang mayoritas beragama muslim, mengapa masjid-masjid tidak dijadikan tempat wisata, apa karena masjid yang benar-benar 'sakral' dan istimewa hanya di Saudi Arabia? Memang, ada juga masjid-masjid peninggalan sejarah saat penyebaran agama islam datang ke Indonesia, tapi...ya begitulah kondisinya. 

Meskipun saya pernah melihat reclining Buddha di Thailand dengan bentuk yang lebih panjang, Indonesia juga ternyata memilikinya. Mungkin, tempat itu hanya satu yang dimiliki oleh bangsa kita, jadi, kita harus hargai dan hormati antar umat beragama, bukankah kita dididik untuk saling mencintai juga, kan? Bangga bukan yang dimiliki bangsa ini? Maka dari itu, junjunglah tinggi pancasila, tidak hanya sila pertama, tapi semua atau bahkan kita harus lebih memahami dari kalimat "Bhineka Tunggal Ika" yang merupakan diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Prapanca. I love Indonesia!   

Senin, 04 Maret 2013

The Story Behind of Majapahit Civilization

"Have you traveled just for spiritual journey?" I think rarely people do that. But, this my experienced recently where I was going to Mojokerto, East Java. Some story to make me feel like "I am nothing" and "I don't have any further to explain what my religion is".

What do you know about Mojokerto Residence? Some of you thought, there is nothing to explore more than just people who live there, but few people know this place had have historical story. It's all about history. The story behind Javanese apocalypse was stand and its huge impact to others. It was named Majapahit.

Majapahit was built when it called "Sirna Ilang Kertaning Bhumi" and I have no any idea to explain it, but friend of mine told the meaning that was 1400 Masehi ( Sirna = 0, Ilang = 0, Kertaning = 4, Bhumi = 1; reverse). The big kingdom was we had at the time. 

What will you get?

1. The history journey
candi Brahu (Brahu temple)
Go back from ancient story, when I was in elementary school, my teacher taught we had two kingdoms which colonized another country and had big power. They were Srivijaya (Buddha) well-known in Sumatra island and Majapahit (Hindu)  in Java island. Each kingdom was greatness in difference age.

Honestly, I am not good at history lesson unless I am looking by myself to visit history places. This is it, Majapahit told me anything. I was envy when arrived at candi Brahu which is one of the Majapahit building was steady and there was students of elementary school visited and learnt the history. I never know what candi Brahu is, and evidently it was cremation place. There is some temples around and such brought us in century ago. 

candi Bajangratu
Later, we came in to museum Majapahit and showed of historical object which is like stupa, ancient money, Buddha statue, the God of Shiva and many things. The interesting thing symbol was Shiva. My friend told me that Indonesian was Shiva-ism at the time and Balinese, too. He brings that look-a-like 'pengusir' flies at left hand and another characteristic is his neck coloring with blue which mean he 'eat' the sins all the evil.

2. Story 
Everybody does have story wherever they go. Even though your story is not mine. We went to Mojokerto with 3 others. My friends was worshiping when I took some photo of his. I respected what they did. We live in diversity. Actually, I was minority among my travel buddy, they are Hindu and I am Muslim. 

A questioned to me from my friend about aqiqah and that was awkward moment because I couldn't answer. Oh, shame on me. But I learn from this situation and respectful journey, I must learn how to be a good Muslim properly. 

3. Friends
Point no 2 and 3 are my own thought. It simply to find but difficult to appropriate a friendship. We just friend in common, tho.

I am impressing to Indonesia, its culture, its respect, its different and its power. Even if the history tell us we had super power at the time, but we can conquer toward Indonesia nowadays. I love my country.

p.s
English version, sorry for all grammar mistakes because it's first time. Another story I would to tell in Bahasa. 

Kamis, 28 Februari 2013

Jangan Takut Masuk Pertanian [Antara Realita dan Idealisme]

Beberapa minggu yang lalu di acara job fair UGM, saya yang kini seorang jobseeker mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan panggilan hati. Meski tidak semua perusahaan bonafit yang ada di acara tersebut. Jika, dilihat-lihat pun yang sesuai dengan bidangku, tidak banyak di sana, karena latar belakang pendidikan S1 saya adalah pertanian dan di sana didominasi oleh perusahaan yang meminta banyak lulusan teknik ataupun ekonomi.

Saya akan bercerita sedikit, sekilas tentang pertanian. Latar belakang pendidikan yang mungkin tidak terlalu bonafit untuk dibanding-bandingkan dengan fakultas kedokteran dan teknik. Mereka hanya fikir, pertanian adalah lingkupnya sawah dan kerja di sawah. Terlebih lagi, pada saat awal saya dinyatakan diterima di pertanian dengan mayor ilmu tanah, sikap offensive yang dikeluarkan oleh beberapa teman adalah "Mau jadi tukang gali kubur?". 
Adik angkatan prodi Ilmu Tanah 2012

Sempat gundah pada awal-awal menjadi mahasiswa fakultas pertanian. Apa hebatnya menjadi mahasiswa pertanian? Peluang kerja setelah lulus menjadi apa? Mungkin paling banyak kesempatannya adalah di sektor perkebunan atau perbankan. Benar. Mereka dan saya pada saat itu berfikir demikian. Karena pada dasarnya mereka yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi adalah untuk mencari pekerjaan.

Pada tahun 2009 penerimaan mahasiswa untuk fakultas pertanian menurun, sehingga pemerintah terpaksa menggabungkan beberapa jurusan yang ada menjadi dua, yaitu Agroteknologi (gabungan Ilmu Tanah, Agronomi, Ilmu Hama dan Penyakit Tanamah) dan Agribisnis untuk beberapa Universitas di Indonenesia, terkecuali almamater saya (UGM) dan IPB. Ironis bukan? Negara Indonesia yang konon adalah negara agraris namun peminat untuk bidang pertanian sedikit. Memang tidak semua lulusan pertanian juga bisa menekuni bidang pertanian, sih.

Saya mencari informasi ke beberapa media, kenapa peminatnya sedikit dan menemuka artikel yang menarik yang disampaikan oleh rektor ITB (?). Beliau mengatakan bahwa "Prodi sepi peminat buah dari  tidak seimbangnya antara minat calon mahasiswa dan kebutuhan di lapangan".

Dikatakan kembali "Prodi pertanian misalnya, karena pertanian di Indonesia tidak menjadi primadona. Meski hidup di negara agraris, nasib sebagian orang yang berkecimpung di dunia pertanian bisa dibilang 'gitu-gitu' saja". Di bidang ketenagakerjaan, sedikit lulusan prodi pertanian yang dibutuhkan. Bahkan pemerintah sendiri tidak membuka banyak lowongan kerja bagi sarjana pertanian".

Sudah dapat disimpulkan, kah? Belum tentu. Namun, sedikit ada benarnya. Beberapa mahasiswa pertanian terkadang masih membanding-bandingkan dengan temannya dari fakultas x atau y yang peminatnya lebih banyak atau mencoba kesempatan kedua untuk mengikuti ujian masuk SNMPTN dengan pilihan lain. 

Mengapa demikian? Berikut penjelasan kembali dari Prof. Akhmaloka rektor ITB "Sikap masyarakat yang cepat ingin kembali 'modal' juga menguatkan prodi sepi peminat. Biaya pendidikan dan waktu yang dikeluarkan selama lima tahun kuliah harus segera 'dikembalikan'. selain itu, masyarakat juga ingin pekerjaan yang mentereng seperti di bank daripada di tengah sawah, apalagi di hutan. Meskipun demikian Akhmaloka menyarankan agar tidak menutup diri pada prodi sepi peminat. Tetap ada peluang untuk maju. Lulusan prodi geofisika dan meteorolgi misalnya, selalu dibutuhkan pemerintah untuk mitigasi bencana."

Satu pernyataan yang saya sukai dari beliau juga adalah "Bangsa ini tidak bisa dibangun hanya dengan satu atau dua bidang keahlian saja".

Para adek-adek mahasiswa yang sudah duduk di bangku kuliah dan disorientasi untuk masa depan, manfaatkanlah waktu selama kuliah. Masa depanmu masih panjang, perbanyaklah berorganisasi di luar kampus, isi waktu luangmu. Meskipun di bidang pertanian labelnya, kita tidak akan mengetahui potensi yang ada dalam diri kita untuk menggeluti passion yang kalian mau. Seniman, photografer, pengusaha, atau peneliti bisa saja menjadi bagian dari dalam diri kita.

"Sarjana pertanian telah dibekali dengan praktikum sebanyak 40% selama di bangku perkuliahan akan mencetak calon-calon peneliti muda dibandingkan jenjang diploma dengan praktikum 60% yang artinya telah banyak menguasi teori lebih dalam" Papar dekan Fakultas Pertanian UGM pada saat saya wisuda. Pernyataan demikian pula, membuat para sarjana pertanian siap bersaing di luar sana beserta sarjana dari lulusan fakultas lain.

Jangan takut bersaing dan terus berkarya demi kemajuan baik di bidang pertanian maupun bidang yang lain. Saya meyakini, beberapa orang yang memiliki mimpi namun berada dalam posisi yang 'dihujat' atau 'dicemooh' akan lebih cepat berdiri dan berlari. 

Meski kedelai dan gandum masih impor. Suatu saat salah satu dari beberapa teman-teman fakultas pertanian memiliki perubahan untuk kemajuan di negera ini. Untuk saya sendiri yang hanya lulusan pertanian dengan predikat abal-abal hanya bisa berfikir optimis dan positif, karena untuk pertanian ini memang perlu dibutuhkan orang yang benar-benar hebat. Tidak mudah untuk menciptakan varietas baru dan inovasi yang menggebrak dunia pertanian. Namun, saya katakan PASTI!!

viva soil
soil solid ^^



Selasa, 26 Februari 2013

Gunung atau Pantai

Coba sebutkan, berapa banyak pantai yang kamu sudah kunjungi? hmmm...di Pulau Jawa saja. Tidak usah jauh-jauh. Apa? Anyer, Paragtritis, Pangandaran, apa? Pantai di bagian selatan Gunung Kidul? Oke. Sudah dikunjungi semua? Coba, kalau gunung bagaimana? Gunung yang sudah dikunjungi di Pulau Jawa? Apa? Tangkuban Perahu? Bromo? Baiklah. Merapi, Semeru dan yang lainnya? Sudah atau belum?Oh, Belum.

Sebenarnya saya bukan untuk menjudge di sini. Saya hanya bertanya. Tidak salah, kan? Memang tujuan wisata orang berbeda-beda. Tidak hanya pantai nan elok dengan warna lautnya, namun gunung yang maha daya agungnya tidak kalah indah, kok. Bangga bukan menjadi orang Indonesia yang banyak tujuan wisatanya?

wsncyd lagi di Lawu (pos 4)
Di Jawa saja. Tidak usah menyeberang ke pulau tetangga, deh. Kita dapat paket komplit, bukan? Pergilah ke Ciamis atau Jogjakarta, kita bisa disuguhkan dengan pantai-pantai dengan panorama yang sangat indah. Tidak hanya pantai saja, di Jogjakarta juga terdapat wisata petualangan yang berupa gunung. Benar. Gunung Merapi. Bahkan disekitarnya ada gunung-gunung lain, seperti Merbabu dan Lawu. 

wsncyd dan kawannya lagi aksi di Pantai :)
Sedikit bercerita pengalaman dari teman-teman. Banyak sekali yang ingin mendaki (istilah naik gunung) karena melihat foto-foto pendakian, cerita dari teman, atau bahkan dari nonton film (?). Apapun itu, tidak masalah jika minat melakukan pendakian, meskipun dikatakan pemula. Saya juga, kok. Sekian banyak dari teman-teman, ada yang menyerah saat pendakian atau ada yang 'ketagihan' mendaki. Well, itu hanya kalian yang bisa menentukan. Menyerah kenapa? Pertama, karena gunung merupakan tujuan wisata petualangan yang memakan banyak stamina dan kedua adalah mendoktrin dirinya sendiri menjadi anak pantai. 

Saya juga cinta pantai, kok. Pantai memiliki kesan sendiri untuk 'ritme' hidup yang santai. Ingatkah dengan pernyataan yang entah dari mana sumbernya yaitu "nyantai kayak di pantai". Ya, demikianlah pantai. Biru langit dan laut memiliki energi positif bagi penikmatnya. Untuk persiapannya pun tidak ribet seperti melakukan pendakian.

Nah, maka dari itu. Saya memberi gambaran bagi siapa saja yang ingin merencanakan kegiatan liburannya untuk memilih pantai atau gunung.
Bagi anak gunung biasanya:
- Ada persiapapan fisik dan mental baik pemula ataupun yang sudah pengalaman.
- Peralatan pribadi dan supply makanan harus dapat diperkirakan hingga akhir pendakian.
- Membentuk tim dan berkelompok.
- Mematuhi aturan atau prinsip pecinta alam.
- Sopan dalam pendakian

Bagi anak pantai
- Tidak ada persiapan fisik atau mental kecuali yang fobia
- Makanan? Banyak warung
- Sendiri, berdua, atau berkelompok ke pantai tidak masalah.
- Prinsip pecinta alam tetap dong dijaga.
- Pantai semua santai, pakailah pakaian yang tepat, masa iya ke pantai pake jaket tebal dan mengenakan menutup badan.

Jadi, tergantung pula  seorang itu menggeluti hobby-nya. Biasanya paling dominan ya memang pantai. Tetapi, sayang dong kalau di Indonesia belum pernah naik gunung? Masa cuma Bromo dan T. Perahu, doang? Mungkin, ada satu hal lagi yang membuat kagum naik gunung, betapa kecilnya kita dan Maha Besarnya ciptaanNya. Oia, adalagi! Kalau Cewek-cewek pasti akan terkagum-kagum dengan para cowok-cowok yang membuatkan makanan, karena biasanya naluri cowok di gunung terlihat seperti pria. Meski makanannya aslinya tidak enak. Ya bagaimana lagi, namanya juga laper. Ingat juga, sampahnya juga diberesin lagi ya?

Pastinya, akan ada cerita yang dapat disampaikan ke manapun kita pergi, baik gunung ataupun pantai. Place to go before you die is mountain, I notice you who haven't to go there. Percuma, dong? Masa gunungnya dianggurin. Oke, tadi ambigu. Mari menjelajah dan berwisata ke manapun dan di manapun! Intinya begitu. 

Salam Lesatari :)

Sabtu, 16 Februari 2013

Status Anonim Dalam Jurnalisme by fgaban


Pernahkah dalam suatu karangan ilmiah kita mencantumkan saduran atau referensi dari buku atau web tanpa pengarang alias Anonymous (Ind. Anonim). Saya yakin pernah. Bagaimana jika karangan Anonim itu sarat tidak dapat dipertanggungjawabkan? Masih valid kah data atau tulisan ilmiahnya?

Demikian juga para pencari berita yang meliput atau mewawancarai narasumber. Dapatkah memakai sumber Anonim atau tidak? Ini penjelasannya dari seorang jurnalis.

Beberapa waktu lalu, saya memantau dari lini masa twitter, seorang jurnalis yang bisa dikatakan senior, sedang memberikan hestek dengan judul #anonim. Sebagai seorang pemula, saya mencoba memahami dan menyimpan twit beliau di tab Favorite. Siapakah beliau? Dia adalah Farid Gaban (@fgaban). Berikut hasil print screen-nya.



Dari hasil kultwit, dapat disimpulkan bahwa harus ada transparasi antara sumber anonim dan jurnalis, dengan kata lain, sumber berita dapat dipertanggungjawabkan secara benar dan fakta atau data yang nyata. Namun, sumber anonim ini diperlakukan secara ketat dan media yang menggunakannya akan bertanggung jawab atas hasil dari sumbernya.

Selasa, 29 Januari 2013

It is the beginning!

Sampai juga di mana saya mengakhiri masa-masa yang cukup melelahkan dan hampir meninggalkan dunia penulisan di sini (baca. blog). Setelah satu tahun lebih perjuangan mengerjakan tugas akhir demi status menyandang Sarjana Pertanian akhirnya bisa menyambangi lagi kreasi tampa batas dunia per-blog-an, meski blog hanya tulisan remeh.
Ternyata untuk menyandang gelar di suatu perguruan tinggi negeri tidak mudah, penuh perjuangan keras dan fokus yang ekstra, ini bisa disebut juga pembelajaran di kemudian hari. Saya akan memaparkan pengalaman diri bagaimana perjuangannya ini. Hanya catatan yang mungkin dapat dikenang kelak.

APRIL 2011
Akhirnya, di tahun tersebut saya bisa mencantumkan kata "skripsi" pada KRS (Kartu Rancangan Studi) yang pertama dan akan menjadi laporan akhir selama mahasiswa. Hal pertama yang membuat saya bingung adalah "apa penelitiannya?", "penelitian saya tentang apa?", "siapa dosennya nanti?". Dasar pertanyaan yang harus dijawab.
Sebut saja Pandu Risyanto yang menyarankan saya untuk bertemu Prof. Dr. Ir. Bambang Hendro S, SU. karena beliau memiliki berbagai macam proyek untuk para mahasiswa yang akan menjalankan tugas akhir. Bersama teman yang bernama Fahlian Johansyah, kami menemuinya. Awalnya masih diberi pilihan untuk penelitian X, Y, atau Z. Namun, beberapa hari intensitas bertemunya meningkat, tetiba beliau menelpon ponsel saya untuk bertemu dan penawaran penelitian bersama pihak dari Perhutani, inilah penelitian yang akan membawaku sampai saat ini. Ibu Corryanti sebagai pihak Perhutani inilah yang telah memberikan saya kesempatan.

JANUARI - MARET 2012
Cukup lama bukan? cukup bersabarkan saya? rentang pengajuan proposal penelitian dan pelaksanaan penelitian yang hampir masuk satu tahun ini. Pertanyaan di kepala mungkin terlintas "Memang penelitiannya tentang apa?" Menurutku itu pertanyaan bagus. Saya mengambil penelitian yang bertema tentang erosi. Pertanyaan kedua muncul "Kenapa harus menunggu hingga Januari 2012?". Bukan salah saya pastinya yang mengira saya malas memulai penelitian ini, sebabnya adalah curah hujan. Ya, curah hujan adalah faktor yang menyebabkan erosi ini terjadi, karena penelitian ini di lapangan, sehingga, saya harus bersabar menunggu musim hujan, terlebih daerah penelitianku memiliki intensitas hujan yang rendah. Di situlah kesabaranku mulai diuji.
Bersama Fahlian Johansyah, kami sering pulang-pergi ke Blora dari Jogjakarta. Bertempat tinggal di kawasan hutan milik Perhutani. Selama penelitian ini berjalan, saya memliki dosen pembimbing yaitu Ir. Suci Handayani, MP dan Ir. Anjal Anie Asmara M.Si. Beliau-beliau tersebut yang selalu dijadikan tempat berdiskusi. Terlebih Ir. Suci Handayani MP adalah seorang yang paham di bidang ini. 

APRIL 2012
Seperti biasanya para mahasiswa di jurusan ini harus melalui tahapan ini pasca penelitiannya. Benar, analisis laboratorium. Dengan membawa sejumlah sampel dan segala reagen kimia. Cukup mengasyikan seperti sedang eksperimen ala profesor.

MEI-AGUSTUS 2012
Sebenarnya ini adalah 'badai' dalam mempengaruhi kefokusan saya menjalani penelitian, tetapi saya menyebutnya 'hadiah', ironi bukan?. Masih sempat untuk pergi berlibur dengan draft skripsi yang belum 'matang'. Bahkan, selama Mei tersebut saya pergi ke luar negeri. hehe....Juli pun saya mendaki Rinjani, hehe... 
Agustus yang pada saat itu saya dijanjikan lulus oleh dosen pembimbing saya, pada kenyataannya, tidak bisa terkejar. Namun, teman penelitian yang telah saya sebutkan di atas, lulus dan diwisuda bulan Agustus. Saya kaget dan heran. Saya hanya bisa berfikir positif saja, karena sepertnya saya masih banyak kekurangan data dan menggali informasi tentang isi penelitiannya. Dosen pembimbing dualah yang memberikan petuah dan sarannya. Saya bahkan tak terlintas ternyata sifat dan karakteristik tanah penelitian begitu 'istimewa'.

SEPTEMBER-DESEMBER 2012
Sambil menyelam minum air, meski terus berjuang demi menyandang gelar, saya tetap bisa menyalurkan hobi untuk travelling atau tepatnya hiking ke Gunung Lawu. Saya tidak ingin mengambil resiko berpergian yang terlau jauh. Skripsi saya pun masih bisa terpantau. 
Di akhir-akhir tahun meski godaan muncul, namun ilmu fokuslah yang membuatku dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Desember, bulan tersebut yang memberikan hari-hari tampak cepat berlalu. Desember jugalah yang  membuat saya memberanikan diri berkomunikasi yang baik dengan dosen pembimbing, "sudah siapkah tugas akhir saya diujikan?". Akhirnya dosen berkata YA!

JANUARI 2013
Tahun yang baik untuk memulai hari yang baik pula. Di tanggal 4 Januari, saya diberi kesempatan untuk mengadakan seminar hasil penelitian. Di seminar hasilku pun, syukur aku ucapkan berjalan lancar, tidak ada sama sekali dosen pembimbingku yang 'membantai'. Seusai semhas, demikian saya menyebutnya, saya ditawari tanggal untuk sidang, pada saat itu tanggalnya adalah 10 Januari 2013 atau 6 hari setelah semhas. 
seminar hasil saya (hanya ada ini)
Dag-dig-dug rasanya di awal tahun, rasa senang, terharu, kesal, takut, dan bangga semua bercampur aduk. Saya sendiripun sulit untuk mengekspresikan bagaimana rasanya. Tanggal 10 Januari pun tiba, akhirnya saya mengenakan kemeja putih bercelana kain panjang hitam dan bersepatu pantofel. Layaknya seorang mahasiswa baru yang akan diospek atau seorang pekerja kantoran yang bekerja dibalik layar komputernya. Sungguh tidak cocok kostum yang saya kenakan pada saat itu. 
Dua jam di ruang sidang bersama dua dosen pembimbing dan satu dosen penguji yang bernama Prof. Dr. Ir. Soepriyanto Notohadisuwarno, M.Sc yang kebetulan juga beliau adalah dosen pembimbing akademik selama di bangku kuliah. Buyar dan carut marut adalah hal yang biasa pada saat pendadaran, begitupun saya. Namun, pada akhirnya saya bisa dinyatakan lulus dengan syarat merevisi skripsi sebelum yudisium.

Akhirnya, perjuangan yang melelahkan telah usai, rasa bahagia bercampur takut yang kini menghantui saya. Bahagia bisa diwisuda pada bulan Februari 2013 ini, takut karena ini adalah awal dari permulaan yang sesungguhnya. Saya teringat perkataan Prof. Bambang "Karena pada saat inilah saudara (peserta yudisium) akan diangkat derajadnya oleh Tuhan setelah melalui tahap ujian, namun tetaplah terus belajar di mana saudara akan berjuang" . Kalimat yang penuh makna, membuat hatiku mengharu biru. Inilah saya yang akan memulai kehidupan yang sebenarnya, inilah saya yang ingin terus belajar, inilah saya yang akan bekerja dan belajar demi Allah Aza'wajalla. 

Tulisan ini aku persembahkan sesungguhnya untuk orang tua, sahabat, teman dan para pembaca. Semoga dapat mengambil hikmahnya meski banyak kekurangan. 

Kamis, 20 Desember 2012

[REVIEW] Life Of Pi

Minggu malam senin tepatnya saya membuka twitter, di situ salah satu penulis yang saya follow sebut saja @aMrazing membahas tentang film yang telah dia tonton, bukan hanya dia saja, tetapi teman-temannya juga meributkan tentang film ini.
Saya yang merasa cupu dan gak tau apa-apa, kok tiba-tiba tertarik untuk menontonnya, TANPA tahu lihat sinopsis atau review film-nya. Maklum, saya gak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan menonton film atau pergi ke bioskop. Saya adalah hanya tau film-film yang bagus aja, ya sebut saja film superhero gitu, meski gak semua hapal  dan ditonton, sih. pfffft.
Well, balik ke review film ini (baca judul). Masih bertanya-tanya, ini tuh film apa? kok sampe happening gitu, akhirnya, saya memutuskan *bukan tali persaudaraan* untuk menonton pada hari senin pagi.
Berangkatlah ke studio XXI Empire, meski takjub ternyata diputer dalam format 3D (yah, berkurang jatah makan saya *pukpuk dompet*). Di situ saya ditonton bersama 3 orang teman. Pertanyaan yang muncul adalah, saya sendiri bingung ini film apa, eh malah ditanya sama teman, film tentang apa? saya bingung juga jawabnya.
-----------------------------------------batas basa basi busuk---------------------------------------------
Poster (credit by google picture)
Film ini denger-denger adalah diangkat dari novel yang berjudul sama Life Of Pi dengan penulis Yann Martel (setelah googling :p) dengan durasi 127 menit, diperankan oleh aktor berdarah India bernama Suraj Sarma (Pi muda) dan Irfan Khan (Pi dewasa) disutradarai oleh Ang Lee. Kalau belum tahu siapa itu Ang Lee, dia pernah menyutradarai film Brokeback Mountain (2005).
Film ini berkisah tentang kehidupan Pi yang bernama lengkap Piscine Molitor Patel yang tinggal bersama keluarganya yang memiliki kebun binatang di India yang merupakan milik dari Santosh Patel (Adill Hussain) yang bukan lain adalah ayah Pi dan Ibunya Pi merupakan seorang ahli Botani bernama Gita Patel (Tabu). Pi merupakan anak bungsu dari kakak yang bernama Ravi Patel. Di keluarganya Pi merupakan seorang penganut agama Hindu, namun ayahnya adalah seorang Atheist. 
Menurut saya ini adalah film yang benar-benar paket komplit, visualisasi, petualangan, drama, dan hakikat dari film ini sendiri bisa dinikmati. Bukan karena saya menonton karena formatnya 3D, jadi saya menilai film ini bagus, coba dan rasakan sendiri bagaimana imajinasi film ini membawa kita ke jagad raya yang penuh dengan cahaya.
Well, pada masa mudanya, Pi selalu dicemooh oleh kawan-kawannya, karena memiliki nama Piscine karena dikait-kaitkan dengan pembuangan air kencing. Namun, Pi tak tinggal diam untuk membuktikan dan menghentikan ejekan dari teman-temannya. Diambilah nama Pi dengan membuktikan dari bilangan irasional dalam matematika yang disebut "Pi" juga. Saya sempat terkejut dan wow banget, dia hapal berapa angka-angka dalam bilangannya itu.
Sebenarnya tidak hanya di sini, Pi juga memiliki hasrat dengan pencarian Tuhannya, meski Pi hidup berasal dari keluarga Hindu. Pi mencari arti Tuhan dari beberapa agama yaitu Khatolik dan Islam. Bukan, bukan untuk membanding-bandingkan, karena Pi percaya karena keberadaan Tuhan itu sendiri. Pandangan ini memunculkan pada keimanan kita.
Konflik terjadi ketika ayah Pi berencana untuk pindah ke Kanada dan menjual binatangnya. Semua keluarganya pindah dan menggunakan kapal laut dari India dan membawa binatang-binatangnya. Saat berada pada peraiaran Pasifik yang ganas, terjadilah badai, sayang sekali hanya Pi yang selamat dari amukan badai di laut di atas kapal sekoci bersama hewan-hewan yang tersisa dan di antaranya adalah Richard Parker alias Harimau Bangli. 
Dalam keadaan seperti ini keimanan Pi diuji, berada di atas kapal selama 227 hari dengan bekal makanan yang seadaanya dan seekor harimau. Saya teringat, ketika Pi harus menghadapi seekor harimau yang ganas, bahwa "harimau tidak bisa menjadi teman, namun bisa dilatih". Selain itu, petualangan terdampar di tengah laut ini membawa kesan sendiri bagi saya, visualisasi yang begitu indah, petualangan yang penuh ujian dan godaan, oia, meski Pi telah dibaptis menjadi Khatolik, namun Pi tetap vegan dan masih percaya dewa-dewa Hindu. 
Di sinilah saya belajar, seberapa tangguhkah iman seseorang apabila diuji dalam kondisi yang seperti itu, apa harus menyalahkan Tuhan atau tetap percaya akan keberadaan Tuhan untuk tetap minta pertolonganNya. Terdengar tidak masuk akal juga apabila kita benar-benar seperti itu, namun di akhir cerita film ini ada dua cerita Pi yang dijabarkan, namun dari sudut pandang saya, ini membawa pesan bahwa hidup ini terkadang tidak masuk akal dengan percaya akan adanya Tuhan namun berkesan daripada tidak percaya akan adanya Tuhan.
Most recommended I ever watched and I beg you to watch it. Kamu gak akan nyesel untuk menontonnya, terlebih lagi apabila posisi kita yang berada dalam ombang-ambing karena terkesan selalu mengagungkan logika dan mulai goyah keimanannya. Percaya Tuhan itu ada. 
Meski saya hanya penikmat film dan bukan pengkritik, saya juga menikmati ceritanya dan pesan yang bisa saya ambil. Saya memberi rating pada film ini sebesar: 4 dari 5.